Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Uncategory
  4. /
  5. Liburan Berkualitas Tak Sekadar Senang

   Rubrik : Uncategory

Liburan Berkualitas Tak Sekadar Senang

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 6107 Kali

Liburan Berkualitas Tak Sekadar Senang

Anda sering berlibur tapi hanya mendapat kesenangan sesaat dan rasa lelah berkepanjangan? Bagaimana sebaiknya merencanakan liburan asyik, bermakna dan bermanfaat buat semua anggota keluarga?

Apa yang Anda rasakan selama liburan dan setelah pulang ke rumah? “Rasanya senang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Sayang setelah liburan selesai, badan jadi capek, dan pas lihat isi dompet menipis, pusing jadinya,” ungkap Elhida, ibu rumah tangga di Depok.

Sementara Rita mengaku lebih bahagia saat merancang liburan ketimbang saat liburannya. “Apalagi setelah selesai liburan, malas banget karena harus kembali ke rutinitas kerja,” ujarnya.

Tentu tidak semua orang merasa seperti itu. Aning, karyawati sebuah bank di Jakarta merasa semangat kerjanya langsung full setelah liburan. Demikian juga Sari, ibu rumah tangga di Padang, Sumatra Barat. “Liburan membuat segar, punya banyak hal yang bisa dikenang dan diceritakan. Serta bisa jadi ide untuk menulis,” ungkapnya.

Mengapa liburan memberikan efek yang berbeda pada tiap orang? Salahkah kalau berlibur hanya untuk bersantai? Menurut Agnes Tri Harjaningrum, penyuka traveling dan penulis buku Family Traveler, sah-sah saja setiap orang memilih apa yang terbaik menurut dirinya. “Kadang semua itu tergantung kondisi. Kalau kita sedang stres dan butuh refreshing, berlibur yang “hanya” sekadar berlibur pun bermanfaat.

Tapi jika kita bisa melihat dengan cara pandang yang lebih jauh, tambah Agnes, kita bisa mengambil banyak manfaat dari liburan berkualitas.

 

Tajamkan Pengalaman Anak

Kunci liburan berkualitas, menurut Agnes, semua anggota keluarga bisa mendapatkan banyak manfaat. Orangtua bisa menikmati waktu luang dan kebersamaan, anak-anak melakukan aktivitas yang menarik dan mendidik.

Agnes mengutip ungkapan Kristie Bunney, pakar Early Childhood Development, bahwa membawa anak pergi, baik ke taman, perpustakaan, museum, pantai atau tempat sesederhana apa pun dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak. Mereka akan lebih antusias melihat kehidupan dan senang belajar.

Cara terbaik anak belajar adalah dari pengalaman. Nah, orangtua berperan penting untuk mempertajam pengalaman tersebut, salah satunya dengan mengajak mereka liburan yang berkualitas.

Hal yang harus diperhatikan, menurut Agnes, menentukan tujuan liburan. “Sesederhana apa pun, kita harus punya tujuan dan target yang jelas. Karena ini akan menjadi  panduan kita dalam evaluasi,“ ujarnya.

Target itu bisa kita lihat saat hari H, apa saja yang belum tercapai dan masalah yang harus segera diselesaikan. Usai liburan, catatan—atau memori—pengalaman yang diperoleh selama berpetualang ke berbagai tempat itu mampu membawa manfaat jangka panjang.

 

Merancang Liburan Berkualitas

Pertama, persiapan sebelum berlibur. Selama ini mungkin kita sudah melakukannya. Namun seringkali kita hanya fokus pada masalah tiket, penginapan, transportasi, makanan, dan packing tas. Padahal, menurut Agnes, hal penting namun justru sering kita abaikan adalah persiapan fisik, misalnya jogging.

Saat berlibur tentu kita akan banyak melakukan aktivitas. Jika sehari-hari tak pernah olahraga, bagaimana badan tak remuk redam karena dipaksa berjalan seharian?

Lalu, persiapan yang tak kalah penting, menyiapkan anak agar siap berlibur. Caranya, ajak mereka mengumpulkan informasi seputar daerah tujuan. Beri buku tulis kosong—Agnes menyebutnya buku jurnal liburan, lalu minta anak mencari dan menempelkan gambar pantai, candi atau tempat menarik lain yang akan dikunjungi.

