Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Hadits
  4. /
  5. Ternyata Riba Penyebab Naiknya Harga Bahan Pangan?

   Rubrik : Hadits

Ternyata Riba Penyebab Naiknya Harga Bahan Pangan?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 795 Kali

Ternyata Riba Penyebab Naiknya Harga Bahan Pangan?
Ternyata Riba Penyebab Naiknya Harga Bahan Pangan

Sahabat Ummi, kenaikan berbagai komoditas pangan membuat kita mengurut dada masygul. Bagaimana tidak, mau mencicipi pedasnya cabai saja harganya selangit. Bahkan harga cabai terhitung lebih mahal dibanding harga daging. Wah, sebuah prestasi yang menyedihkan bukan?

Sahabat Ummi, ketika permintaan terhadap suatu produk tinggi, sementara persediaan terbatas, otomatis harganya pun meningkat. Itulah yang saat ini terjadi pada cabai dan berbagai barang lainnya. Mengingat kebiasaan orang Indonesia yang senang mencampurkan berbagai bumbu ke dalam masakannya, maka cabai menjadi menu “wajib” dalam sebagian besar hidangan. Sementara itu, Indonesia sedang dilanda musim pancaroba yang tidak menentu. Kadang paginya panas, sorenya hujan deras tak bisa dibendung. Tentu saja hal ini membuat sebagian besar lahan pertanian di Indonesia mengalami gagal panen, sekalipun ada harganya sangat mahal dibanding biasanya.

Sahabat Ummi, Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Di negara kita ini, tanaman macam apa pun bisa tumbuh. Sayangnya, kebanyakan penduduk Indonesia enggan memanfaatkan kesempatan ini. Beternak dan bertani tidak menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Sekalipun ada, hanya segelintir orang saja yang mau melakukannya.

Mengapa masyarakat Indonesia enggan bertani? Jawabannya mudah, untungnya tidak sepadan dengan modal yang dikeluarkan. Benih, pupuk, dan perawatan yang telaten menjadi kunci utama dalam bisnis ini. untungnya? Tidak seberapa. Mendapatkan 15-20% per tahun saja bisa dikategorikan untung. Sedangkan jika kita mendapatkan modal dari orang lain, otomatis kita harus membagi dua keuntungan tersebut, misalnya dengan pembagian 50/50. Berapa untung yang akan kita dapatkan? Sekitar 7,5-10% per tahunnya. Mungkin keuntungan ini bisa dikategorikan besar, tapi mengingat risiko gagal panen dan hama yang mengintai rasanya kita akan berpikir ulang untuk menginvestasikan uang pada bidang pertanian.

Akhirnya, pihan investor jatuh pada investasi deposito yang lebih aman dan terjamin. Meski suku bunganya hanya sekitar 6,2% per tahun, investasi ini hanya mengandung sedikit risiko sedangkan keuntungan yang kita dapat lebih terjamin nantinya.

Akibatnya, Indonesia mengimpor berbagai barang dari negara lain. Bedanya, negara-negara pengekspor bahan pangan ini memiliki suku bunga yang tergolong rendah. Sebagai contoh, Amerika sebagai negara pengekspor kedelai kita hanya memiliki suku bunga sekitar 1,35% per tahun. Artinya, jika mereka bertani kedelai yang memiliki untung 7,5% - 10% per tahun, masyarakat Amerika lebih tertarik untuk menginvestasikan uangnya untuk kedelai dibanding dengan deposito.

Hal ini juga berlaku untuk Australia dan New Zealand yang tingkat suku bunga depositonya di kisaran 3% - 3.5%, artinya kalau peternak sapi pedaging mereka menghasilkan hasil bersih 7.5 % saja bagi investornya, itu sudah lebih dari dua kali lipat dari suku bunga deposito perbankan mereka.

Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan jika negara yang maju perekenomiannya dibanding kita, memiliki tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dengan sistem riba dan suku bunga yang rendah, negara-negara maju tersebut berhasil mengalahkan kita dalam bidang ekonomi. Bagaimana jika mereka menerapkan sistem perekonomian tanpa riba? Tentu hasilnya akan lebih menguntungkan.

 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jauhi tujuh hal yang membinasakan! Para sahabat berkata, “wahai Rasulullaah! Apakah itu? Beliau bersabda, “syirik kepada Allaah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa haq, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh wanita beriman yang lalai berzina (Muttafaq ‘alaih)

 

Alangkah baiknya jika Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim mulai menerapkan sistem perbankan tanpa riba. Apalagi jika menerapkan sistem syariah yang mengutamakan bagi hasil. Jika sistem ini dibangun dengan kuat, yakinlah perekonomian kita bisa lebih maju dibanding sebelumnya.

 

 

Referensi : berbagai sumber

Foto ilustrasi : google

Nidaul Fauziah

Yuk, jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan Dapat Majalah Ummi (free ongkir)
Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny
Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#No.HP#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});