4 Hal yang Sebaiknya Diperhatikan Suami dalam Urusan Keuangan Keluarga

By | May 12, 2016

“Yang terbaik di antara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang terbaik terhadap istriku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ummi, tak bisa dipungkiri bila masalah materi merupakan masalah yang cukup atau bisa jadi adalah masalah krusial bagi suami istri. Perbedaan latar belakang, pendidikan, suku, dan karakter turut “menyumbang” perbedaan cara pandang terhadap hal yang bersifat krusial tersebut. Bila pada awalnya suami istri mungkin tidak mempermasalahkan urusan yang berhubungan dengan uang, namun seiring dengan waktu, masalah tersebut akan muncul dengan sendirinya.

 

Baca juga: Ini Dia Tips Hemat Berbelanja

 

Terlebih bila ada campur tangan pihak ketiga, seperti istri atau suami masing-masing masih memiliki tanggungan. Hal-hal seperti itu yang kemudian menjadi bumerang, baik bagi orang yang belum menikah maupun yang sedang dan baru saja menikah. Mirisnya, masalah perbedaan pemahaman dan cara pandang tersebut membuat banyak pasangan suami istri baru yang pada akhirnya memilih sendiri-sendiri, tidak peduli, bahkan bercerai. Atau bagi mereka yang belum “terlanjur” menikah memilih untuk tidak menikah dengan alasan tidak mau ribet dan ribut.

Dalam kondisi tersebut sering di-judge bahwa pihak istri sebagai pihak yang dirugikan. Misalnya, bila sebelumnya si istri memiliki uang lebih karena bekerja sendiri sehingga bisa membantu keluarganya, namun setelah bersuami, sang istri harus rela keluar dari pekerjaan dan mengurus keluarga. Dan itu artinya, sang istri hanya mengandalkan penghasilan dari suami saja. Padahal, tak hanya pihak istri saja yang sebenarnya bisa berada dalam dilema. Suami pun bisa merasakan hal yang sama. Bayangkan bila kita adalah suami. Apa yang akan kita rasakan bila kita tahu bahwa ternyata istri kita menikahi kita karena harta? karena ia tidak mau hidup sengsara lagi? karena ia ingin menjadikan kita sebagai “alat” untuk menanggung biaya hidup semua keluarganya? Secinta-cintanya kita kepada istri kita, apa yang kita rasakan ketika kita mengetahui kenyataan tersebut.

Itu sebabnya, adalah penting bagi kedua belah pihak baik yang belum, akan, dan ingin menikah atau baru menikah, untuk memahami dari hati ke hati.

Bagi suami/calon suami, setidaknya ada 4 hal yang seharusnya diperhatikan sehubungan dengan masalah keuangan keluarga, yaitu:

1. Memberi nafkah

“Hak-hak wanita atas kalian (para suami) ialah memberi nafkah, menyediakan sandang dengan cara yang baik.” (HR Abu Dawud)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Annisa: 34)

Tak bisa diragukan lagi bahwa suami wajib memberi nafkah kepada keluarganya. Bila ia belum memiliki anak, maka ia wajib menafkahi istrinya. Sedangkan bila ia sudah memiliki anak maka ia wajib menafkahi istri dan anaknya.

Nafkah di sini memiliki pengertian nafkah berupa materi dan nafkah berupa non materi atau nafkah batin. Namun, tentu saja pemaknaan “wajib memberi nafkah” tersebut tak bisa ditelan bulat-bulat.

Dalam praktiknya, bagaimana bila kondisi suami tidak memungkinkan untuk memberi istri nafkah yang layak? Atau, bagaimana bila suami tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup istrinya padahal ia sudah berjuang keras mengandalkan seluruh kekuatannya? Atau, bagaimana bila usaha suami tiba-tiba bangkrut?

Dalam sebuah ayat Al-Quran Surat Ath Thalaq ayat 7 disebutkan seperti ini:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya. Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Kewajiban suami memberi nafkah kepada istri adalah mutlak. Seberapapun besarnya seorang suami tidak dibenarkan bergantung kepada sang istri, terutama bila ia masih sangat mampu untuk memberi nafkah. Kewajiban untuk menafkahi keluarga tersebut semata-mata bukan hanya untuk kepentingan istri atau anak, namun juga untuk dirinya sendiri. Suami akan terjaga kehormatan dan wibawanya ketika ia memiliki semangat yang luar biasa dan berusaha semaksimal mungkin untuk menafkahi keluarganya. Tak peduli seberapa besar yang ia berikan, yang paling penting adalah usaha yang suami lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kalaupun penghasilan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, toh setidaknya sang suami sudah berusaha semaksimal mungkin.

2. Tidak mengungkit-ungkit apa yang sudah diberikan kepada istri

“Coba kalau kamu gak nikah sama aku, mana mungkin kamu bisa beli ini dan itu!”

“Masih untung kukasih duit!”

