10 Hal yang Sebaiknya Diperhatikan Istri dalam Urusan Keuangan Keluarga

By | May 12, 2016

Sahabat Ummi, tidak hanya suami saja ternyata yang harus tahu akan kewajibannya yang berkaitan dengan masalah keuangan keluarga, namun juga istri. Bisa jadi sikap suaminya yang pelit kepada istri disebabkan karena sikap istrinya yang tidak amanah. Atau mungkin sikap suami yang malas bekerja disebabkan oleh sikap istrinya yang suka meremehkan dan memandang rendah.

Bagaimanapun juga pernikahan adalah penggabungan dari dua karakter yang berbeda. Tanggung jawab dalam sebuah pernikahan tak hanya diserahkan pada satu pihak saja. Pun dalam mengelolanya. Tugas suami tak hanya mencari nafkah lalu selesai. Pun tugas istri tak hanya membelanjakan uang pemberian suami. Bila istri adalah staf akuntansi yang bertugas membuat laporan keuangan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga, suami adalah auditor. Begitu pula sebaliknya. Ada kalanya sang istri menjadi auditor keuangan rumah tangga sementara suami adalah staf akuntansinya. Suami dan istri adalah satu kesatuan yang harus saling mengisi dan bersinergi.

 

Baca juga: 4 Hal yang Sebaiknya Diperhatikan Suami dalam Urusan Keuangan Keluarga

 

Untuk mewujudkan hal itu, ada sepuluh poin penting yang sebaiknya diperhatikan istri dalam urusan keuangan keluarga, yaitu:

1. Hidup sederhana atau tidak berlebihan

Sekalipun sebagai istri hidup kita sudah dijamin oleh suami, namun hal tersebut bukan berarti kita bisa berbuat sesuka hati. Kita tak bisa dengan mudah men-judge bahwa suami kita tak bisa memenuhi kebutuhan keluarga ketika semua yang kita inginkan nyatanya tak bisa dipenuhi oleh suami. Jauhkanlah sikap mentang-mentang dan merasa berhak “memeras” suami hanya karena kita tahu bahwa suami wajib menafkahi istri. Tidak bijak pula bila kita terus- menerus merongrong suami dengan permintaan-permintaan yang di luar kemampuan hanya karena kita berpedoman bahwa suami wajib memberi nafkah kepada istri.

Perilaku suami sedikit banyak juga dipengaruhi oleh perilaku istri. Bayangkan bila setiap hari kita meminta hal-hal di luar kewajaran hanya karena kita tidak tahan melihat tetangga kita yang selalu memiliki barang-barang terbaru dan termahal. Bayangkan bila setiap hari suami mendengarkan keluhan kita bahwa dia “kurang jantan” sebagai suami karena tak bisa membelikan ini dan itu seperti suami sahabat atau tetangganya.

Tentu, keluhan-keluhan dan bahkan tuduhan-tuduhan semacam itu akan melukai harga diri suami sebagai pemimpin keluarga. Dan bukannya tidak mungkin sang suami akan berbuat hal-hal yang melanggar norma “hanya” karena sang istri yang tidak bisa menjaga lidahnya. Misalnya, suami korupsi atau melakukan tindak kecurangan demi memulihkan nama baiknya di depan istri demi memanjakan istrinya atau demi memenuhi kebutuhan istrinya. Suami mana pun dan sesabar apapun juga pasti akan memberontak dan merasa terinjak-injak ketika istrinya membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih mampu.

Coba kita tengok kisah Ibunda Fatimah Az-Zahra, salah satu perempuan yang dijamin oleh Allah untuk masuk surga. Ibunda Fatimah, puteri Rosulullah rela hidup sederhana setelah ia menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Padahal, beliau adalah puteri dari seseorang yang sangat diagungkan dan dihormati. Beliau melakukan semua pekerjaan rumah tangga padahal bisa saja beliau bersikap mentang-mentang karena beliau memang cantik, cerdas, dan juga mampu.

Namun, tentu saja Ibunda Fatimah tidak melakukannya. Beliau lebih memilih hidup sederhana dan apa adanya. Baginya, mengabdi pada suami adalah sebuah keharusan. Menerima suami dalam kondisi apapun, menyemangati suami ketika sang suami lelah, serta bersyukur dengan segala sesuatu pemberian suami sebesar apapun itu, adalah suatu hal yang terindah yang dilakukan oleh seorang istri. Kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali tetap rukun hingga akhir hayat padahal dari sisi materi mereka berdua bukan termasuk keluarga yang bergelimang harta.

