Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Menjadi Menantu Idaman Ibu Mertua

   Rubrik : Pasutri

Menjadi Menantu Idaman Ibu Mertua

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 9112 Kali

Menjadi Menantu Idaman Ibu Mertua
Menjadi Menantu Idaman Ibu Mertua

Sahabat Ummi, sejak zaman dulu, hubungan ibu mertua dan menantu perempuan seolah tidak akan pernah bisa akur. Sepertinya hal tersebut sudah menjadi rahasia umum sampai-sampai disinetronkan dan difilmkan.

Tidak sedikit juga wanita single potensial yang enggak mau nikah hanya karena enggak mau berkonflik dengan ibu mertua.

"Nggak, deh. Mendingan gue jomblo bahagia daripada nikah tapi diatur-atur mertua," 

"Mendingan juga berkarier,"

Ehm ...

Ibu mertua memang beda dengan ibu kandung, dalam artian beliau adalah orang asing sebelumnya yang kemudian kita kenal karena anak beliau menikahi kita. Dan jujur saja, yang namanya kenal sebentar dengan kenal laamaa pastilah beda. 

Sama-sama diomelin misalnya, biasanya kita tidak akan tersinggung jika yang melakukannya orang yang sudah kenal lamaa apalagi jika itu ibu kandung, "Emak gue emang sukanya gitu," enggak sakit hati, besok juga hilang. Tapi diomeli orang yang baru kenal, rasanya mungkin berbedaa, bahkan harga diri bisa tersakiti. Terlebih jika yang mengomeli tsb adalah wanita yang mencintai laki-laki yang sama dengan kita ... yaitu ibu mertua.

Tapi jangan keburu baperr dan dramaa. Kita bisa menggunakan beberapa tips di bawah ini untuk menjaga hubungan baik dengan ibu mertua, yakni:

 

1. Jangan pernah bersaing

Yakinkan atau doktrin di alam bawah sadar kita bahwa ibu mertua bukanlah rival/saingan. Beliau adalah ibu yang melahirkan suami, laki-laki yang kita cintai. Enggak ada ibu mertua ya enggak ada suami, faktanya seperti itu. Jadi ya jangan pernah memposisikan beliau sebagai pesaing untuk mendapatkan perhatian suami. Cinta istri dan cinta ibu adalah dua jenis cinta yang berbeda. Sadari itu.

 

2. Jangan halangi suami untuk berbakti

Kita nanti juga akan menjadi ibu. Gimana rasanya jika punya menantu yang menghalangi anak kita untuk berbakti ke kita. Pasti sakit. Maka, kita pun tidak boleh bersikap demikian. Jangan menghalangi suami untuk berbakti selain enggak pantas (masa saingan sama mertua) juga bikin suami bingung.

Dan jujur saja, saat kita membiarkan suami untuk berbakti ke ibunya, cinta sang suami ke kita akan semakin bertambah besar. Dengan asumsi suaminya sholeh. Jika enggak percaya, silakan buktikan sendiri.

 

3. Lakukan aktivitas yang positif

Apa hubungannya melakukan aktivitas positif dengan disayang mertua? Sekilas memang tidak ada. Padahal ada.

Seseorang yang tidak punya kegiatan berarti, hidupnya akan dipenuhi. oleh hal-hal dan pikiran aneh-aneh serta negatif. Tidak jarang ketika kesal dengan sikap mertua, menantu perempuan yang tidak memiliki kegiatan apa-apa biasanya akan semakin memupuk rasa kesalnya. Beda dengan yang punya aktivitas positif, apapun itu.

"Ya udahlah, terima saja kalau mama mertua cerewet. Mungkin beliau lelah dan jenuh. Bersyukur aku punya banyak kegiatan jadi gak jenuh,"

 

4. Jangan balas jika mertua berkata pedas atau memanas-manasi

"Dulu sebenarnya si Fulan kan mau diambil mantu dokter,"

"Dulu banyak banget cewek-cewek yang nelponin si Fulan,"

Jujur, sebagai istri yang normal mungkin hati kita ngerasa tersilet. Ngapain sih membicarakan masa lalu. Ngapain nunjukkin atau pamerin seolah-olah suami kita dulu itu laris banget dan seolah kita ini sangat beruntung sedangkan dia tidak.

