Cerita Tentang Anak-Anak Penghafal Quran di Tahfizh Camp Majalah Ummi 2016

0 25

Sahabat Ummi, di sela-sela waktu makan siang dan istirahat menghafal quran, saya bertanya pada beberapa anak peserta Tahfizh Camp Majalah Ummi yang diadakan di Villa Tidar Cisarua, Bogor.

“Apa cita-citamu, Nak?”

Anak laki-laki bernama Yahya ingin menjadi arsitek yang membangun mesjid. Pembalap mobil Nascar jadi cita-cita Dean yang bertubuh bongsor. Beda lagi dengan Fahim yang gaya bicaranya seperti orang dewasa, dia ingin menjadi notaris seperti ibunya. Cleo, anak perempuan yang baru 6 tahun ingin menjadi dokter.  Sakha ingin menjadi ilmuwan sedangkan Shabina ingin menjadi guru.

Setiap anak mempunya cita-cita yang berbeda. Namun ada satu persamaan dari semua anak yang saya tanyakan cita-citanya.

“Apakah kamu ingin menjadi hafizh quran, Nak?”

Semua anak menjawab dengan mantap, “Iya!”

 

Baca juga: 7 Keutamaan Penghafal Quran

 

***

Majalah Ummi kembali menggelar Tahfizh Camp untuk anak-anak berusia 6-12 tahun dari Jumat sampai Ahad, 25-27 Maret 2016. Tahfizh Camp yang kali kedua dilaksanakan ini mengajak anak-anak untuk menghafal surat An-Naba sampai surat Al Mutaffifin dengan gerakan tangan dan artinya. Kakak-kakak mentor dari komunitas Keluarga Pecinta Qur’an (KELOPAQ) masih setia menemani adik-adik peserta dalam menghafal quran.

Suasana Jumat pagi di Mesjid At-taqwa Rawamangun berbeda dari biasanya, ruang utama mesjid penuh oleh wajah-wajah bahagia sekaligus haru dari para orangtua yang melepas anak-anaknya untuk belajar menghafal quran selama tiga hari. Tidak hanya dari Jabodetabek, ada sebagian peserta juga yang datang dari berbagai kota. Bersama orangtuanya, Andhias dari Lampung mengendarai mobil sejak Kamis pagi hingga malam untuk mengikuti Tahfizh Camp ini. Ada juga kakak beradik Abror dan Bilqis dari Surabaya, Shabina dari Sukabumi serta Najla dari Purworejo.

Tongkat estafet mendidik anak pindah sejenak dari orangtua ke Kakak-Kakak panitia dan mentor Tahfizh Camp Majalah Ummi. Perjalanan dengan menggunakan bus dari mesjid At-Taqwa Rawamangun sampai ke Villa Tidar Cisarua ditempuh selama lebih dari dua jam. Setelah pembagian kamar, makan siang dan solat Jamak Taqdim dzuhur dan Ashar, mulailah anak-anak menghafal quran surat An Naba beserta arti dibantu dengan gerakan tangan.

Selama 3 hari proses menghafal quran, kolaborasi komitmen panitia Tahfizh Camp dan kesabaran Kakak Mentor KELOPAQ dalam mengajar, membuat adik-adik peserta senang dalam menghafal quran.

Di hari pertama Tahfizh Camp, anak-anak menghafal surat An Naba lalu dilanjutkan dengan murojaah yang dilakukan secara berkelompok.  Tidak lupa berbagai games dan ice breaking menyelingi proses menghafal dan mengulang hafalan agar anak-anak tidak bosan. Tak lupa para peserta juga dikenalkan dengan olahraga sunnah, berenang dan memanah yang dilakukan bergantian antara peserta laki-laki dan perempuan

Bagaimana agar anak-anak tetap fokus menghafal quran?

“Kita berikan apa maunya anak. Anak-anak ingin games, cerita lucu atau renang kita kasih semuanya pada mereka. Giliran sesi menghafal quran dan murojaah, kita minta anak untuk ikuti maunya kita.” Tutur Kak Amin. Salah satu mentor Tahfizh Camp sesi kedua ini.

