Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Parenting
  4. /
  5. Rokok Ancam Anak Muda dan Perempuan, Selamatkan Mereka untuk Masa Depan Bangsa yang Lebih Baik

   Rubrik : Parenting

Rokok Ancam Anak Muda dan Perempuan, Selamatkan Mereka untuk Masa Depan Bangsa yang Lebih Baik

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 2224 Kali

 Rokok Ancam Anak Muda dan Perempuan, Selamatkan Mereka untuk Masa Depan Bangsa yang Lebih Baik
Rokok Ancam Anak Muda dan Perempuan, Selamatkan Mereka untuk Masa Depan Bangsa yang Lebih Baik

Persoalan kritis terkait rokok di Indonesia saat ini, jumlah kematian akibat rokok terus bertambah dan semakin tingginya jumlah perokok anak dan perempuan. Masihkah kita berdiam diri menghadapi kondisi ini?

Sahabat Ummi, sebagian besar kita mungkin tak menyadari tingginya jumlah perokok di Indonesia. Berdasarkan data terbaru “The Tobacco Atlas 2015”, Indonesia meraih peringkat satu dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun. Data ini menunjukkan sebanyak 66 persen pria di Indonesia merokok. Atau, dua dari tiga laki-laki usia 15 tahun ke atas di Indonesia adalah perokok.

Studi dari Wall Street Journal bekerjasama dengan World Lung Foundation dan American Cancer Society mencatat, setiap tahun rata-rata penduduk Indonesia menghisap 1085 batang rokok. Artinya, tingkat konsumsi rokok mencapai hampir dua bungkus per minggu.

Sebelumnya, pada 2013 Kementerian Kesehatan memaparkan, terjadi peningkatan prevalensi perokok di Indonesia, dari 27% pada 1995, menjadi 36,3% pada 2013. Artinya, jika di tahun 1995, ada 1 orang perokok dari setiap 3 orang Indonesia, maka di tahun 2013 ada 2 orang perokok dari setiap 3 orang Indonesia. 

Para perokok yang sudah kecanduan ini lebih memilih membelanjakan uang untuk merokok ketimbang mengonsumsi makanan sehat. Mirisnya. kondisi ini terutama terjadi di keluarga miskin. Dalam survey Riset Kesehatan Dasar 2013, keluarga miskin yang orang tuanya merokok membelanjakan uang lebih banyak untuk membeli rokok daripada makanan sehat seperti telur dan susu. Pengeluaran untuk membeli rokok nomor 2 setelah pembelian beras, jauh di atas pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan. Hal ini jelas berdampak pada hak anak-anak untuk tumbuh dan berkembang, karena keluarganya lebih mementingkan membeli rokok.

Hal yang lebih menyedihkan, kecanduan merokok tidak hanya diidap orang dewasa. Anak-anak dan remaja sudah banyak yang merokok, dan jumlahnya meningkat setiap tahun. Dalam rentang kurang dari 20 tahun, jumlah remaja perokok meningkat 3 kali lipat. Jika di tahun 1995 prevalensi remaja perokok usia 16-19 tahun hanya 7,1%, pada 2014 tumbuh pesat menjadi 20,5%.

Di kelompok usia lebih muda, jumlah perokok anak pun meningkat. Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat drastis, dari semula  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% pada 2013. Dan berdasarkan data Global Youth Tobacco Survei (GYTS) pada 2014, prevalensi perokok usia 13-15 tahun mencapai 20,3 persen. Berarti usia seseorang untuk mulai merokok semakin muda.

Banyaknya jumlah perokok usia muda, bahkan ada perokok di usia balita, sungguh memprihatinkan. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Agus Dwi Susanto mengatakan, rokok mengandung lebih dari 4000 zat kimia. Sebanyak 60 zat di antaranya bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker. Menurut Agus, pasien kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), stroke dan jantung koner, kebanyakan adalah perokok.

WHO menempatkan rokok ke dalam daftar utama pemicu penyakit mematikan seperti kanker, diabetes, jantung dan paru-paru. Setiap tahun enam juta manusia meninggal dunia akibat tembakau. Sedangkan data Badan Litbang Kemkes RI 2013, menyebutkan 240.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit karena merokok.

Bila terus dibiarkan, angka kematian akibat rokok akan terus meningkat setiap tahun. Apalagi anak-anak yang sudah merokok di usia sangat muda, mereka tanpa sadar telah menjemput sendiri penyakitnya.Mereka akan bersiap mengidap penyakit mematikan justru di usia produktif.  Sebab penyakit akibat merokok baru akan terlihat dampaknya dalam rentang waktu 10-15 tahun. Sehingga anak usia 10 tahun yang terus menerus mengonsumsi rokok kemungkinan akan mengidap kanker paru di usia 25.

 

Anak dan Remaja, Target Utama Pemasaran Rokok

"Remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok." Pernyataan ini terungkap dari dokumen laporan penelitian Myron E. Johnson ke Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Philip Morris, pemilik perusahaan HM Sampoerna.

Dari dokumen ini nyata jelas betapa industri rokok memang menargetkan anak dan remaja sebagai konsumen masa depan produk mereka. Sebagai konsumen masa depan, strateginya tentu anak-anak harus sejak awal dikenalkan dengan rokok. Bila sudah dikenal, maka mereka akan dirayu untuk mencoba, sehingga menjadi terbiasa dan kemudian menjadi loyal.

