Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah Islam
  4. /
  5. Kisah Abu Dzar yang Mencela Bilal, Hikmah Pentingnya Menjaga Lisan

   Rubrik : Sejarah Islam

Kisah Abu Dzar yang Mencela Bilal, Hikmah Pentingnya Menjaga Lisan

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 30870 Kali

Kisah Abu Dzar yang Mencela Bilal, Hikmah Pentingnya Menjaga Lisan
Kisah Abu Dzar yang Mencela Bilal, Hikmah Pentingnya Menjaga Lisan

Sahabat Ummi, mungkin ada di antara kita yang kadang bercanda berlebihan hingga tanpa sadar terucap kata-kata celaan pada saudara, sahabat, teman, kerabat, rekan kerja dan lain-lain. Namun, bagaimana jika saudara yang kita cela itu sedih dan tidak terima dengan celaan kita? Berikut ini kisah hikmah Abu Dzar yang mencela Bilal. Semoga bias menjadi pelajaran bagi kita…

Kisah ini bermula dari pertemuan antara Bilal dengan Abu Dzar di sebuah lorong di kota Mekah. Ketika itu Bilal sedang berkeliling menyusuri jalan di kota Mekah, kemudian bertemu dengan Abu Dzar. Ketika bertemu, Abu Dzar memanggil Bilal dengan: “Ya Ibnul aswad...! (wahai anak hitam)”.

Mendengar panggilan itu, Bilal tidak langsung menjawab ataupun menoleh ke arah Abu Dzar. Ia hanya tertunduk dan terdiam.

Setelah kejadian itu, Bilal langsung menemui Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Sesampainya di rumah Rasul, Bilal mengetuk pintu dan mengucapkan: “Assalamu’alaikum ya Rasulullah...”.

Rasul pun membalas salam tersebut dan mempersilahkan masuk. Ketika Bilal masuk dan dipersilahkan duduk oleh Rasul, Rasul heran melihat raut wajah bilal yang tidak seperti biasanya, karena Beliau melihat wajah kesedihannya.

 

Baca juga: Kisah Teladan Nusaibah Binti Kaab ra, Perempuan yang Sebanding dengan Seribu Laki-Laki

 

Melihat itu, Rasul pun bertanya: “apa yang menyebabkan engkau terlihat tampak sedih wahai Bilal...”.

Bilal pun menjawab: “Ya Rasul, saya bertemu dengan sahabat Abu Dzar. Ketika kami bertemu, Abu Dzar memenggil saya dengan panggilan: “Ya Ibnul Aswad...!” saya sadar ya Rasul, bahwa saya ini hitam. Saya juga sadar bahwa kedua orang tua saya juga hitam. Dan saya juga sadar bahwa saya berasal dari daerah yang mayoritas penduduknya adalah berkulit hitam. Tetapi sungguh ya Rasul, saya tidak ingin dipanggil seperti itu”.

Rasul yang mendengar cerita tersebut mengerti mengapa Bilal tampak sedih. Maka Rasul berkata: “ Wahai Bilal, cari Abu Dzar dan katakan bahwa Rasulullah ingin bertemu dengannya”.

Mendengar itu, bilal pun mencari Abu Dzar dan mengabari pesan dari Rasul. Setelah mendengar kabar dari Bilal, Abu Dzar langsung ke rumah Rasul untuk memenuhi panggilannya. Sesampainya di rumah Rasul, Abu dzar mengetuk pintu dan memberi salam dan dijawab oleh Rasul. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk oleh Rasul, Rasul pun bertanya: ” Wahai Abu Dzar, apa benar engkau tadi bertemu dengan Bilal?, “Benar ya Rasul”, Kata Abu Dzar. “Apa Benar engkau memangginya denga Ibnul Aswad...?, “Benar Ya Rasul” kata Abu Dzar.

Rasul pun lantas berkata,“ Sesungguhnya di dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah, dan sekarang minta maaflah kepada Bilal karena saat ini dia sedang sakit hati karena ucapanmu”.

Setelah dialog tersebut, Abu Dzar langsung memenuhi perintah dari Rasul. Dicarinya Bilal oleh Abu Dzar dan ternyata ada di rumahnya. Abu dzar memberikan salam dan di balas oleh Bilal. Abu Dzar pun lantas meminta maaf kepada Bilal sambil mengatakan, “sebagai ganti atas penghinaan yang aku lakukan kepadamu, maka injaklah kepalaku”. Mendengar itu, Bilal berkata “ Wahai sahabatku, mana mungkin aku berani menginjak kepala seorang hamba yang senantiasa bersujud kepada Tuhannya.”

Sahabat Ummi, dari kisah di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa:

1. Pentingnya menjaga lisan

Dalam surat Al Hujurat ayat 11 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Kisah di atas, menunjukkan bahwa Rasul pun keras mengingatkan Abu Dzar dengan mengatakan: “Sesungguhnya di dalam dirimu ada sifat jahiliyah”.

Kita, mungkin sering melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Dzar, sebagai bentuk pengakraban diri dengan teman atau rekan. Namun, kita tidak pernah tahu isi hati setiap manusia. Mungkin ada teman yang bias terima dengan panggilan-panggilan yang kita berikan untuknya dan mungkin ada juga yang tidak terima dengan panggilan-panggilan celaan yang kita berikan. Mari kita renungi hadits berikut: ” Barang siapa yang beriman kepada hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”.

2. Ketaatan pada Rasul

Hikmah dalam kisah tersebut yaitu ketaatan seorang Abu dzar pada Rasulullah yang bisa kita tiru. Dalam kisah tersebut, Rasul bertanya: ” Wahai Abu Dzar, apa benar engkau tadi bertemu dengan Bilal?, “Benar ya Rasul”, Kata Abu Dzar. “Apa Benar engkau memangginya denga Ibnul Aswad...?, “Benar Ya Rasul” kata Abu Dzar. Rasul pun lantas berkata, “ Sesungguhnya di dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah, dan sekarang minta maaflah kepada Bilal karena saat ini dia sedang sakit hati karena ucapanmu”.

Mendengar ucapan dan perintah Rasul, Abu Dzar tidak menjawab dengan memberikan alasan-alasan klasik, tetapi yang dilakukan Abu dzar hanya Sami’na Wa Ato’na (mendengar dan taat). Inilah keistimewaan generasi para sahabat, mereka sangat taat kepada rasulnya. Karena ketaatan dan keimanan mereka, Allah sampai memuji mereka dengan menurunkan suatu ayat yaitu dalam surat Ali Imran ayat 110.

3. Keikhlasan (mudah memaafkan dan segera meminta maaf)

Hikmah yang bisa kita ambil dalam kisah di atas adalah keikhlasan. Keikhlasan Abu Dzar untuk meminta maaf dan keikhlasan Bilal untuk memaafkan. Ikhlasnya Bilal terlihat dari ucapannya ketika dipersilahkan oleh Abu Dzar untuk menginjak kepalanya. Tetapi yang dilakukan Bilal hanya berkata: “Wahai sahabatku, mana mungkin aku berani menginjak kepala seorang hamba yang senantiasa bersujud kepada Tuhannya.”

Ketika kita meminta maaf karena salah, itu wajar. Tetapi jika kita memaafkan kesalahan orang lain itu butuh perjuangan yang luar biasa. Karena kita harus melepaskan segala macam rasa benci, dendam, ego, sakit hati dalam hati kita. Semoga kita mampu meneladani para sahabat dalam kebaikan. Semoga bermanfaat.

Wallahu’alam. 

Referensi: dari berbagai sumber

 Foto ilustrasi: google

 

 

 

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});