Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Teka-teki Rumus Rejeki

   Rubrik : Motivasi

Teka-teki Rumus Rejeki

  Ditulis Oleh sidhila Dibaca 739 Kali

Teka-teki Rumus Rejeki
Teka-teki Rumus Rejeki

Di tengah pro kontra layanan transportasi online, saya tergerak juga untuk ikut menulis artikel singkat yang terinspirasi dari masalah ini. Bukan karena saya punya analisis statistik dan data perhubungan mumpuni (duh… jauh sekali, saya mah statusnya masih tukang nebeng sejati, belum naik kelas jadi ahli transportasi, hehe), tapi lebih karena saya beberapa kali jadi “trash can” dua belah pihak: mang-mang ojek pengkolan dan aa’-aa’ ojek aplikasi. Hehe, simple sekali ya alasannya? Tapi, saya berpikir tidak ada salahnya bila saya berbagi kisah mereka disini, siapa tahu bisa menjadi pengingat saya dan kita semua, ‘tul-betul-betul?

Dimulai dari curhatan bapak-bapak taksi koperasi di bandara yang saya temui di terminal kedatangan domestik Juanda sampai akang gojek curcol di daerah Baltos Bandung, keluh kesah mereka kemudian bermuara ke satu titik: perebutan sumber rejeki. Yang konvensional menuduh para pengemudi online ini merebut jatah rejeki mereka, yang modern bilang mereka hanya mengikuti perkembangan teknologi dan permintaan pasar, serta menyarankan pesaingnya untuk berpikir terbuka. Nah lho, nggak ada yang mau ngalah kan? Terus, gimana dong solusinya? Kalau itu sih saya serahkan saja ke ahli transportasi dan pemerintah saja ya?

*Payah banget sih mbak kok nggak ada kasih saran apapun? (suara nyeletuk dari belakang)

Oke-oke, saya nyumbang opini deh: di-integrasikan dong, bapak-ibu semua. Buktinya Blue Bird bisa digabung sama Go-Jek terus Express juga team-up with Grab. Mungkin nantinya taksi-taksi ato ojek di tikungan yang ada sekarang atau di tempat lain bisa berbasis aplikasi juga. Eitss, tapi kan nggak semua driver melek IT, mbakbro! Well… kalau untuk teknologi, mungkin bisa dibantu dengan training ato subsidi device.

Hal lainnya adalah: ketakutan akan turunnya laba personal bila harus diikat dengan aturan dari perusahaan startup. But, masalah kedua ini yang agak berat: takut kehilangan ladang rejeki! Jika mau itang-itung matematika soal untung-rugi gini emang agak susah. Mau dirumuskan sampai koma-koma pun, kalo nggak percaya sama Gusti Allah ya bakal pusing sendiri. Makanya dari awal, yang perlu dicamkan adalah: rezekinggak akan pernah tertukar!

Mau kita jumpalitan sambal jalan jongkok ngemis-ngemis, kalo Allah bilang: bukan rejeki, ya udah nggak akan dapat. Titik. Bahkan saya pernah dengar curhatan seorang pengusaha yang luar biasa ibadahnya, ya puasa ya sholat dhuha, pokoknya top markotop agamanya deh. Eh, giliran dia berkompetisi merebutkan satu proyek dengan pengusaha lain yang ibadahnya kurang, malah dia yang nggak dapat jatah sekali. Apakah kemudian Allah nggak melihat kerja keras dia untuk dekat dengan Sang Pencipta? Tentu lihat dong, tapi mungkin Allah justru mempersiapkan pahala yang lebih besar ketika ia bersabar. Atau bisa jadi ia dipersiapkan kepada ladang rejeki lain yang lebih besar. Tapi… tapi… kalo dapatnya malah lebih kecil atau makin melorot labanya tuh gimana? Ya udah, jalani dan bersyukur aja, gitu kok repot?! Bukannya dunia cuma mampir? Lihat deh, harimau, semut, dan hewan lain di luar sana aja dijamin makannya sama Allah. Kenapa kita mikir yang enggak-enggak? Jaminan utamanya mah syukur, bukan keinginan. Makin kita ingin yang macem-macem, makin pusing kita dibuatnya. Banyak contohnya juga kan, orang tua jaman dulu anaknya belasan, tapi Alhamdulillah kesemuanya sukses.

Noh dari situ aja, kita sebaiknya banyak belajar dan merenungi surat Ar Rahman:

“Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Dari nafas aja kita nggak perlu mikir. Nggak perlu nginjek rem di hidung kalo-kalo oksigennya kebanyakan hirupnya, nggak perlu diteropong: bener nggak ya masuk ke organ internalnya, dan lain-lain. Lah dari situ aja udah kelihatan betapa baiknya Allah sama kita. Kurang murah hati apa lagi sih Allah sama kita? Yang kurang mah kitanya aja: kurang ajar dan kurang banyak berterima kasih sama Allah, hehe...

Balik ke kasus moda angkutan lain tadi, saya sih pengennya pada berdamai, duduk bareng-bareng dan nyari solusi untuk kebaikan bersama. Nggak perlu lah gontok-gontokan untuk mencari sesuap nasi. Kan, rejeki nggak akan tertukar kata Allah? 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});