Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Kesehatan
  4. /
  5. Mengenal Kanker Nasofaring

   Rubrik : Kesehatan

Mengenal Kanker Nasofaring

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 1139 Kali

Mengenal Kanker Nasofaring
Mengenal Kanker Nasofaring

 

Sahabat Ummi, tak banyak yang paham soal kanker nasofaring. Padahal, di Indonesia keganasannya  menempati urutan keempat setelah kanker leher rahim, kanker payudara, dan kanker paru.

 

Nasofaring letaknya ada di belakang hidung dan di atas tenggorokan. Karena merupakan bagian dari kepala dan leher, maka gejala yang menyertai gangguan pada bagian nasofaring tak terlalu beda dengan gangguan kesehatan pada bagian kepala dan leher lainnya, misalnya gangguan pernapasan, pendengaran, dan penglihatan. Tak heran bila kemudian kasus kanker nasofaring (KNF) tersamarkan dengan gangguan di sekitar kepala leher yang lebih ringan, seperti flu, sinusitis, dan radang amandel.

 

Pemicu KNF

KNF lebih rentan diderita oleh ras Mongoloid—termasuk orang Malaysia, Indonesia, Vietnam—dibandingkan ras Kaukasia (kulit putih). Kondisi di Indonesia pun memprihatinkan, karena menurut WHO, Indonesia tercatat menempati urutan ketiga di dunia dalam kejadian KNF, setelah Malaysia dan Singapura.

Dr dr Cita Herawati, SpTHT-KL, ahli telinga hidung tenggorok di RS Kanker Dharmais, Jakarta menjelaskan, penyebab utama KNF adalah Epstein-Barr Virus (EBV). Virus ini sebenarnya ada pada sebagian besar orang. Namun, virus tersebut menjadi aktif sebagai penyebab kanker bila dipicu faktor-faktor lainnya, seperti sering terpapar asap. Asap ini berasal dari banyak sumber, terutama asap rokok.

Asap rumah tangga dari kegiatan memasak yang dilakukan para ibu rumah tangga pun bisa menjadi faktor risiko KNF. Apalagi bila tak cukup ventilasi dalam rumah, sehingga tak ada pertukaran udara bersih dan udara kotor dalam rumah. Termasuk dalam faktor pemicu KNF adalah paparan asap dari pembakaran dupa/kemenyan.

Lingkungan kerja dan tempat tinggal yang terpapar serbuk kimia, semisal peleburan besi, dan serbuk kayu juga rentan memicu KNF. Karena itu, lingkungan kerja dan lingkungan tempat tinggal menjadi soal utama yang ditanyakan dokter dalam proses pemeriksaan KNF.

Makanan ikut pula menjadi faktor penyebab KNF. “Seperti ikan asin, makanan yang diawetkan, dan makanan yang difermentasi. Konsumsi makanan jenis ini akan menghasilkan kandungan nitrosamine maupun precursor nitro (zat penyebab kanker, red) yang memicu terjadinya KNF,” jelas Dr Cita yang mendapat gelar doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Gejala KNF

Sebagaimana kanker lainnya, KNF tentu berbahaya bagi kehidupan penderitanya dengan kematian sebagai risiko tertinggi. Karena itu, gangguan pada bagian ini tentu tak boleh diabaikan.

Dr Cita memang mengakui bahwa KNF tidak mempunyai gejala yang spesifik, sehingga banyak pasien yang didiagnosa KNF sudah dalam tahap lanjut. Namun begitu, kewaspadaan terhadap KNF perlu ditingkatkan ketika menemukan keluhan pada empat bagian tubuh, yaitu di bagian hidung, telinga, mata, dan leher.