Wajar dan normal ada perasaan begitu, tapi STOP. Udah, jangan berimajinasi lagi.

Diam dan senyum saja ketika ibu mertua bercerita seperti itu. Tunjukkan bahwa kita adalah istri yang bijak, bukan istri yang emosional. Diam dan senyum saja, jangan pernah dibalas semisal, "Oh iya Ma, saya dulu juga dikejar-kejar cowok-cowok sepropinsi dan semuanyaa berpotensi," nah ini malah menunjukkan sikap gak dewasa.

Positif saja. Bisa jadi ibu mertua cerita seperti itu hanya sekadar ingin cerita dan menunjukkan bahwa kita yang dinilai beliau punya banyak kelebihan ini setara kok dengan anaknya. Pantas, kok. 

 

5. Tunjukkan dengan bukti, bukan ucapan

Jika ada stereotip yang kurang bisa diterima hati, lagi-lagi jangan dibalas tapi cukup buktikan saja. Itulah sebaik-baiknya jawaban.

Misal, ibu mertua bilang, "Kalau orang anu itu baiknya di depan aja tapi di belakang ngedumel," karena faktanya kita dan suami memang beda suku

Buktikan dengan kenyataan bahwa kita bukan orang bersuku anu yang hanya baik di depan. Time will answer.

 

6. Don't take it personally

Sikap yang paling nyaman ketika ibu mertua ngomong macem-macem adalah ini: DON'T TAKE IT PERSONALLY

Misal ibu mertua membandingkan kondisi beliau dulu dengan kondisi kita, "Kalau mama dulu ... kalau kalian enak. Kalau kamu mungkin enggak sekuat mama ...,"

Jangan dibalas. Senyumin aja karena ibu mertua mungkin sedang butuh mengeluarkan uneg-uneg. Beliau sejatiny ingin seperti kita, that's why benar sekali kata ibu mertua bahwa kita enak. Aminin saja. Bukankah kata-kata adalah doa, terlebih yang keluar dari sosok seorang ibu.

 

7. Akan lebih baik jika mandiri karena setiap pasutri punya aturan masing-masing

Bagaimana pun juga setiap rumah tangga memiliki peraturan yang berbeda seperti halnya sebuah negara. Itu sebabnya, yang paling enak memang tinggal sendiri (mandiri) entah itu ngontrak atau sudah rumah sendiri. Konflik pun bisa diminimalisir.

 

8. Senyum bukan berarti mengikuti semua saran, jangan bersikap frontal

Ketika ibu mertua menasihati hal-hal yang sifatnya mitos, walaupun kita tidak setuju, tapi sebaiknya jangan bersikap frontal. Dengarkan saja, jangan dibantah. Namun kalau untuk masalah dijalankan atau tidak ya nanti dulu.

Sikap frontal hanya akan menyakiti hati. Tentu kita tidak mau, kan. Jangan sampai menyesal setelah bicara.

 

9. Jangan memarahi suami di depan ibu mertua

Ada kalanya kita kesal dengan suami. Jika itu terjadi, jangan luapkan kekesalan di depan ibunya sebab biar bagaimana pun suami adalah anaknya. Mana ada orangtua yang bahagia melihat anaknya dikasari menantu. Jika ingin marah ke suami ... nanti ... tunggu pas ibu mertua enggak ada. Huehehe. Ini namanya marah pada tempatnya.

 

10. Jadilah pendengar yang baik

Seiring dengan pertambahan usia, ibu mertua mungkin akan sering bercerita tentang masa lalu, masa-masa kejayaan. Dengarkan saja. Jadilah pendengar yang baik.

 

Bagaimana, Sahabat Ummi? Sudah siap menjadi menantu idaman mertua?

Foto ilustrasi: google

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya di rumahmiyosi(dot)com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});