Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Tips Menyikapi Orangtua yang Kurang Setuju Anak Mereka Menikah Muda

   Rubrik : Pasutri

Tips Menyikapi Orangtua yang Kurang Setuju Anak Mereka Menikah Muda

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 1582 Kali

Tips Menyikapi Orangtua yang Kurang Setuju Anak Mereka Menikah Muda
Tips Menyikapi Orangtua yang Kurang Setuju Anak Mereka Menikah Muda

Menikah muda? Kuliah aja belum selesai.

Menikah muda? Ngelap ingus aja -ibaratnya- masih belum benerr.

Nikah muda? Yakin bukan keputusan emosional sesaat? Nikah itu enggak cuma buat sedetik dua detik, tapi selamanya.

Itulah beberapa reaksi orangtua ketika anaknya ingin menikah muda. Rata-rata, mereka akan KAGET. Ada apa ini kok tiba-tiba ingin menikah, dikira gampang, dikira main-main. Dunia pernikahan bukan drama korea atau negeri dongeng. Jangan cuma bayangin enaknya aja.

Intinya, rata-rata orangtua kurang setuju ketika anak yang mereka besarkan, rawat, & didik dengan penuh kasih sayang meminta izin untuk menikah.

Lalu, bagaimana menyikapinya? Apa harus ngambek? Minggat dari rumah? Mengurung diri di kamar berbulan-bulan?

Haii, Dear, justru inilah saatnya kalian membuktikan kedewasaan dan niat kuat bukan karena pengaruh sesaat atau keinginan emosional semata.

 

a.    Menyikapi orang tua yang merasa anaknya belum dewasa
 
Orang tua menganggap kalian belum dewasa bisa jadi karena sikap kalian selama ini yang belum menunjukkan kedewasaan. Bila memang serius ingin menikah muda, buktikanlah bahwa kalian memang menginginkannya. Kalian harus menunjukkan bahwa keputusan itu benar-benar datang dari diri sendiri dan bukan karena emosi sesaat. Bila pun dalam prosesnya ada perdebatan antara kita dan orang tua, maka tunggulah waktu yang tepat untuk memberikan opini. Bersabar dan menikmati proses adalah salah satu bukti bahwa kalian dewasa. 
 
b.    Menyikapi orang tua yang takut studi anaknya terganggu
 
Bila hal ini terjadi, pahamilah bila kedua orang tua bersikap seperti itu pada dasarnya adalah untuk kepentingan kalian juga. Mereka tidak mau bila masa depan kalian hancur hanya karena menikah muda. Yakinkanlah kedua orang tua bahwa kalian akan terus melanjutkan studi hingga selesai sekalipun sudah menikah. Justru menikah akan membuat kalian menjadi semakin semangat untuk berprestasi. Bila orang tua belum luluh juga, “takluk”kan hati mereka dengan prestasi dan usaha, untuk membuktikan keseriusan. 
Di sisi lain, kalian harus benar-benar berkomitmen untuk tidak mengecewakan harapan kedua orang tua. Yakinkanlah mereka bahwa tujuan kalian menikah adalah baik. Kalian pun harus membuat kesepakatan dengan pasangan bahwa kalian akan benar-benar saling mendukung satu sama lain. Berjanjilah pada orang tua untuk tidak mengecewakan mereka.
 