Bila Ibunda Fatimah Az-Zahra, wanita agung yang dijamin masuk surga, yang memiliki segala macam kelebihan dan keistimewaan saja tetap bersikap rendah hati dan hidup sederhana, lalu siapakah kita. Bila saat ini kita adalah seorang istri, pantaskah kita menuntut berbagai macam hal yang tidak mungkin bisa dipenuhi oleh suami kita saat ini. Karena sesungguhnya memotivasi suami tidak sama dengan menekan suami dan memaksa suami melakukan hal-hal di luar kemampuannya.

2. Tidak membanding-bandingkan

Membanding-bandingkan suami dengan orang lain akan melukai perasaan dan harga diri suami. Respon yang diterima oleh suami bisa dua kemungkinan. Yang  pertama, suami akan down karena merasa dirinya tidak berguna terbukti dengan ketidakbisaannya sang suami mencukupi keperluan keluarga. Yang kedua, suami bisa mencari jalan pintas untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah suami yang payah melainkan suami yang pantas untuk diandalkan. Itu sebabnya, hindarilah sikap suka membanding-bandingkan baik disengaja maupun tidak yang berhubungan akan hal ini di depan suami. Ketika salah satu pihak dalam keluarga merasa sudah tidak dihargai lagi, di saat itulah perpecahan biasanya akan muncul.

3. Tidak menyindir

Menyindir suami yang tidak mampu menafkahi kita secara lahir dan batin baik dengan sindiran halus maupun kasar juga bisa menyinggung perasaan suami. Bilapun kita ingin mengungkapkan ketidaksukaan kita, sebaiknya kita mengungkapkannya dengan cara yang halus. Kelembutan seorang istri sesungguhnya adalah kekuatannya. Suami yang keras tidak akan mempan bila diberi kata-kata yang keras juga.

4. Menyepelekan

Sudahlah, suamiku memang tak bisa diharapkan!”

Sering kali istri berkata seolah-olah pasrah dan menerima suami “apa adanya”, padahal kata-kata yang dikeluarkan oleh sang istri tersebut sejatinya bisa membuat suami tersinggung dan merasa tak dihargai. Bagaimana rasanya ketika seorang suami sudah bersusah payah bekerja dan membanting tulang mencari nafkah, lalu sang istri yang merasa tidak puas berkata seperti itu. Karena kata-kata yang keluar dari mulut sang istri adalah kekuatan serta “bahan bakar” bagi suami maka sudah seharusnya bila sang istri tidak berkata sesuatu yang membuat harga diri suami terinjak-injak. 

5. Membicarakan suami di belakang

Salah satu ciri orang munafik adalah berkata dusta atau bermuka dua. Seorang istri yang suka membicarakan suami di belakangnya hanya karena sang suami tidak bisa memberikan apa yang ia minta sama artinya dengan menelanjangi dirinya sendiri. Pepatah “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri” mungkin cocok untuk kondisi tersebut. Suami adalah pakaian istri, begitu juga sebaliknya. Ketika sang istri membicarakan suami di belakang atas ketidakmapanan atau ketidakmampuan suami dalam mencari nafkah, maka saat itu juga sang istri ibarat melepas pakaiannya satu per satu atau mempermalukan diri sendiri.

6. Sombong terhadap harta pemberian suami

Jeng gak beli IPhone?”

“Nggak ah Jeng!”

“Wah… gimana sih, kalau suami saya sih langsung beliin saya IPhone ya begitu ada seri terbaru!”

“Eh tau gak sih kalau Bu Itu baru aja dibeliin mobil baru lhohh sama suaminya!”

“Ya, gitu deh Bu, maklum ya suami saya baru diangkat jadi direktur, Alhamdulillah!”

“Ikut arisan yuk Jeung!”

“Berapaan Bu?”

“Sedikit kok, cuma sepuluhjutaan per minggu, yuk itung-itung nabung, sepuluh juta mah sedikit!”

Contoh-contoh percakapan di atas adalah percakapan yang kerap kali dilakukan oleh ibu-ibu atau wanita yang sudah menikah. Bila menjelek-jelekkan suami di hadapan orang lain adalah sesuatu yang tidak dibenarkan dan tidak etis, maka terlalu membangga-banggakan suami dan menyombongkan harta pemberian suami juga merupakan hal yang tak dibenarkan. Mengapa seorang istri dilarang membangga-banggakan harta pemberian suami? Selain termasuk sikap sombong, hal tersebut bisa menyebabkan kecemburuan sosial. Bila kita berada di posisi mereka, apa yang kira-kira akan kita rasakan ketika seorang teman atau rekan kita bercerita dengan sebegitunya tentang kelebihan dan semua harta pemberian suaminya.

