3 Hikmah yang Harus Kita Pelajari dari Event Makan Mayit

By | March 3, 2017

Sahabat Ummi, pernah mendengar adanya event makan malam bertajuk “Makan Mayit”? Acara yang dinyatakan sebagai 'karya seni' untuk eksperimen propaganda ini menyajikan makanan vegetarian di dalam perut dan kepala boneka bayi, seolah-olah itu adalah organ dalam sang bayi, lalu puding berbentuk janin dan juga otak bayi yang dibuat nampak seperti berdarah-darah. Astaghfirullah.

Event ini menuai banyak kecaman dan protes masyarakat, termasuk dari menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang menyatakan event Makan Mayit ini telah melanggar norma kepatutan, kesusilaan, dan agama. Karena negara melindungi anak-anak Indonesia sejak dari dalam kandungan.

Akan tetapi, selain memprotes event kanibalisme ini, sebenarnya selalu ada hikmah yang semestinya kita renungkan, 3 di antaranya sebagai berikut:

 

1. Bahaya propaganda

Sesuatu yang didengungkan terus-menerus, dibiarkan dipromosikan di mana-mana, lama-kelamaan akan melunturkan sensitivitas kita terhadap sesuatu tersebut.

Misalnya soal perceraian dan perselingkuhan. Awalnya perceraian, perbuatan selingkuh adalah sesuatu yang 'luar biasa' negatif, tapi karena selebritis melakukannya dan terus-terusan disorot media, akhirnya masyarakat tidak lagi menganggap perceraian dan perselingkuhan sebagai aib, seolah-olah itu hanyalah hal yang biasa saja.

Demikianlah propaganda bekerja secara halus dan sering tidak disadari. Awalnya orang membuat makanan disajikan di atas pispot, lalu membuat makanan mirip kotoran manusia, lama-lama membuat dalam bentuk janin, jika terus dibiarkan maka kepekaan masyarakat terhadap hal ini bisa meluntur, dan manusia semakin kehilangan kemanusiaannya.

Harus ada tindakan tegas untuk mencegah propaganda negatif ini meluas. 

 

2. Pentingnya nahi munkar

Setiap muslim punya kewajiban mencegah kemungkaran. Sehingga mendiamkan terjadinya kemungkaran bukanlah pilihan bagi kita yang beriman. 

Jika di masa mendatang kejahiliahan kembali dilakukan, mengubur hidup-hidup bayi dan anak perempuan, bukankah bisa jadi 'diamnya' kita terhadap event tak patut seperti ini ikut memberikan sumbangsih?

 

3. Sadari eksistensi para penyembah setan

Menjadikan bayi/anak sebagai tumbal merupakan salah satu ritual pemujaan setan, dan nyata dilakukan oleh para penyembah setan. Dan perbuatan yang mengimitasi ritual ini sama sekali tidak bisa disebut seni.

Pada kesaksian Jim Stone, seorang jurnalis berkebangsaan Amerika-Kanada, tentang ritual pemujaan setan di dunia Barat dengan tumbal (korban persembahan) bayi/anak, menjelaskan tumbal bayi/anak untuk Lucifer (Iblis) adalah bukti taatnya mereka pada Iblis. (Sumber: Kompasiana)

Jadi sebenarnya, event Makan Mayit ini bisa menjadi alarm bagi kita yang mengaku sebagai 'hamba Allah', bahwa ada banyak 'hamba setan' di luar sana yang mencoba menyeret generasi muda untuk melakukan hal-hal nyeleneh.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *