Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Waspadai Kerapuhan Jiwa pada Diri Pasutri, Ini Gejalanya

   Rubrik : Pasutri

Waspadai Kerapuhan Jiwa pada Diri Pasutri, Ini Gejalanya

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 2419 Kali

Waspadai Kerapuhan Jiwa pada Diri Pasutri, Ini Gejalanya
Waspadai Kerapuhan Jiwa pada Diri Pasutri, Ini Gejalanya

Sahabat Ummi, saat ini makin banyak pasangan suami istri yang rapuh jiwanya, konflik sedikit langsung bercerai, salah sedikit langsung emosional, hati-hati… jangan-jangan kita termasuk yang memiliki kerapuhan jiwa, simak selengkapnya…. 

Kestabilan kondisi mental dan jiwa suami atau istri akan sangat memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Banyak rumah tangga yang berantakan saat ini karena sang ayah atau ibu memiliki kondisi kejiwaan atau mental yang rapuh, seperti sikap temperamental, paranoid, impulsif, dan sebagainya. 

Psikolog Hira Yoki Molira S.Psi M.Psi menjelaskan bahwa dalam rumah tangga akan muncul bentuk interaksi yang lebih kompleks/ rumit sehingga menuntut kematangan kepribadian yang lebih baik agar mampu menampilkan perilaku yang diharapkan. “Inilah yang menyebabkan kesehatan jiwa sangat penting agar dapat menjalankan kehidupan rumah tangga secara berkesinambungan sehingga berujung pada rumah tangga yang harmonis,” paparnya. 

Menurut Hira, Kerapuhan jiwa pada dasarnya adalah kondisi kepribadian lemah yang membuat individu kurang mampu menanggung berbagai beban maupun tantangan kehidupan yang harus dihadapi. “Kerapuhan jiwa disebabkan dinamika antara fungsi-fungsi psikologis yang kurang berkembang, yaitu fungsi berpikir, fungsi emosi, dorongan, atau sosial,” ungkap Hira. Ketidakmatangan pada fungsi-fungsi tersebut menyebabkan individu masuk ke dalam masalah dan kesulitan menyelesaikan masalah yang akhirnya membuat ia berada dalam situasi stres. 

Bila ini terjadi terus lambat laun dapat memunculkan masalah kejiwaaan dan bahkan dapat jatuh ke dalam gangguan jiwa. “Misalnya, pola asuh yang terlalu memanjakan membuat emosi tidak matang sehingga seseorang sulit mengelola emosi. Sulit kelola emosi dapat berdampak pada sulit bertahan lama dalam menjalin relasi. Akhirnya muncul konsep diri merasa kurang mampu dalam membangun hubungan. Manakala ia berumah tangga, bisa jadi akan muncul ketakutan irasional. Takut ditinggal atau dicerai pasangan yang justru membuat reaksinya dalam persoalan rumah tangga menjadi kurang tepat,” tambah psikolog yang aktif di Biro Psikologi Dwipayana, Bandung ini. 

Tanda Kerapuhan 

Apakah gejala yang bisa diamati bila sebuah keluarga terancam oleh kerapuhan jiwa anggotanya? Benarkah pertengkaran adalah tanda paling terang dari gejala ini? Hira tidak sependapat, “Bila masih ada pertengkaran, perdebatan, pengekspresian emosi yang meletup, hal ini justru menunjukkan keluarga atau pasangan sedang dalam proses penyesuaian diri terhadap persoalan yang terjadi.” Menurutnya, tanda bahaya yang harus diwaspadai adalah justru ketika masing-masing anggota keluarga tak lagi berkomunikasi dan menarik diri satu sama lain. 

Timbul rasa apatis pada apa yang terjadi dalam keluarga. “Pada situasi ini harus ada anggota keluarga yang menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan dari ahli untuk keluar dari situasi pelik yang sedang dihadapi,” katanya. 

Hira juga menjelaskan bahwa prinsip utama agar bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai persoalan dalam hidup termasuk jika anggota keluarga kita ada yang memiliki masalah kejiwaan adalah kita perlu terbuka, menerima keadaan terlebih dahulu. Kemudian perluas wawasan mengenai persoalan tersebut sehingga memiliki pemahaman yang lebih tepat dalam menyikapinya, salah satunya dengan berkonsultasi ke psikolog. “Psikolog dapat membantu  mengidentifikasi sumber persoalan yang muncul dan memberikan treatment yang relevan dengan persoalan kejiwaan yang dialami,” ungkapnya. “Tidak menutup kemungkinan juga,” tambahnya lagi,  “psikolog akan merujuk ke psikiater atau melibatkan bidang keahlian lain jika dianggap perlu.” 

Keluarga Efektif 

Sehatnya kondisi kejiwaan keluarga sesungguhnya akan banyak memberikan manfaat. Bukan hanya untuk anggota keluarga yang bersangkutan tapi juga bagi masyarakat di sekitarnya. “Manfaat paling besar adalah keluarga tersebut dapat menjadi keluarga yang berfungsi dengan baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sosial d imana keluarga tersebut berada,” ungkap alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran ini. “Bahkan,” lanjutnya, “dalam lingkup yang lebih besar dapat memberikan manfaat bagi negara.” 

Tak inginkah kita memiliki keluarga yang efektif? Setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara optimal. Seorang suami dapat bekerja dengan baik, meniti karir dengan tenang bahkan dapat menduduki jabatan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Seorang istri dapat menjaga dan merawat anaknya dengan kasih sayang penuh, sehingga anaknya menjadi anak cerdas, berprestasi, dan menyayangi teman-temannya. “Kondisi sehat jiwa pada anggota keluarga akan membentuk warga negara dengan mental kuat sehingga negara pun menjadi tangguh dalam menghadapi tantangannya,” pungkas Hira. 

Didi Muardi 

Kiat Menjaga Kesehatan Jiwa Keluarga

Untuk membentuk keluarga dengan jiwa yang sehat, Hira mengungkapkan beberapa kiat yang bisa dijalani oleh keluarga Indonesia.

Terus mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan masalah. Tidak berhenti belajar. Untuk orangtua, jangan ragu atau enggan mengikuti kegiatan parenting atau mengikuti berbagai majelis ilmu, atau kajian-kajian, banyak membaca maupun berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap bijaksana.

Pandai memilih lingkungan yang baik untuk membesarkan keluarga. Karena bagaimana pun lingkungan dapat menjadi stresor namun dapat pula sebagai fasilitator untuk berkembang.

Kembangkan kemampuan komunikasi yang baik, karena komunikasi adalah saluran untuk menyamakan pemikiran, memahami kebutuhan, mengenali pasangan/ anggota keluarga yang lain sehingga dapat meminimalisir situasi stres dalam keluarga.

Menjaga kesehatan jasmani, karena ada kaitan yang cukup erat antara kesehatan jasmani dan rohani. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Miliki quality time bersama keluarga. Tentukan waktu untuk berkumpul bersama secara berkala. Hal ini untuk membangun bonding di antara keluarga, sehingga dapat saling menguatkan manakala ada anggota keluarga yang mengalami masalah atau stres. 

 

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 10-XXIX Oktober 2017


Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});