Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Tangguh?

   Rubrik : Pasutri

Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Tangguh?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 2884 Kali

Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Tangguh?
Sudahkah Kita Menjadi Ibu yang Tangguh

Sahabat Ummi, apakah kita sudah menjadi seorang ibu yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup?  Tantangan bagi ibu muncul dari dirinya sendiri dan dari lingkungan. Ketangguhan menghadapinya tentu membawa kesuksesan bagi diri dan keluarga.

 

Para ibu di generasi terdahulu dan kini agaknya menghadapi tantangan yang berbeda. Memang, menurut Dwi Estiningsih, S.Psi, M.Psi, Psikolog, berbeda masa, berbeda pula tantangannya. Era agraris berbeda dengan era industri, pun era industri berbeda dengan era informasi.

Ibarat bertanam, ibu di generasi yang lalu bagai menebar benih di kebun, kemudian benih tersebut tumbuh dengan sendirinya asal cukup sinar matahari, air dan tanah yang subur. Sementara, ibu generasi sekarang bagai bertanam dalam pot, yang harus tertakar dan terkontrol tanah dan airnya. “Tidak bisa lagi asal tabur benih di kebun karena bisa-bisa benihnya malah dimakan predator,” ujar Dwi. Tak heran, para ibu zaman sekarang merasa perlu untuk mengikuti seminar parenting dan kerumahtanggaan.

 

Kelola Emosi dan Hindari Stres

Salah satu tantangan yang dihadapi para ibu adalah tantangan yang muncul dari dalam diri, sebagai perempuan yang dikaruniakan hormon yang berbeda dengan laki-laki. Karena kondisi ini, menurut Dwi, perempuan mempunyai emosi yang lebih terlihat. Jika emosi tak bisa dikelola dengan baik, efeknya adalah stres.  Nah, bagaimana agar tidak rentan stres? Dwi menuturkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para ibu:

 

1.                   Jaga kondisi ruhiyah. “Emosi yang labil erat hubungannya dengan kondisi ruhiyah ibu,” ujar Dwi. Sikap ikhlas dan sabar didapat tidak saja dari kesadaran penuh terhadap perannya, namun berhubungan dengan ibadah-ibadah yang ia jalani sehari-hari.

2.                   Penghargaan dari orang-orang terdekat, terutama suami juga berperan penting dalam mencegah dan meredam stres istri. Penghargaan ini bisa berupa hadiah atau kejutan kecil, pujian, maupun perlakuan yang baik terhadap istri.

3.                   Seorang ibu, terutama ibu rumah tangga juga harus mempunyai kegiatan sosial kemasyarakatan agar tidak merasa terkucil. Kegiatan sosial ini juga bisa menjadi ajang ibu untuk menunjukkan eksistensi diri dalam batas yang sewajarnya. Misalnya, bergabung dengan kelompok pengajian, kelompok keterampilan, atau kelompok kegiatan sosial. Di zaman keterbukaan informasi sekarang, tentu tak sulit untuk mencari kelompok atau grup yang bisa diminati.

4.                   Belajar mengenai peran ibu sejak dini. Salah satu kelemahan pendidikan orangtua zaman sekarang adalah kurang menyiapkan anak perempuan untuk menghadapi kehidupan rumah tangga dan menjalani peran sebagai ibu. Saat ini, anak perempuan lebih dituntut untuk mengejar prestasi akademik di sekolah. Berbeda dengan orangtua generasi dulu yang sangat melibatkan anak perempuan dalam sektor domestik. Kepribadian yang kurang matang, kurangnya rasa keibuan dan ditambah pernah mengalami masa depresi, membuat ibu muda di zaman ini rentan mengalami baby blues hingga post partum syndrome setelah melahirkan.

 

Menumbuhkan Sifat Keibuan

Sebagai perempuan, Allah Yang Mahaadil juga menganugerahkan sifat keibuan agar perempuan mampu menjalani perannya sebagai ibu. Sifat keibuan erat kaitannya dengan perkembangan fisiologis, psikis, dan sosial seorang perempuan. Sifat ini tumbuh sejak ada janin dalam rahim ibu, dilanjutkan dengan masa kehamilan, melahirkan, menyusui dan memelihara buah hati. Hanya saja, karena latar belakang kepribadian setiap perempuan berbeda, maka tidak semua perempuan memiliki semua sifat keibuan ini. Namun, sifat ini bisa ditumbuhkan.

Dwi menuturkan, idealnya seorang ibu memiliki sifat ikhlas, sabar, tegar, tabah, pengasih, penyantun, mandiri, perhatian, dan penyemangat bagi anak dan suami. “Itu bisa ditumbuhkan dengan kebiasaan sejak dini,” imbuh Dwi. Misalnya, untuk menumbuhkan sifat sabar, saat menghadapi anak yang rewel, sebelum muncul kemarahan sebaiknya ibu segera mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya sehingga tidak jadi marah dan mendapatkan ilham pemecahan masalahnya.

Sifat keibuan ini juga bisa dipupuk sejak dini pada anak perempuan sehingga mereka menjadi terampil di usia remaja. “Cara menumbuhkannya, dengan diajarkan peran gender sesuai jenis kelaminnya,” ungkap Dwi. Misalnya, untuk anak perempuan dilatih kesehariannya untuk ikut ibu memasak dan mengelola emosi dengan ikut serta merawat adik-adiknya. “Ketika masuk usia remaja, ajaklah mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang mengelola empati mereka, seperti mengajar Al-Qur'an di TPA atau menjadi relawan panti asuhan,” terang Dwi lebih lanjut.

Dengan menumbuhkan sifat keibuan sejak dini, pada saat usianya menjelang dewasa, si upik sudah memiliki sifat-sifat keibuan tersebut. Ia pun kelak menjadi perempuan dewasa yang menyenangkan, bijak, aktif, dan bisa menempatkan diri di setiap kondisi.

Aida Hanifa

 

 

Tips Ibadah Maksimal untuk Ibu

 

Kedekatan dengan Allah amat perlu dipelihara oleh para ibu. Meski seluruh pekerjaan seorang ibu bernilai ibadah, kedekatan dengan Allah tentunya juga perlu dibangun dengan ibadah mahdhah. Kendala di hampir setiap ibu adalah pembagian waktu antara pekerjaan rumah tangga yang tak pernah habis dan waktunya untuk bermesraan dengan Allah. Dwi Estiningsih, S.Psi, M.Psi, Psikolog memberikan tips agar para ibu bisa maksimal dalam melakukan keduanya.

 

>> Lakukan ibadah di awal waktu, jangan ditunda-tunda. Harus ada waktu khusus untuk ibadah, bukan di waktu luang. Jika piring kotor menumpuk sementara azan berkumandang, segerakan shalat terlebih dahulu.

>> Segera lakukan pekerjaan yang penting dan mendesak. Misalnya di pagi hari, saat anak-anak akan terbangun dengan perut lapar, dahulukan memasak daripada mencuci baju.

>> Jangan lakukan pekerjaan yang sia-sia, seperti menonton televisi atau membuka media sosial sehingga membuat lalai beribadah. Santai memang perlu, tapi waktu ibadah sudah saklek dan pekerjaan rumah adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan.

 

Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 3 12-XXVIII Desember 2016

Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});