Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Para Suami, Apresiasilah Istrimu agar Orang Lain Tidak Jadi Korban

   Rubrik : Pasutri

Para Suami, Apresiasilah Istrimu agar Orang Lain Tidak Jadi Korban

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 15652 Kali

Para Suami, Apresiasilah Istrimu agar Orang Lain Tidak Jadi Korban
Para Suami, Apresiasilah Istrimu agar Orang Lain Tidak Jadi Korban

"Nggak usah ngasih-ngasih, di sini enggak ada yang suka kok," komentar ngejleb dari seorang Ibu saat dikasih oleh-oleh tetangga barunya

Padahal ternyata, oleh-oleh tersebut habis dimakan orang serumah. Itu berarti kata-kata ibu tersebut bertolak belakang dengan kenyataan.

"Kalau aku sih prioritas pertama keluarga ya. Gimana lagi, ini ladang amalku buat masuk surga. Aku gak bisa nelantarin keluarga, ya kalau situu," opini seorang Ibu menyindir tetangganya yang selalu sibuk berkegiatan atau bekerja dari rumah.

Padahal, saat si Ibu tersebut diberi peran jadi panitia lomba masak tingkat kelurahan, beliaulah yang paling semangat sampai-sampai suami dan anak-anaknya dilupakan untuk sementara waktu.

"Mama sibuk, kalian bisa beli makan di luar, kan,"

Nah.

Contoh di atas hanyalah ilustrasi yang bisa jadi sangat sering kita temui di dunia nyata.

Ada banyak faktor kenapa seorang wanita yang sudah menikah bisa seperti itu, salah satunya KURANG MENDAPAT PERHATIAN SUAMI. 

Suami yang kurang mengapresiasi istri karena menganggap apa yang dilakukan istri ya memang sudah jadi kewajibannya, suami yang kurang mau mendengarkan, suami yang kurang "menganggap" istri, dan intinya suami yang tidak memenuhi kebutuhan batin istri bisa membuat sang istri bersikap demikian. Imbasnya bisa ke orang lain, termasuk orang-orang yang tidak punya salah apa-apa.

Istri bisa kesal melihat teman/tetangganya punya kesibukan berarti. Dia merasa cemburu, tapi tidak mau mengaku. Alhasil ya berdalih, "Kalau aku sih enggak mau ya nelantarin keluarga, emangnya situ," 

Padahal yang digitukan juga tidak menelantarkan keluarga. Dan jika ditelisik, ternyata dia justru ingin menjadi seperti orang yang ia cemburui.

Di satu sisi, seorang istri memang harus mandiri hati alias tidak boleh menggantungkan kebahagiaannya 100 persen pada suami yang notabene manusia biasa. Tapi di sisi lain, apa salahnya jika suami lebih peka, lebih "menganggap" istri sehingga orang lain bisa selamat dari ketajaman mulut/perbuatan istrinya.

Cara apresiasi batin suami ke istri bisa beragam. Bisa dengan diajak ngobrol yang enggak hanya seputaran dapur, diajak diskusi masalah-masalah rada "berat", minta pertimbangan istri akan suatu hal/fenomena, atau bertanya kegiatan istri selain masalah domestik. Atau cara lain, memuji usaha istri misalnya. Intinya sih apa aja yang bisa membuat kepercayaan diri istri bangkit/bertambah dan semakin dicintai.

Jika kebutuhan batin terpenuhi, in syaa Allah banyak orang-orang di luar sana yang selamat dari pelampiasan emosi jiwa sang istri.

Mau mencoba, demi perdamaian dunia?

 

Referensi: dari berbagai sumber tulisan psikologi populer dan pengamatan

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah atau @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});