Terbukti Sabtu sore, di hari kedua Tahfizh Camp ini anak-anak sudah tuntas menghafal surat An Naba sampai surat Al Mutaffifin. Setelah selesai menghafal quran, Kakak mentor tidak lantas puas begitu saja. Mereka langsung mengajak anak-anak untuk mengulang hafalan quran dengan metode gerak kinestetik tersebut. Kelebihan dari metode ini ialah, anak-anak menghafal quran sekaligus dengan artinya yang dibantu dengan gerakan tangan.  Para Kakak mentor pun cepat beradaptasi dengan anak-anak, ketika sistem murojaah per kelompok dirasa kurang maksimal. Anak-anak lalu membentuk lingkaran besar dibagi dua sisi ikhwan akhwat lalu mereka murojaah bersama. Ketika anak-anak laki-laki mengulang hafalan surat, anak-anak perempuan mengikuti dengan gerakan tangan dan sebaliknya.

Proses ini terus dilakukan hingga hari terakhir. Lewat serangkaian games dari pos satu ke pos lainnya, anak-anak kembali diajak mengulang hafalan dari surat An Naba sampai Al Mutaffifin.

Boleh jadi di kalangan umat Islam, kita memaknai hafizh quran hanya sebagai orang yang sudah hafal quran 30 juz. Tapi lebih dari itu, sesungguhnya dalam bahasa Arab hafizh bermakna yang menjaga atau yang memelihara. Jadi hafizh quran adalah orang-orang yang menjaga dan memelihara hafalan quran. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya hitungan hari, bulan atau tahun, melainkan seumur hidup.

Ketika saya bertanya apa yang paling menyenangkan dari kegiatan Tahfizh Camp ini, beberapa anak menjawab dengan begitu polos.

“Renang!”

“Dapat teman baru!”

Mungkin kalau orang dewasa yang sedang menghafal quran diberi pertanyaan seperti itu, mereka akan menjawab bahagia karena hafalannya bertambah atau jadi semakin dekat dengan al quran. Tapi anak-anak begitu jujur ketika ditanya hal yang paling menyenangkan saat Tahfizh Camp ini ya justru saat-saat bermain.

Sungguh, kesabaran para mentor dalam mengajar dan komitmen pantia untuk menyelenggarakan Tahfizh Camp telah berhasil tidak hanya anak-anak bisa menghafal quran namun juga membuat mereka menjalaninya dengan gembira.

***
Bocah Bernama Tyo

Di antara 60an peserta Tahfizh Camp, ada 7 peserta anak dhuafa yang mengikuti program ini dibiayai oleh dana CSR dari JNE dan Gramedia Printing. Ah jika memang ada niat sungguh-sungguh untuk menghafal quran, tidak hanya anak-anak dari keluarga mampu saja yang bisa mengikuti Tahfizh Camp ini. Anak-anak dhuafa pun bisa mengikutinya dari jalan yang tidak disangka-sangka, dari jalan yang Allah beri.

Di antara anak-anak dhuafa tersebut, ada bocah yang menginspirasi bernama Tyo. Waktu awal bertemu di Mesjid At-Taqwa, anak kelas 5 SD bertubuh gemuk ini begitu percaya diri bergabung bersama teman-teman lainnya. Tyo langsung mencuri perhatian saya karena di antara anak-anak laki dia salah satu yang berbadan paling besar.

Tak terlihat orangtua yang mengantar Tyo membuat saya penasaran dan bertanya padanya.

“Di antar sama siapa ke sini, Tyo?”

“Sama guru ngaji,” jawabnya pendek.

Hal yang membuat kagum pada Tyo adalah saat sesi hafalan di Jumat malam. Jarum jam sudah menunjuk angka 9, terlihat jelas hampir semua anak laki-laki tidak fokus mengikuti hafalan quran dan gerakan tangan dari Kak Shofi, mentor yang khusus mengajarkan hafalan quran. Tapi ada satu anak yang tetap fokus. Dia duduk dengan posisi tegak, matanya melotot memandang mentor, mulutnya juga terus melantunkan hafalan dan tangannya bergerak seperti yang Kak Shofi lakukan. Tyo yang tetap fokus mengikuti materi hafalan membuatnya bersinar di antara anak laki-laki yang lain. Sedangkan di sisi anak-anak perempuan, sebagian anak masih fokus mengikuti hafalan quran dari Kak Shofi.