“Ada tiga perkara yang membinasakan, yaitu: hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seseorang yang membanggakan dirinya sendiri,” (HR. Athabrani dan Anas).

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, dan hamba sahaya yang di bawah kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong ucapannya.” (An-Nisa: 36)

7. Berandai-andai akan sesuatu yang tidak berguna

Coba aku dulu nikahnya sama si ini, pasti hidupku sekarang sudah enak!”

“Padahal dulu pacarku banyak, kaya semua pula, huft… kenapa juga nikahnya sama yang biasa-biasa aja. Coba ya…”

“Seandainya…”

“Andai saja waktu bisa kuulang…”

“Bayangkan saja misalnya aku sama …”

Karena tidak kuat dengan ekonomi yang pas-pasan, tak jarang seorang istri berandai-andai bila ia tidak menikah dengan suaminya melainkan dengan orang-orang yang dulu pernah dekat dengan dirinya di masa lalu. Tak ada yang berguna dari hal tersebut selain menyakiti hati sendiri dan tentu saja suami. Bertanggung jawab atas pilihan yang telah dipilih termasuk bertanggung jawab karena telah memilih suami yang sekarang bersama kita adalah hal realistis yang harus dilakukan. Tak ada gunanya berandai-andai yang tidak perlu, toh seandainya hal tersebut benar-benar terjadi belum tentu kita bisa lebih bahagia dari sekarang. Jadi mengapa harus berandai-andai.

8. Menjaga harta suami

Suami memberi nafkah kepada istri dan mempercayakan pengaturan rumah tangga kepada istri, bukan berarti kita sebagai istri bisa berbuat seenak hati. Apa yang sudah diberikan oleh suami adalah sebuah amanah yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan. Jangan terburu-buru menyalahkan suami bilamana ada seorang suami yang tidak terlalu percaya dengan istri karena bisa saja sang istri memang kurang bisa dipercaya.

9. Mengingatkan suami untuk mencari rizki di jalan Allah

Seorang istri wajib mengingatkan suami untuk selalu mengupayakan rizki di jalan Allah dan halal. Bila suami lalai dan mulai tergoda terhadap hal yang bersifat duniawi, sudah seharusnya bila sang istri mengingatkannya. Yang kerap kali terjadi kadang sebaliknya, istri menjadi salah satu penyebab suami berbuat hal-hal yang tidak baik. Bahkan ada juga istri yang dengan sengaja menyuruh suaminya berbuat curang demi memuaskan kepentingan pribadinya.

Dan jika kamu mau menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang,” (An-Nahl: 18)

Kelak akan menimpa umat-ku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat, dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus ke jurang kesesatan dunia, saling bermusuhan, dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas),” (HR. Al Hakim)

Seorang istri hendaknya memiliki kekuatan iman untuk bisa bertahan di segala situasi dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang melampaui batas. Sikap syukur yang ditunjukkan oleh sang istri akan meluluhkan hati suami sehingga semangat suami dalam mencari rizki pun akan semakin besar. Sikap istri yang tetap konsisten dengan hanya mau menerima nafkah suami dari rizki yang halal juga akan membuat suami terhindar dari pengaruh buruk lingkungan.

10.  Tidak menguasai harta suami

Istri menguasai harta suami?

Adalah sebuah kondisi dimana seorang suami tidak memiliki hak sama sekali atas nafkah yang telah diberikan kepada istri. Tugas suami hanyalah mencari uang sebanyak-banyaknya untuk kemudian disetorkan kepada istri dan suami tidak memiliki hak apa-apa setelahnya. Istri berhak menggunakan uang tersebut untuk apa saja, termasuk membelanjakan harta tersebut untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Suami bertekuk lutut di hadapan istri dalam hal pengaturan keluarga. Dalam hal ini, suami hanya dipergunakan oleh sang istri sebagai “alat” untuk mencari uang. Padahal, sekalipun tugas suami memang mencari nafkah, namun tidak dibenarkan bila seorang istri bersikap semena-mena terhadap pemberian suami. Terlebih membuat suaminya “mati kutu” dan merasa hanya menjadi “sapi perah” sang istri. Bagaimanapun juga, suami adalah pemimpin. Dan pemimpin harus dihargai dan dihormati.

“Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya,” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Referensi:

1. Ariefiansyah, Miyo. 2012. Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Miyosi Ariefiansyah adalah penulis buku “Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa” dan pemilik blog http://rumahmiyosi.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *