Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Ketika Pasangan Tidak Sesuai Harapan

   Rubrik : Pasutri

Ketika Pasangan Tidak Sesuai Harapan

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 10207 Kali

Ketika Pasangan Tidak Sesuai Harapan
Ketika Pasangan Tidak Sesuai Harapan

"Kok istriku gini, ya,"

"Kok suamiku ternyata gini, ya,"

Dunia pernikahan adalah dunia yang unik dan penuh warna. Kadang, pasutri bisa berada di puncak rasa sayang. Tapi, kadang sebaliknya: kesal. Entah itu karena alasan yang jelas atau enggak. 

Ada kalanya suami istri saling kecewa karena tidak sesuai harapan. Kondisi tersebut akan semakin runyam jika masing-masing merasa yang paling banyak berkorban.

"Padahal aku udah kerja keras tapi serasa enggak dianggap. Aku memang gini dari dulu. Gak bisa kalau seperti cowok-cowok di luar sana yang pandai berkata-kata,"

"Semestinya dia bersyukur punya istri seperti aku. Udah cantik, pinter, baik, gak neko-neko. Kurang apa coba?"

Nah, makin deh. Semakin mengingat kebaikan diri semakin membuat pasangan seolah gak berarti di hadapan kita.

Belum lagi kalau ada kedatangan tamu tidak diundang alias pihak ketiga dimana orang asing tsb mampu mengisi kekosongan jiwa. Makin parah deh kondisi. Pasutri yang tadinya adem ayem bisa rusak. Masalah yang tadinya kecil bisa melebar. Terlebih jika ditambah dengan membandingkan kekurangan pasangan dengan kelebihan orang ketiga yang baru kenal sekilas. Makin deh dunia seolah tidak memihak pada kita. Yang ada hanya benci dan kesal pada pasangan.

Lalu, what should We do?

Pertama kita harus identifikasi apakah hal yang membuat kesal itu masalah prinsip? Yang disebut masalah prinsip misal dia malas kerja, tidak setia, pindah agama, suka main kasar, atau yang serupa. Kalau iya, bolehlah kita kecewa.

Tapi kalau hanya seputaran enggak terlalu peka karena didikan keluarganya seperti itu, suka naruh barang-barang pribadi sembarangan, atau hal-hal yang sekiranya bisa diperbaiki ya sebaiknya kita juga ngaca. Janganlah terlalu perfeksionis karena kita sendiri juga enggak sempurna.

Jangan sampai keliru misal yang harusnya masalah prinsip kita abaikan sedangkan yang bukan prinsip kita permasalahkan. Misal, kita cuek-cuek aja saat pasangan pindah kepercayaan atau agama yang beda dengan kita, tapi kebakaran jenggot saat gaji pasangan turun. Nahh. Itu namany tidak pada tempatnya.

Kedua, yang harus kita pahami adalah pasangan kita bukan anak kita. Dalam artian, kita ketemunya pas udah gede. Ya jelaslah karakter dia sedikit banyak dipengaruhi oleh didikan keluarga dan lingkungan. Kalau kita ingin mengubah pun tidak bisa sehari dua hari jadi. Bukankah Roma tidak dibangun dalam waktu semalam?

Ketiga, salah satu tantangan menikah adalah memanajemen ketidakcocokan. Dan itu tidak bisa dipelajari secara instan atau sekadar teori saja. Semua berproses dan bertahap. Ada kalanya kita ingin menyerah, "Kayaknya gue gak sanggup deh," jika pikiran itu terbersit, kembali ke poin satu.

Gimana Sahabat Ummi? Semoga kita bisa jadi pejuang cinta, dalam hal ini maksudnya pejuang cinta halal untuk meraih ridho-Nya. Karena mempertahankan itu jauh lebih susah daripada mendapatkan.

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});