Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Kesehatan
  4. /
  5. Penyakit Asma Bisakah Disembuhkan?

   Rubrik : Kesehatan

Penyakit Asma Bisakah Disembuhkan?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 634 Kali

Penyakit Asma Bisakah Disembuhkan?
Penyakit Asma Bisakah Disembuhkan

Sahabat Ummi, tentu sedih yaa jika ada anggota keluarga yang terkena gejala asma. Benarkah asma bisa disembuhkan? Apa saja jenis obat asma yang perlu diketahui? Simak selengkapnya…

Definisi asma pada anak beragam antar institusi kesehatan. Di Indonesia, unit kelompok kerja respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendefinisikan asma adalah penyakit saluran napas dengan dasar inflamasi (peradangan) kronik, yang mengakibatkan obstruksi (sumbatan) dan hiperreaktivitas saluran napas, dengan derajat bervariasi.

Manifestasi klinis (gejala-gejala) asma antara lain; batuk yang cukup sering, baik saat bermain, tertawa, menangis, atau terjadi di malam hari; Batuk kronik yang berlangsung lebih dari 3 minggu; Mudah Lelah saat bermain; Frekuensi napas kadang lebih cepat dibandingkan biasanya; Rasa tidak nyaman di dada (sesak atau nyeri); Retraksi dada, yaitu tarikan di sela-sela iga; Napas terasa pendek-pendek. Gejala-gejala ini cenderung memberat pada malam atau dini hari dan biasanya timbul jika ada pencetus.

Saat serangan asma, saluran napas menyempit akibat empat hal berikut:

-          Kontraksi/konstriksi (penyempitan) otot polos saluran napas sebagai respons terhadap berbagai proses kimiawi dalam tubuh akibat adanya pencetus.

-          Edema (pembengkakan) saluran napas.

-          Produksi mukus (lendir) berlebih, menyebabkan sumbatan dan plak-plak di antara saluran napas yang menyempit.

-          Penebalan saluran napas. Seringkali disebut remodelling pada sebagian kasus.

Kombinasi keempat hal ini memengaruhi berat/ringannya keluhan pada anak yang mengalami serangan asma. Pengobatan asma ditujukan untuk mengatasi hal-hal di atas.

Gejala Bervariasi

Gejala-gejala asma bisa jadi sangat bervariasi antara satu anak dengan anak lainnya. Misalnya, seorang anak selalu terbangun malam hari karena batuk, dan tampak nyaman karena batuknya reda di siang hari. Sedangkan pada anak lainnya keluhan batuk-pileknya hampir sepanjang hari. Untuk itu, ada beberapa gejala dengan karakteristik khas yang mengarah ke asma, diawali batuk kronik berulang dengan:

-          Gejala timbul secara episodik atau berulang.

-          Variabilitas, yaitu intensitas  gejala bervariasi dari waktu ke waktu, bahkan dalam 24 jam. Biasanya gejala lebih berat pada malam hari.

-          Reversibilitas, yaitu gejala dapat membaik secara spontan, atau dengan pemberian obat pereda asma.

-          Timbul bila ada faktor pencetus , seperti:

o   Iritan: asap rokok, asap bakaran sampah, asap obat nyamuk, suhu dingin, udara kering, makanan/minuman dingin, penyedap rasa, pengawet makanan, dan pewarna makanan.

o   Alergen: debu, tungau debu rumah, rontokan hewan, dan serbuk sari.

o   Infeksi saluran napas akut karena virus.

o   Aktifitas fisik: berlarian, berteriak, menangis, atau tertawa berlebihan.

-          Adanya riwayat alergi pada pasien atau keluarganya

Pemeriksaan penunjang dilakukan apabila diperlukan, seperti:

-          Uji fungsi paru dengan alat spirometri (bisa menilai variabilitas dan reversibiltas), atau dengan alat peak flow meter.

-          Tes alergi, pada kasus-kasus tertentu yang dicurigai pencetusnya dari alergi, seperti: uji cukit kulit (skin prick test), eosinofil total darah, pemeriksaan IgE spesifik.

-          Uji provokasi bronkus dengan exercise, metakolin, atau larutan garam hipertonik (hanya dapat dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan tertentu).

Kadang-kadang, dengan kesulitan pemeriksaan pada anak, kecurigaan asma dipastikan dengan memberikan obat pereda asma, lalu gejalanya membaik setelah obat diberikan obat.

Setelah diagnosis asma dipastikan, selanjutnya dokter menentukan kategori asma untuk menyesuaikan dengan pengobatannya, yaitu:

-          Asma intermiten, ketika episode gejala asma <6x/tahun, atau jarak antar gejala ≥6 minggu

-          Asma persisten ringan, ketika episode gejala asma >1x/bulan, <1x/minggu

-          Asma persisten sedang, ketika episode gejala asma >1x/minggu, namun tidak setiap hari

-          Asma persisten berat, ketika episode gejala asma terjadi hampir setiap hari.

Apa saja obat-obat asma?

Obat asma dibagi dua, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Obat pereda diberikan saat serangan saja atau ketika gejala timbul dan dihentikan setelah keluhan hilang. Sedangkan obat pengendali digunakan untuk mencegah serangan asma, sehingga diberikan meskipun gejala sedang tidak muncul, dalam jangka waktu relatif lama (jangka panjang), sesuai dengan kekerapan/frekuensi munculnya gejala dan responnya terhadap pengobatan. 

Anak yang mengalami asma intermiten cukup mendapatkan obat pereda saja. Sedangkan anak yang masuk dalam kategori asma persisten mendapatkan obat pereda saat serangan dan obat pengendali setiap harinya.

Saat ini, obat-obatan asma yang diberikan lewat oral (diminum) bukanlah menjadi pilihan pertama, dan terapi asma lazimnya menggunakan nebuliser—biasa disebut dengan “alat uap”—atau obat hisap berupa metered dose inhaler (MDI) atau dry powder inhaler (DPI). Pemilihannya disesuaikan dengan umur, kemampuan dan keadaan pasien, kenyamanan penggunaannya, serta ketersediaan dan biaya.

Pilihan utama yang disarankan saat ini adalah MDI dengan spacer, karena kenyamanan yang diberikan pada anak, jumlah obat yang mencapai paru lebih banyak, risiko dan efek samping minimal, serta biaya lebih murah. Sayangnya ketersediaan spacer masih belum banyak di Indonesia. Selain itu,baik dokter maupun orangtua anak dengan asma belum familiar dengan alat ini dan penggunannya.

Apakah nantinya penggunaan alat hisap/hirup ini menyebabkan ketergantungan? Sebenarnya tidak. Yang membuat “ketergantungan” bukanlah obatnya, tetapi asma memang merupakan penyakit kronis/menahun yang berpotensi membutuhkan penggunaan obat berulang. Tetapi dengan dengan mengenali jenis asma dan paham perlunya penggunaan obat pengendali, maka seorang anak dapat bebas asma hingga bertahun-tahun lamanya. 

Sumber: Majalah Ummi, Tumbuh Kembang 10-XXIX Oktober 2017. Dr Arifianto SpA


Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});