 

  •          Hidung. Terdapat gejala berupa mimisan ringan sampai berat. Terasa juga sumbatan pada bagian ini. Selain itu, sering mengalamipilek yang tak kunjung sembuh, sebagaimana gejala sinusitis.
  •          Telinga. Muncul tumor yang terletak di dekat muara tuba Eustachius (saluran yang menghubungkan telinga dengan nasofaring). Kondisi ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman di telinga seperti tersumbat, dengung (tinitus), bahkan sering ada rasa nyeri (otalgia). 
  •          Mata dan saraf. Terganggu fungsinya karena tumor tumbuh dan mulai masuk ke dalam lubang-lubang tengkorak yang banyak dilalui saraf. Akibatnya saraf tersebut terjepit. Kondisi ini akan mengakibatkan penglihatan ganda dan rasa nyeri di area pipi dan sekitarnya. Selain itu, terjadi gangguan menelan dan berbicara, serta kelemahan otot bahu/leher.
  •          Leher. Terdapat benjolan pada satu sisi maupun pada kedua sisi leher. Gejala ini sering disalahpahami sebagai penyakit gondok.

 

Bila keluhan pada empat bagian tubuh itu sudah dirasakan seseorang, dokter pun memerlukan keterangan tambahan seputar tempat bekerja, paparan penyebab kanker, dan riwayat keluarga. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan fisik, yang boleh jadi menimbulkan ketidaknyaman pasien disebabkan letak nasofaring yang relatif sulit dijangkau untuk diamati. Pemeriksaan ini berupa rinoskopi anterior dan rinoskopi posterior, yaitu peneropongan dari hidung sampai ke bagian nasofaring untuk melihat keberadaan tumor di nasofaring. Metode lain adalah dengan menggunakan nasoendoskopi, yaitu berupa selang yang dihubungkan dengan alat monitor. Selang dengan kamera kecil ini akan memperlihatkan tumor yang ada di nasofaring.

Serangkaian pemeriksaan fisik lainnya seperti CT-Scan dan MRI Nasofaring pun dilakukan untuk memastikan KNF. Termasuk juga pengambilan sampel jaringan dari nasofaring. Dari pemeriksaan tersebut bisa diketahui stadium KNF yang diderita pasien.

Untuk pengobatan KNF, sebagaimana jenis kanker lainnya, terdiri atas radioterapi (menggunakan sinar radiasi), kemoterapi dan kombinasi keduanya. Selalu ada peluang untuk sembuh bagi penderita kanker, termasuk penderita KNF. Asalkan pasien dan keluarga dapat bekerja sama dengan dokter dan optimisme dari semua pihak.

Selain itu pemeriksaan terhadap keluhan pada bagian telinga hidung tenggorok secara tepat dan sedini mungkin akan mencegah kondisi yang lebih parah dan komplikasi lainnya. “Yang pasti, bila ada keluhan-keluhan yang muncul pada bagian telinga hidung tenggorok, segera datangi dokter spesialis THT terlebih dahulu, bukan dokter bedah. Karena amat disayangkan bila ada pembengkakan langsung dibedah, padahal bisa jadi tindakan ini tidak tepat,” jelas Dr Cita mengingatkan.

Yuli Patilata/Asmawati

 

Hindari Risiko KNF

 

Kebersihan dan gaya hidup lagi-lagi menjadi penyebab gangguan kesehatan. Guna menghindari risiko kanker nasofaring (KNF), beberapa hal berikut perlu diperhatikan.

 

  •          Kurangi makanan asin atau yang diawetkan dengan cara diasinkan, terutama ikan asin. Proses penggaraman dan penjemuran yang lama ternyata dapat menjadikan ikan asin mengandung zat karsinogen (zat penyebab kanker). 
  •          Kurangi makanan berpengawet. Meski praktis untuk kehidupan modern saat ini, namun makanan berpengawet menyimpan bahaya bagi kesehatan. Makanan segar jauh lebih baik, walau mungkin sedikit merepotkan.
  •          Usahakan sirkulasi udara yang lancar, terutama di rumah, sehingga asap tidak mengendap di dalam rumah dan membahayakan kesehatan.
  •          Jauhi asap rokok sebisa mungkin, di mana pun berada. Faktanya, perokok pasif amat berisiko menderita gangguan kesehatan, termasuk KNF.
  •          Hindari polusi udara. Kalaupun terpaksa berada dalam lingkungan berpolusi, gunakan penutup hidung atau masker.

 

Sumber: Majalah Ummi, Kesehatan Keluarga 08-XXVIII Agustus 2016

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});