6 Alasan yang Sebaiknya Dipahami Suami Jika Istri Bekerja

By | May 13, 2016

“Mencintai dunia akan merusak akal, membisukan hati dari mendengarkan hikmah, dan menyebabkan siksaan yang pedih.” (Ali bin Abi Thalib)

Sebelum menyalahkan istri yang ngotot ingin bekerja dan sebelum melarang istri dengan cukup keras untuk tidak bekerja, ada baiknya kalau para suami mengetahui latar belakang mengapa istri mereka ngotot ingin menghasilkan uang sendiri. Dengan mengetahui alasannya, para suami mungkin bisa lebih mudah mencari solusi. Karena kenyataannya, alasan tiap istri ingin menghasilkan uang sendiri itu beragam, tidak hanya yang berhubungan dengan materi saja.

 

Baca juga: Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang?

 

Setidaknya, ada enam hal yang harus diketahui suami mengapa istri mereka ngotot ingin bekerja atau menghasilkan uang sendiri, yaitu:

1. Ingin mengaplikasikan ilmu yang dipelajari selama di kampus

Istri tidak ingin ilmu yang dipelajari selama ini sia-sia bila “hanya” menjadi ibu rumah tangga full time. Kenyataannya, zaman sekarang masih saja ada atau bahkan masih banyak istri yang berpikiran seperti ini. Mereka berpendapat buat apa kuliah susah-susah dan bersekolah tinggi bila pada akhirnya hanya untuk mengurus rumah tanpa ada kegiatan yang berarti. Apalagi, pemikiran semacam itu (istri tidak bekerja sama dengan tidak berarti), semacam sudah “diwariskan” secara turun-temurun.

Perasaan tersebut juga muncul dari sisi orangtua. Tak sedikit orangtua yang kecewa ketika si anak lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga full time. Orangtua merasa ilmu sang anak sia-sia karena tidak diamalkan. Bahkan, orangtua kadang merasa malu pada kolega, mitra bisnis, dan kenalan lainnya, jika anak perempuannya yang sudah disekolahkan tinggi-tinggi itu hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Sementara dari sisi sang anak, dia juga dilema, bingung antara menuruti suami atau kedua orang tua. Padahal, tentu saja bila bisa memilih, sang anak pastilah memilih untuk membahagiakan keduanya, baik suami maupun orang tuanya, terlepas dari keharusan bahwa istri wajib menaati suaminya setelah menikah.

2. Tidak ingin diremehkan baik oleh orang tua, teman, maupun mertua, apalagi suami

Ada lagi seorang istri yang ngotot ingin bekerja padahal sang suami sudah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga “hanya” karena ia tidak mau diremehkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa jadi, di masa-masa lugu, ia sering menerima omongan yang tidak enak didengar dan menohok sehingga timbul pemberontakan dalam hatinya untuk melawan, salah satunya adalah dengan menunjukkan eksistensinya sebagai seorang wanita dan istri yang mandiri dan berdikari.

Dia bekerja tak semata-mata untuk mencari uang, bahkan mungkin tak terlalu mementingkan seberapa besar uang yang akan ia terima. Ia bekerja hanya untuk membuktikan bahwa dia ada dan tidak bisa dianggap sebelah mata “cuma wanita”. Jadi, janganlah heran bila kita menjumpai seorang istri yang sudah memiliki suami mapan namun masih tetap bekerja keras karena bisa saja alasannya adalah terkait masalah eksistensi.

3. Merasa tidak aman bila tidak bekerja atau melakukan kegiatan yang menghasilkan uang

Ada seorang istri yang belum merasa aman sekalipun sudah memiliki suami mapan bila ia sendiri tidak berpenghasilan. Hidupnya selalu dibayangi dengan ketakutan dan ketakutan karena terlalu sering melihat penderitaan orang-orang di masa lalu dan ia khawatir akan diperlakukan sama jika tidak memiliki power. Beberapa ketakutan tersebut misalnya:

a. bila aku tidak kerja pasti aku akan diremehkan suamiku;

b. bila aku tidak kerja, suamiku akan dengan mudah memperlakukan aku seenaknya;

c. nanti bagaimana bila aku dan suamiku bercerai sementara aku tidak memiliki apa-apa;

d. bagaimana bila suamiku selingkuh dan pergi meninggalkanku dengan tidak bertanggung jawab sementara aku tak memiliki simpanan untuk menjamin kelangsungan hidupku;

e. bagaimana bila suamiku pelit bahkan untuk bernafas saja harus izin;

Ketakutan-ketakutan tersebut membuat banyak wanita memiliki semacam perjanjian dengan dirinya sendiri, yakni ia harus bisa menghasilkan uang dan harus mandiri entah dengan jalan dan cara seperti apa. Dengan memiliki penghasilan sendiri, mereka berpendapat kegalauan-kegalauan seperti di atas bisa diminimalisir.