c.    Menyikapi orang tua yang menginginan anaknya berkarier terlebih dahulu
 
Bagaimana bila ketidaksetujuan orang tua adalah karena mereka menginginkan kalian berkarier terlebih dahulu. Tidak salah bila orang tua berpandangan seperti itu karena kenyataannya banyak pelaku nikah muda yang stagnan dan hanya salah satu saja yang aktif (suami saja misalnya). Padahal, orang tua si istri juga berhak membangun harapan agar anaknya menjadi “sesuatu”. Bagaimana menyikapinya? Lagi-lagi masalah komunikasi. Ya, kalian harus meyakinkan pasangan dan orang tua. 
Meyakinkan pasangan bahwa setelah menikah, kalian diizinkan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan, pun kalian berjanji akan bertanggung jawab kepada keluarga. Selain itu, kalian juga perlu meyakinkan kedua orang tua bahwa sesungguhnya tak ada pengorbanan yang sia-sia di dunia ini, termasuk pengorbanan mereka dalam menjadikan kalian seperti sekarang ini. Kalian yakinkan mereka bahwa kalian tidak akan mundur setelah menikah. Dan, tentu saja janji itu harus benar-benar kalian tepati.
 
d.    Menyikapi orang tua yang takut kehilangan bila anaknya menikah
 
Bila dibandingkan dengan tantangan yang sudah disebutkan sebelumnya, tantangan ini mungkin bisa dikatakan lebih mudah. Bila ketidaksetujuan orang tua “hanya” karena masalah takut kehilangan perhatian, maka yang harus kalian lakukan adalah lebih memperhatikan mereka sejak sekarang. Yakinkan dengan bukti dan tindakan bahwa sampai kapan pun kalian adalah anak mereka dan tak ada satu orang pun yang bisa memisahkannya. Yakinkan dan jelaskan bahwa menikah justru akan menambah saudara dan bukan memisahkan orang-orang yang sebelumnya dekat.
 
e.    Menyikapi opini orang tua bahwa anak harus membalas budi terlebih dahulu
 
Bisa dikatakan tantangan bahwa kalian harus membalas budi kedua orang tua terlebih dahulu tergolong “berat” bila dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Mengapa berat? Karena sampai kapan pun kalian tak akan pernah bisa membalas budi kedua orang tua. 
Namun demikian, alangkah bijaknya bila kalian menjelaskan bahwa kalian akan berusaha untuk menjadi anak yang berbakti dan membanggakan, dan dengan menikah muda, kalian akan mewujudkan semua itu. Dalam praktiknya kelak, ketika kedua orang tua sudah menyetujui, kalian bisa menyisihkan berapa persen penghasilan untuk kedua orang tua. Bukan mengenai masalah jumlahnya, namun setidaknya kalian membuktikan bahwa sampai kapan pun kalian tak akan pernah melupakan kedua orang tua. Menikah muda justru membuat hubungan kalian dengan orang tua semakin dekat.
 
f.    Menyikapi ketakutan orang tua akan calon pendamping si anak yang berasal dari golongan tidak baik
 
Untuk menjawab tantangan ini, pastikan dulu bahwa calon pendamping hidup kalian benar-benar berasal dari golongan orang yang baik, sehingga kedua orang tua kalian tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan.
 
g.    Untuk menyikapi kondisi bahwa si anak adalah tulang punggung keluarga
 
Bisa jadi, inilah tantangan “terberat” untuk menikah muda di antara tantangan-tantangan lainnya. Bagaimana bila ternyata kalian atau calon pendamping hidup kalian adalah tulang punggung keluarga. Tentu saja hal ini tidak mudah, tapi bukan berarti susah. Sebenarnya, selama calon pendamping hidup kita menerima apa adanya dan ikhlas berjuang bersama dari nol, masalah ini bisa diatasi dan bukan masalah yang berat.
 
h.    Menyikapi opini tentang menyalahi adat dan aturan bila menikah muda
 
Bila hal ini terjadi, yakinkanlah kedua orang tua bahwa kalian menikah bukan untuk diberi penghormatan orang lain yang tiada ujungnya. Tentu saja kita harus menyampaikannya dengan bahasa yang baik dan sopan.

 

Bagaimana? Sudah siapkah merayu orangtua?

 

Referensi:

Prastari, Aprilina dan Miyosi Ariefiansyah. "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya". 2013. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

 

foto ilustrasi: google

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah (@miyosimiyo) adalah seorang istri, ibu, penulis, & pemilik blog www.rumahmiyosi.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});