‘Corong Teko’ di Mulut Kita

0 5

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam…”

(HR
Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)

 

Kata-kata kadang lebih menyakitkan
dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, “
Al-kalaamu yanfudzu maa laa
tanfudzuhu ibaru
”, artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa
ditembus oleh jarum (hati)—atau
nyelekit,
kata orang Sunda.

 

Bukan hanya masyarakat umum, orang
selevel Ketua DPR RI bisa juga memberi komentar yang membuat rakyat mengurut
dada. Ketika Mentawai digoncang tsunami, ia menyalahkan penduduk yang tinggal
di pinggir pantai sehingga terkena tsunami.

 

Saat anggaran pembangunan gedung
megah DPR yang menuai banyak protes digodok, ia bilang pembangunan tak perlu
melibatkan pendapat rakyat. Dan sekarang, di saat negara sedang carut-marut
digerogoti benalu korupsi, ia memberi ‘solusi’ agar Komisi Pemberantasan
Korupsi dibubarkan saja dan para koruptor dimaafkan.

 

Bicara memang gampang, tapi sering
kali kita tidak memikirkan efek dari lisan kita. Bahkan, menurut penelitian,
80% pemicu kerenggangan suatu hubungan disebabkan oleh nada suara. Saya jadi
teringat analogi Aa Gym, katanya mulut kita ibarat corong teko. Teko hanya akan
mengeluarkan isi yang ada. Kalau di dalamnya air bersih, yang keluar bersih.
Sebaliknya, kalau di dalam kotor, yang keluar pun kotoran. Karenanya, lihatlah
yang keluar dari lisan seseorang, maka seperti itulah kualitas orang tersebut.

 

Tak heran jika Rasulullah saw
mewanti-wanti, “Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara
dua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka
aku menjamin untuknya surga,” (HR Bukhari).

 

Selain kemaluan, lisanlah yang
paling berpotensi menjerumuskan pada kebinasaan, sekaligus menentukan derajat
seseorang. Derajat pertama adalah orang berkualitas, bicaranya selalu
bermanfaat, sarat dengan hikmah, ilmu, solusi, atau zikir. Kedua, derajat orang
yang biasa-biasa, cirinya mudah mengomentari apa pun yang dilihat atau
didengarnya, walau tidak ada manfaatnya. Ketiga orang rendahan, ia mudah
mencela, mengeluh, dan selalu memandang dari sisi negatif. Sedangkan keempat,
orang yang dangkal, selalu menceritakan kelebihannya dan ingin terus dihargai.

 

Tak pelak lagi, kita tak mungkin
mengabaikan penjagaan terhadap anugerah Allah berupa daging tak bertulang ini.
Kiat yang utama adalah meminta bantuan Allah agar terhindar dari bahaya lisan
dan rutinkan zikir.

 

Lalu, sensitiflah terhadap orang
lain, baik perasaan atau ekspresi wajah orang yang kita ajak bicara. Tidak
layak jika kita ingin orang lain memahami isi pembicaraan kita namun kita tak
peduli apakah itu menyinggungnya atau tidak. Jika tak yakin apakah nanti
kata-kata kita bermanfaat atau tidak, maka diam adalah lebih baik. Rajinlah
beristighfar karena mungkin tanpa sadar kita masih saja mengeluarkan ‘bunyi’
yang tak bermanfaat.

Mari, jadikan lisan yang menyejukkan
sebagai salah satu target amal yang kita pertahankan setelah Ramadhan.

Meutia Geumala

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.