Untuk menyasar anak dan remaja tentulah dibutuhkan strategi yang sesuai dengan jiwa muda mereka. Maka tak heran bila kita melihat gempuran iklan dan promosi rokok yang bertubi-tubi, seperti iklan di televisi, promosi di bilboard dan spanduk, display rokok yang berdekatan dengan kasir dan makanan anak-anak, promosi langsung dari SPG rokok, dan konser musik yang berbalut sponsor rokok.

Strategi iklan adalah kekuatan luar biasa untuk membidik generasi muda. Iklan rokok menampilkan gaya hidup anak muda yang keren, gaya, cool, senang berpetualang, kreatif, setia kawan, dan sudah tentu mereka merokok. Dan gaya hidup yang sangat positif ini setiap hari ditampilkan melalui iklan di televisi, atau melalui iklan di bilboard dan spanduk yang dipasang di jalan dekat sekolah. Sehingga anak-anak dan remaja digempur paparan iklan setiap saat tanpa pernah menyadari informasi yang disampaikan pada iklan itu menyesatkan.

Data Global Youth Tobacco Survei (GYTS)menyebutkan, sebanyak 60,7 persen anak-anak melihat iklan promosi rokok di toko, 62,7 persen melihat iklan rokok di TV, video, dan film, dan sebanyak 7,9 persen mengaku pernah ditawari rokok oleh SPG rokok.

Iklan rokok memang tidak secara eksplisit mengajak untuk merokok. Namun berbagai studi sudah membuktikan bahwa paparan iklan dan promosi rokok sejak usia dini dapat meningkatkan persepsi positif tentang rokok, menguatkan keinginan untuk mencoba merokok, bahkan mendorong perokok pemula untuk tetap merokok dan melemahkan upaya berhenti merokok untuk kembali menjadi perokok.

Paparan iklan yang luar biasa juga dikuatkan dengan harga rokok yang di Indonesia memang sangat murah. Bahkan rokok bisa dibeli eceran, dengan harga per batang hanya Rp 1.500. Harga yang sangat murah ini menggoda anak dan remaja menggunakan uang jajannya untuk membeli rokok. Dan pemilik toko dengan suka rela menjual rokok kepada anak. Padahal Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 sudah menegaskan larangan menjual rokok kepada anak dan larangan anak untuk membeli rokok.

Promosi langsung berupa pemberian rokok gratis misalnya di acara konser musik akan merangsang anak muda untuk mencoba merokok. Dan inilah yang memang diinginkan pihak industri rokok. Bila seseorang sudah mulai mencoba merokok, potensi untuk menjadi kecanduan sangat besar karena rokok bersifat adiksi atau menyebabkan kecanduan. Jika sejak kecil sudah merokok, adiksi bisa bertambah kuat sehingga sulit untuk berhenti. Sehingga selama berpuluh tahun anak akan terus membeli rokok  selama puluhan tahun hingga ia dewasa.

 

 

Rokok semakin Feminin, Menyasar Perempuan

Tak hanya perokok anak, perempuan yang merokok juga mengkhawatirkan. Jumlah perokok perempuan terus meningkat setiap tahun. Pada 1995 hanya ada 4,2% perempuan di Indonesia merokok, namun di tahun 2013 jumlah itu meningkat menjadi 6,7%.  Dan yang menyedihkan, dari jumlah perempuan perokok di Indonesia itu, sebanyak 3,1 persen masih berusia remaja. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan jumlah remaja perempuan usia 15-19 tahun yang merokok naik 10 kali lipat dari jumlah di  tahun 1995 yang baru 0,3 persen.

Menurut Guru Besar UI, Prof Hasbullah Thabrany, peta jalan (roadmap) tentang produksi industri hasil tembakau tahun 2015-2020 yang diterbitkan Kementerian Perindustrian, yang baru saja diperintahkan dicabut oleh MA, telah mendorong peningkatan produksi rokok mild (rokok putih) yang selama ini digemari pemuda dan perokok wanita. Menurut Prof Hasbullah, ada upaya untuk menarget anak-anak perempuan dimana dimana rokok semakin feminin.

Perempuan merokok tak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Setelah menikah dan hamil, dampak merokok juga berimbas pada bayi yang ia kandung. Sebuah riset dari RS Persahabatan menunjukkan, anak yang dilahirkan oleh ibu hamil yang merokok rata-rata memiliki berat badan lebih ringan (kurang dari 2,5 kg) dan lebih pendek (kurang dari 45 cm), dibandingkan ibu yang tidak merokok (lebih dari 3 kg) dan lebih panjang (lebih dari 50 cm).

Bayi-bayi yang lahir dari ibu seorang perokok memiliki potensi mengalami gangguan pernafasan sejak dini, dan bisa terus terjadi sampai kelak anak tumbuh dewasa. Selain itu, bayi juga berpotensi lahir cacat karena organ-organ dalam tubuh tidak berkembang sempurna.

Maka, dengan begitu banyak mudharat rokok, masihkah kita berdiam diri dengan kondisi ini? Mari lakukan kebaikan menyambut Hari Ibu 2016 dengan menunjukkan  dukungan kita kepada pemerintah untuk menyelamatkan anak-anak dan perempuan Indonesia dari dampak rokok. 

 

Klik link di bawah ini untuk menunjukkan dukungan Anda kepada pemerintah untuk segera membuat regulasi yang dapat menyelamatkan anak dan perempuan Indonesia dari dampak rokok. Regulasi ini mencakup larangan total iklan, promosi dan sponsor rokok, larangan menjual rokok terhadap anak, dan penetapan kawasan tanpa asap rokok.

 

http://bit.ly/pollingdukungan

 

 

Yuk, jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan Dapat Majalah Ummi (free ongkir)
Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny
Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#No.HP#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});