Agar buah hati makin tertarik dengan agenda liburan, ceritakan juga sejarah dan tokoh terkenal dari daerah tersebut. Ajak mereka mencari informasi, dari internet misalnya, tentang musik, makanan khas, dan budaya daerah tujuan. Minta mereka menuliskan misi atau sesuatu yang ingin mereka temukan di sana. Misi itu tidak harus yang rumit-rumit, bebaskan anak berimajinasi untuk menentukan sendiri barang atau bangunan yang ingin mereka cari.

Si kecil juga bisa, kok, diajak menyiapkan ragam permainan untuk mengisi waktu luang di kendaraan dalam perjalanan menuju lokasi. Termasuk, memilih mainan dan buku sebagai teman di perjalanan sehingga tak terasa membosankan.

Jangan lupa, libatkan semua aggota keluarga dalam membuat jadwal liburan. Sesuaikan usia anak dan aktivitas, jangan sampai berlebihan. Berikan alokasi waktu yang cukup untuk istirahat dan beribadah. Buat pula kesepakatan-kesepakatan. Misalnya tidak boleh marah-marah, ngambek, belanja berlebihan, dan lain-lain. Lengkapi dengan mekanisme reward, terutama untuk anak, agar mereka termotivasi untuk memenuhi kesepakatan tersebut. 

Kedua, kegiatan di hari H. Hal penting yang harus kita perhatikan adalah keterlibatan semua anggota keluarga dalam kegiatan ketika liburan. Jika orangtua sibuk sendiri, anak-anak tak ada kegiatan, akibatnya bisa kita duga, si kecil akan rewel dan menangis. Suasana pun jadi tak menyenangkan lagi.

Jika kita sudah membuat persiapan, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya meminta anak menemukan misi yang sudah ia tulis di buku jurnal liburan.Lalu mengumpulkan suvenir, misal batu, kayu, pasir. Minta mereka mencatat hal-hal menarik, seperti detil jarak, cuaca, percakapan unik menggunakan bahasa daerah, dan apa yang mereka rasakan.

Hal unik yang biasa dilakukan kedua anak Agnes, Lala dan Malik, mengirimkan kartu pos untuk diri mereka sendiri dari setiap kota yang dikunjungi. Saat kembali ke rumah, menunggu kartu pos itu datang satu per satu jadi hiburan yang menyenangkan buat mereka.

Lalu apa yang dilakukan orangua? Kita bisa mendampingi anak melakukan aktivitas, seperti mengambil foto saat mereka menemukan misinya. Bahkan jika anak sudah asyik dengan kegiatannya, kita tinggal mengawasi mereka sambil berbincang dengan pasangan. Saat-saat seperti ini merupakan momen yang tepat untuk membicarakan evaluasi perjalanan rumah tangga dan rencana-rencana hidup. Dampaknya, selepas liburan pikiran tak hanya segar, namun juga membawa perbaikan di masa yang akan datang.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah orangtua harus fleksibel dengan jadwal, terutama jika membawa anak-anak yang masih kecil. Akan ada banyak hal di luar rencana, jika tak hati-hati bisa menyulut emosi. “Kuncinya kita harus open mind, mengubah cara pandang dan melihat sesuatu dari sisi positif. Sesuatu yang sepele dan hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun, bisa menjadi berkualitas”, ujar istri dari Ismail Fahmi ini.

Ketiga, setelah liburan. Anda bisa meminta anak-anak merapikan buku jurnal liburan. Misalnya, menempel tiket perjalanan, suvenir dan menambahkan berbagai keterangan. Bisa juga dengan membuat Papan Kenangan berupa karton yang ditempel di tembok dan diisi dengan peta tempat-tempat yang sudah dikunjungi, foto-foto liburan dan cerita berkesan.

Jika Anda suka menulis, ada baiknya tuangkan pengalaman dan hikmah yang Anda temui selama iburan. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, menulis itu mengikat ilmu. Dengan memiliki catatan perjalanan yang pernah kita lakukan, semoga semua hal baik yang kita dapatkan selama liburan terekam kuat dalam memori dan mendorong kita untuk memperbaiki kualitas hidup, baik diri sendiri maupun keluarga.

Memang tidak mudah membuat liburan berkualitas. Butuh waktu dan perhatian yang tak sedikit. Namun jika Anda sudah terbiasa, pasti akan terasa lebih ringan. Bahkan dari waktu ke waktu semua anggota keluarga akan makin kreatif merancang liburan berkualitas. Dan yang lebih penting, hasilnya sepadan bukan?

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});