Ketika saya mengobrol dengan panitia yang lain, baru diketahui ternyata ibu dari Tyo ini menjadi korban dari kristenisasi. Ayah kandung Tyo sendiri tidak tahu rimbanya ada di mana sekarang. Kini Tyo diasuh oleh Kakek dan Neneknya. Fakta itu benar-benar membuat hati ini terenyuh.

Ternyata Tyo tidak hanya merebut perhatian saya, Kakak Kakak mentor pun merasakan hal yang sama. Selama 3 hari terlihat jelas konsistensinya untuk menghafal quran. Hingga di hari terakhir, dia terpilih menjadi peserta ikhwan terbaik.

Acara Tahfizh Camp pun ditutup dengan pembagian sertifikat dan foto bersama mengenakan wardrobe dari sponsor Zenita dan Qirani. Setelah solat jamak takdim Dzuhur Ashar, para peserta lalu naik bus untuk kembali ke Mesjid At Taqwa Rawamangun. Sebagian anak ada yang dijemput dengan orangtuanya di lokasi Villa Tidar Cisarua, Bogor.

Ahad jam 3 sore bus yang mengantar anak-anak peserta Tahfizh Camp sampai ke Mesjid At Taqwa Rawamangun. Orangtua yang sudah menunggu berhamburan memeluk anak-anaknya yang turun dari bus. Sungguh pemandangan yang indah.

Jika waktu diulang kembali ke 2 hari sebelumnya, saat briefing Tahfizh Camp sebelum anak-anak berangkat naik bus. Ibu Dwi Septiawati, Direktur Ummi Grup Media, berujar penuh harap, “Al quran adalah solusi jawaban dari persoalan angka kejahatan tinggi, narkoba, miras, HIV AIDS dan kekerasan seksual pada anak. Anak-anak yang tumbuh dengan kecintaan pada al quran, akan membenci kemaksiatan dan insya Allah terhindar dari hal-hal buruk. Ibu doakan anak-anak peserta Tahfizh Camp akan tumbuh jadi insinyur, gubernur, dan presiden yang hafal al quran.”

Impian akan adanya generasi penghafal quran, jika melihat anak-anat peserta Tahfizh Camp yang begitu gembira dalam menghafal quran ini, rasa-rasanya akan terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi.

Jangan disangka anak-anak ini menghafal quran karena dipaksa-paksa oleh orangtua. Sebagian anak saya tanya, ketika mereka ditawari orangtuanya untuk mengikuti Tahfizh Camp ini mereka menginginkannya dari diri sendiri bukan karena dipaksa.

Pengorbanan orangtua untuk memfasilitasi anaknya menghafal quran, komitmen panitia dalam menyelenggarakan acara Tahfizh Camp, kesabaran kakak mentor dalam mengajar dan terakhir keikhlasan anak-anak dalam belajar al quran telah membuat acara Tahfizh Camp ini berjalan dengan lancar. Alhamdulillah.

Oya ada satu yang terlewat. Saya juga bertanya pada Tyo tentang cita-citanya. Tidak seperti anak-anak lain, dia berpikir setengah mati untuk menyebut satu saja profesi yang dicita-citakannya.

“Apa cita-cita Tyo?”

“Aduh nggak tahu. Belum tahu. Semua pelajaran di sekolah bisa kok.” Jawabnya.

“Yeee. Cita-cita Tyo apa?”

“Belum tahu.” Jawabnya lagi. Untuk menyebut satu pekerjaan aja begitu berat buat dia.

Lalu saya pun menanyakan hal yang berbeda. Bertanya tentang cita-cita yang tidak saja diharapkan anak-anak peserta tahfizh camp, tapi juga cita-cita yang diharap orang tua pada anaknya, didamba guru pada muridnya, bahkan yang sangat diimpikan umat pada generasi penerusnya.

“Apa Tyo ingin jadi penghafal quran?”

“Ya. Tyo ingin jadi penghafal quran.” (Agung)

Artikel terkait:

Orang Tua Asuh untuk Para Santri Penghafal Qur’an Askar Kauny

Inilah Etika Orang yang Hafal Quran

Tips menghapal Al-Quran Bagi Ibu Rumah Tangga

 

 

 

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.