“Kalau bukan karena aku yang kerja…!”

dan ungkapan-ungkapan lainnya yang sejenis.

Di zaman modern seperti sekarang ini, nyatanya masih banyak ungkapan-ungkapan seperti contoh di atas yang diucapkan oleh suami kepada istrinya. Sang suami merasa berjasa karena sudah mencukupi kebutuhan hidup istrinya sehingga bisa berkata dan berbuat semena-mena. Padahal, tidak dibenarkan siapapun termasuk seorang suami mengungkit-ungkit pemberiannya kepada orang lain termasuk istri.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Al-Baqarah: 207)

“Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya, Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu,” (Asy- Syuura: 12)

Maka, apakah benar sikap suami yang mengungkit-ungkit harta yang diberikan kepada istri berapapun banyaknya, padahal apa yang ia dapatkan sesungguhnya adalah titipan Allah.

Allah berhak menambah, mengurangi, dan mencukupkan apa yang Dia miliki. Sudah seharusnya bila suami tidak mengumum-umumkan apa yang sudah ia berikan kepada istri karena selain hal tersebut menandakan bahwa sang suami sombong juga karena hal tersebut (menafkahi keluarga) adalah tanggung jawab dari seorang suami.

3. Tidak pelit kepada istri

Suami pelit dan sangat perhitungan kepada istri, padahal kepada orang lain dia sangat baik dan loyal. Suami selalu menghitung apa-apa yang diberikannya kepada sang istri, padahal ia tak pernah menghitung apa-apa yang diberikan kepada orang lain. Suami selalu mengawasi apa yang istrinya lakukan sehubungan dengan masalah keuangan, padahal ketika sang istri bertanya pertanyaan serupa ia langsung marah besar karena merasa sang istri tidak berhak menanyakan hal itu. Ia juga membiarkan sang istri mengemis dan memohon-mohon kepadanya bilamana ada kekurangan uang dalam hal pemenuhan kebutuhan keluarga.

Pada praktiknya, memang banyak istri yang mengeluhkan sikap suaminya yang pelit. Sang suami bekerja di tempat yang mapan, namun ia hanya memberikan sedikit dari penghasilannya tersebut kepada istrinya, selebihnya berada pada kekuasaan suami.

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus (ditebus) dengan pahala sholat, haji, dan sedekah namun hanya dapat ditebus dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah.” (HR. Athabrani)

Tidak dibenarkan seorang suami bersikap sombong dan mentang-mentang apalagi sampai merendahkan istrinya dengan memonitor secara berlebihan masalah keuangan kepada sang istri. Sesungguhnya bersikap ikhlas dan total dalam mencari nafkah semata-mata tidak hanya untuk kebaikan keluarga namun juga untuk diri suami itu sendiri. Bila sang suami merasa kesulitan dalam mencari nafkah yang halal, maka kesulitan dan usahanya itulah yang menjadi ladang amal bagi dirinya. Bila sang suami sudah bekerja sebegitu kerasnya lalu mendapatkan hasil dari kerja kerasnya tersebut, dan kemudian hasil tersebut diserahkan kepada istrinya, sesungguhnya hal tersebut adalah cara Allah yang ingin mengajarkan pada umat-Nya terlebih suami akan makna keikhlasan dan pengorbanan.

Bukankah Allah yang memberikan semua rizki dan nikmat kepada hamba-Nya. Jadi pantaskah seorang hamba menghitung apa-apa yang ia keluarkan untuk hal kebaikan terlebih bila itu sudah menjadi kewajiban. Seorang suami tidak seharusnya merasa paling berjasa dan banyak berkorban karena sesungguhnya pengorbanan sang istri juga tidak sedikit. Semua sudah digariskan oleh Allah dan Allah Maha Adil dan yang paling tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

4. Mencari nafkah dengan cara yang halal

Mungkin kita sering mendengar ungkapan atau celotehan seperti ini “Cari yang haram saja susah kok mau cari yang halal!”

Banyak kasus di mana seorang suami tega mencari nafkah yang tidak halal untuk keluarganya karena tergoda dengan kenikmatan sesaat. Tekanan dari keluarga terutama istri juga bisa memicu suami untuk mencari jalan pintas seperti ini. Padahal, nafkah yang kita berikan kepada keluarga akan sangat mempengaruhi karakter serta tabiat keluarga kita, termasuk juga kita. Bila kita memberikan nafkah yang haram kepada keluarga, maka keberkahan dan ketentraman hati tidak akan mungkin bisa kita dapatkan. Tentu kita sering melihat banyak keluarga bergelimang harta namun rumahnya seperti di neraka. Di sisi lain ada juga keluarga yang sederhana namun  terlihat sangat bahagia. Tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah,”

Referensi:

1. Ariefiansyah, Miyo. 2012. Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Miyosi Ariefiansyah adalah penulis buku “Hartamu Hartaku, Hartaku Punya Siapa” dan pemilik blog http://rumahmiyosi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *