Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Ummi Menulis
  4. /
  5. Kisah Nyata: Belajar dari Orang Spesial yang Produktif

   Rubrik : Ummi Menulis

Kisah Nyata: Belajar dari Orang Spesial yang Produktif

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 1109 Kali

Kisah Nyata: Belajar dari Orang Spesial yang Produktif
Kisah Nyata: Belajar dari Orang Spesial yang Produktif

Orang kampung mengenalnya dengan nama Gian. Entah, siapa nama aslinya. Dia dikenal sebagai orang yang memiliki etos kerja tinggi. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang/kuli bangunan, penggembala sapi dan kambing, pengangkut batu, hingga buruh tani. Apa saja ia lakukan asal ia bisa dan halal. Enggan berpangku tangan dan menengadahkan tangan, itulah prinsip hidupnya. Pembawaannya ceria. Tak peduli orang lain mengejek, menertawakan, atau membicarakannya di belakang, ia seolah menulikan telinga dan tetap menatap masa depan dengan optimis. 

Adalah wajar bila ia sama seperti orang pada umumnya. Sayangnya, ia berbeda. Gian adalah orang yang diciptakan “spesial” oleh-Nya. Meskipun demikian, ia sama sekali tak pernah merasa “berbeda”. Baginya, diciptakan dalam kondisi seperti apapun, itu adalah yang terbaik.

Saat sedang menganggur, ia memang kerap kali berbicara sendiri. Tak jarang, ia juga mengamuk bila tak memiliki uang. Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama bila ada orang yang membutuhkan tenaganya. Bisa dibilang, Gian akan galau bila tak ada yang bisa ia lakukan, pun sebaliknya, ia merasa bahagia bila banyak yang ia kerjakan. Semakin berat/banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, ia semakin bersemangat. 

Mungkin kedengarannya aneh. Kita sering melihat, banyak orang yang mengeluh karena kelebihan beban pekerjaan dan sangat menanti-nantikan datangnya libur atau waktu luang. Pun, tak jarang, kita melihat begitu banyak orang yang dilahirnya tidak “spesial”, namun tidak memiliki gairah untuk hidup hanya karena suatu hal. 

 

Baca juga: Kisah Nyata: Hati-hati Menjaga Kecantikan

 

Namun, Gian justru sebaliknya.  Bila menganggur, ia galau dan mengamuk. Dan, bila melakukan sesuatu yang berguna dan menghasilkan, ia merasa bahagia. Ada banyak orang yang ingin memberinya uang secara cuma-cuma, namun ia menolaknya. Ia harus menggerakkan tangan dan kaki dulu untuk mendapatkan uang.

Kisahnya mungkin sederhana. Namun, ada begitu banyak nilai kehidupan yang bisa kita pelajari darinya, Gian, si orang “spesial”. Darinya kita belajar optimisme, bahwa, selama kaki dan tangan mau “bergerak”, maka kita akan mendapatkan sesuatu. Pun sebaliknya.

Darinya, kita juga bisa belajar untuk hidup secara “lepas” dengan tidak terlalu mendengarkan komentar negatif orang lain tentang kita. Yang penting usaha maksimal, hasilnya, biar Yang Mahakuasa yang menentukan.

Berpikir secara sederhana, berusaha semaksimal mungkin, jangan terlalu pedulikan omongan negatif orang lain, dan teruslah bersyukur karena DIA selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Itulah beberapa nilai-nilai kehidupan dari Gian, orang yang diciptakan “spesial”, namun tak mau diperlakukan spesial.

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});