4. Alasan finansial

Di antara alasan-alasan sebelumnya, mungkin alasan yang keempat ini adalah alasan yang paling logis. Masalah finansial menjadi salah satu alasan kuat mengapa suami istri sama-sama memilih untuk bekerja. Menurut mereka yang memilih alasan ini, hidup harus realistis. Bila memang penghasilan suami tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga mengapa harus malu untuk mengakui. Suami dan istri adalah partner yang bila salah satu membutuhkan bantuan maka yang lain harus siap membantu.

Mahalnya biaya pendidikan, meningkatnya kebutuhan pokok, serta alasan lain yang masih berhubungan menjadikan mereka harus lebih keras lagi dalam mengais rizki. Kata mereka yang memilih alasan ini, bila pernikahan diibaratkan seperti mobil, maka mobil yang memiliki dua gas akan lebih cepat sampai bila dibandingkan dengan mobil yang hanya memiliki satu gas. Meski kenyataannya tidak selalu seperti itu, ya.

5. Refreshing

Kalau hanya di rumah saja stress donk! Gak bisa gaul dan kenal dengan banyak orang!”

Alasan yang mungkin tidak terlalu penting dibandingkan dengan alasan sebelumnya namun kenyataannya banyak juga pasangan yang memiliki alasan tersebut untuk membenarkan tindakan mereka yang sama-sama bekerja. Sebagai istri, adalah wajar bila kita merasa bosan bila harus berada di rumah sepanjang hari tanpa melakukan kegiatan apapun. Kita juga akan merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat yang kita suka dan akibatnya kita bisa menjadi stres.

 

Bekerja, dianggap sebagai salah satu cara untuk “merelaksasikan” diri dari rutinitas rumah tangga. Tak perlu seharian bekerja toh tujuannya memang bukan untuk mencari uang, satu hingga tiga jam saja berada di luar rumah untuk bekerja, maka suasana hati yang kita rasakan akan berbeda dengan sebelumnya. Bila bagi banyak orang umumnya bekerja dianggap sebagai sebuah tekanan, namun ada juga yang menganggap sebaliknya. Dimarahi dan dikritik karena berbuat sesuatu itu masih jauh lebih membahagiakan dan membanggakan daripada dimarahi dan dikritik karena tidak berbuat apa-apa.

6. Ingin memberikan kontribusi (alasan idealis)

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” (HR. Bukhari)

Seorang wanita yang sudah menikah tetap ingin bekerja karena ia ingin memberikan kontribusi kepada lingkungan. Ia ingin ilmu yang dimilikinya bermanfaat sehingga ia bekerja. Seorang wanita yang sudah menikah kemudian bekerja menjadi pengajar, penulis buku anak-anak, atau penerjemah, misalnya, ternyata alasannya karena ia ingin ilmunya mengalir dan menyebar ke mana pun dan ke mana saja. Atau, seorang wanita yang sudah menikah memilih untuk menjadi pengusaha rumahan, ternyata karena ia ingin berkontribusi mengurangi pengangguran.

Bagaimana, para suami? Dengan memahami beberapa alasan istri secara umum mengapa mereka ngotot untuk bisa berdikari, menghasilkan uang sendiri, mandiri, atau apapun sebutannya, mungkin para suami akhirnya bisa menemukan solusi seperti apa memberitahu, meyakinkan, dan mendidik istrinya dengan cara halus dan lembut.

“Berbuat baiklah kepada wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka, sikapilah para wanita dengan baik.” (HR. Bukhari)

Referensi:

1. Ariefiansyah, Miyo. 2012. Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Miyosi Ariefiansyah adalah penulis buku “Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa” dan pemilik blog http://rumahmiyosi.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *