Benarkah Hubungan Intim Mempengaruhi Keharmonisan Rumah Tangga?

0 304

Sahabat Ummi, saat berdiskusi dengan teman-teman di grup fikih wanita, terkuak beberapa pendapat mengenai apakah sebenarnya hubungan intim suami istri itu pada dasarnya akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Rata-rata mereka mengatakan memang sangat berpengaruh, dan beberapa diantara mereka menyatakan jika itu bukan hal terpenting dalam keharmonisan rumah tangga.

Tapi, pernahkah Anda amati, jika salah satu sebab yang menjadikan retaknya hubungan rumah tangga, walau tidak terlihat secara terang-terangan, adalah ketidaksesuaian dalam hal berhubungan intim? Jawabannya memang benar. Terkadang salah satu penyebab yang membuat keharmonisannya sedikit terganggu adalah saat adanya ketidaksesuaian mengenai hubungan intim pada satu waktu. Entah saat menginginkan hubungan intim, suami tidak menyebutkan secara sharih hingga istri tidak paham, atau salah satu pihak malah sakit, banyak pekerjaan, atau gangguan lainnya.

Ada beberapa hal yang membuat hubungan intim itu mempengaruhi keharmonisan:

1. Jika salah satu pihak tidak menganggap penting dengan hubungan itu, melakukannya hanya sebatas kewajiban saja, maka hubungan intim itu lambat laun seperti orang yang tengah bernafas. Mereka baru menyadari jika bernafas itu penting saat mengalami gangguan kesehatan, maka hal itu terlambat. Padahal jika dirunut, syukurilah nafas yang diberi Allah setiap hirupnya agar tahu jika betapa pentingnya pernafasan bagi manusia. Begitu pula dengan hubungan intim, jika setiap melakukannya selalu sepenuh hati, maka hasilnya akan luar biasa.

2. Sadarilah, jika hubungan intim itu bukan sekedar meluapkan hasrat. Jika Anda hanya sekedar meluapkan dan selesai, berapa seringnya Anda melakukannya, tidak akan memaksimalkan tujuan dari hubungan intim itu. Makanya, Islam selalu menyatakan jika Istri itu memang sebagai ‘penyenang’ untuk suami. Senang bukan hanya saat melakukannya saja, tapi setelah melakukan ada sesuatu yang tertinggal, yakni rasa kasih sayang. Dan Al Qur’an sudah terbahaskan mengenai hal ini, seperti doa yang terpanjat setelah shalat:

 (Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertaqwa)

 

Baca juga: 5 Bentuk Pendahuluan dalam Berhubungan Intim yang Disunahkan oleh Rasulullah

 

Rasa kasih sayang yang terbentuk, memberi merima, saling paham jika mencintai itu adalah rahmat yag harus dijaga, akan sangat terlihat sesuai hubungan intim. Namun jika selanjutnya biasa-biasa saja, taruhlah hubungan intim seperti itu adalah ‘gagal’.

3. Jangan memaksa berhubungan intim saat marah, banyak pikiran atau memang tak ada keridhaan antara keduanya. Hubungan yang seperti ini hanya hubungan asal-asalan yang tidak tercapai tujuan sebagai ‘penyenang’ jiwa dan raga.

Ada satu hal saat istri meminta ridha suami, hal ini menandakan urusan harus cepat selesai sebelum keduanya beranjak ke ranjang. Tapi terkadang saat ada kemarahan atau perasaan mengganjal lainnya, ego masing-masing malah ditonjolkan. Salah satu enggan mengalah apalagi seperti yang dianjurkan Rasulullah, agar mendapat surga.

Hadist Rasulullah yang artinya: ”Maukah kalian ku beritahu istri-istri yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, di mana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ” Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai)

4. Hendaklah suami memperlakukan istri dengan baik, dan memberikan kesempatan yang sama untuk menikmati hubungan itu. Sebaiknya suami mulakukan mubasharah atau foreplay terlebih dahulu, dan ini memang anjuran Rasulullah:

 “Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu ray.” (HR. Tirmidzi)

Ada satu kecenderungan beberapa pasangan bukan karena ia hanya mementingkan dirinya sendiri saja, namun karena ketidaktahuan jika sebenarnya dalam berhubungan intim memang diperlukan pemanasan, agar suami terutama istri merasa nyaman. Karena ada yang langsung ke intinya, dan langsung meninggalkan istrinya dengan tertidur.

Istri yang tidak merasakan nyaman dengan hubungan itu kadang kala memendam masalah yang terlihat sepele ini dalam jangka waktu lama hingga akhirnya menjadi bom waktu yang berdampak negatif untuk pernikahan.

5. Saling memberikan hak bersama dalam berhubungan intim. Hak yang dimaksud adalah merasakan kenikmatan bersama, bukan hanya salah satu pihak. Untuk itu diharapkan para suami bersabar untuk bersama-sama merasakan puncak itu. Hal ini juga karena merupakan anjuran Rasulullah:

Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

Nah satu hal ini juga sering tidak disadari oleh para suami, karena pada dasarnya wanita memerlukan waktu yang lama untuk bisa mengimbangi suaminya. Perbedaan persepsi saat wanita malu membicarakan mengenai hal ini membuat kenyamanan dalam berhubungan intim menjadi terganggu.

6. Menjalin komunikasi dengan suami agar menghindari perkara salah persepsi. Ini sebenarnya malah poin yang terpenting. Tak peduli berapa lama usia perkawinan Anda, jika saat berhubungan intim hanya berpedoman dengan pengetahuan sendiri, kesenangan dan kenikmatan sendiri saja, maka hal ini akan sia-sia. Katakan dengan jelas, waktu untuk melakukan hubungan intim, juga komunikasikan dengan jelas seperti apa hubungan intim yang diinginkan masing-masing pihak, tidak perlu malu atau sungkan karena pasangan Anda adalah sah dimata Allah.

7. Jadikanlah hubungan intim sebagai energi positif dan baik untuk menjalin rasa kasih sayang dan cinta yang bertambah antara suami istri, bukan sebaliknya. Hubungan intim yang sukses adalah berimbas pada setelahnya, yakni akan membuat semangat hari-hari dan memberikan kebahagiaan yang luar biasa pada pasangan tersebut.

Harmonis dalam rumah tangga memang tak semudah membalik telapan tangan. Jadikan banyak sisi dalam pernikahan sebagai amunisi yang akan merekatkan hubungan suami istri, termasuk dalam hal jima’ ini. Jangan sepelekan masalah ini karena salah paham, miskomunikasi, tidak tahu keinginan dan maksud pasangan, hubungan intim yang cepat selesai, cepat tidur tanpa pedulikan pasangannya bisa membuat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak jika salah satu pihak menganggap hal ini adalah bagian sangat penting dalam kehidupan.

Referensi: dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

 

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.