Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Ketika Egomu Terluka, Bersabarlah Wahai Hati

   Rubrik : Motivasi

Ketika Egomu Terluka, Bersabarlah Wahai Hati

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 6557 Kali

Ketika Egomu Terluka, Bersabarlah Wahai Hati
Ketika Egomu Terluka, Bersabarlah Wahai Hati

Ilustrasi I:

Seorang wanita, yang notabene sejak kecil sudah diajari untuk mandiri (bukan princes) dan selama sekolah menjadi siswa berprestasi dan lulusan terbaik (cumlaude), merasa harga dirinya terluka ketika dia dianggap tidak selevel dengan suaminya oleh beberapa oknum.
 
"Kamu beruntung, lhoh,"
"Suamimu itu ngenakin kamu,"
"Dulu kan Fulan mau diambil mantu presiden, tapi dianya gak mau dan milih kamu,"
"Bersyukurlah menikah dengan suamimu,"
 
Bukannya dia kufur nikmat. Toh, sejatinya dia memang bahagia menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya dan bertanggung jawab. Tapi apa perlu kalimat itu ditujukan padanya terus menerus seperti berdzikir?
 
Sebagai wanita normal yang masih dalam proses ingin jadi lebih baik, tentu kalimat seperti itu sebenarnya sangat menusuk hati. Terlebih ketika ia teringat pernah diterima tanpa tes di sebuah perusahaan internasional karena menjadi lulusan terbaik, tapi tidak ia masuki karena suaminya melarang. Sang suami lebih ridho dia di rumah dan berkarya dari situ dan dia pun enggak mempermasalahkannya.
 
Ego yang terluka dan harga diri yang tersakiti sangat sulit untuk kembali, apalagi jika tidak pernah memulai lebih dulu. Apa dia dianggap sampah yang dipungut, itu sebabnya selalu dibilang beruntung, beruntung dan beruntung. Andai saja Rasulullah masih hidup, ingin sekali wanita itu menangis dan mengadu pada Kanjeng Nabi.
 
 
Ilustrasi II:
 
Seorang wanita yang bekerja di sebuah instansi merasa sudah mengorbankan segalanya dan berbuat apa saja, tapi yang ia terima adalah sebaliknya. Ketika dibutuhkan, dibaiki. Ketika sudah tidak dibutuhkan, dibuang. Entah karena dia yang terlalu lugu apa gimana, yang jelas dia selalu diperalat. Habis manis sepah dibuang. Padahal, wanita ini sangat pintar dan menjunjung tinggi prinsip kerja dari hati, bukan cari muka.
 
Sahabat Ummi, selain dua contoh ilustrasi di atas masih banyak ilustrasi lain yang bisa kita temukan sendiri di dunia nyata yang pada intinya sama: ego kita terluka karena ulah pihak ketiga.
 
Bukan bermaksud mencari pembenaran, tapi sebenarnya adalah wajar jika sebagai manusia biasa kita sempat atau pernah terbersit perasaan semacam itu, "Udah melakukan banyak hal, tapi kok gak dihargai ya,"
 
That's why, kita perlu banyak bermuhasabah dan energi fitrah kebaikan kita tetap terjaga.
 
Mari kita renungkan sejenak, Sahabat Ummi.
 
 
1. Manusia adalah makhluk yang berpotensi suka ingkar
 
Sudah dijelaskan dalam salah satu ayat Al-Qur'an bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berpotensi suka mengingkari nikmat. Jika sama Allah saja kufur, apalagi cuma sama makhluk Allah. Dengan mengingat ini, ego kita akan melemah dan justru kitalah yang berusaha ingin memperbaiki diri agar tidak termasuk manusia yang ingkar.
 
2. Mari ingat kisah para nabi
 
Siapa nabi yang tidak pernah menderita? Tidak ada. Nabi Muhammad, Nabi Ayyub, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, dan semua nabi mendapatkan cobaan yang jaaauuuh di atas kita, tidak bisa dinalar. Sanggupkah kita diberi penyakit dan kehilangan segalanya seperti Nabi Ayyub? Sanggupkah kita berpisah jarak yang saangaatt jauhh dan tidak bisa berkomunikasi seperti Nabi Ibrahim? Sanggupkah kita difitnah lalu dipenjara seperti Nabi Yusuf? Ternyata, apa yang menimpa kita memang belum seberapa dan kita pun memang tidak sanggup jika ditimpa cobaan yang sama.
 
3. Mari ingat kisah para pahlawan
 
"Bangsa yang besar adalah bangsa menghargai jasa para pahlawannya,"
 
Jika tidak ada mereka, bisakah kita merdeka? Tidak. Sayangnya, banyak generasi muda yang tidak menghargai pahlawan yang jelas-jelas mengorbankan nyawa. Bahkan kenal saja enggan. Astaghfirullah.
 
4. Ego yang tinggi cerminan hati masih sombong walau terselubung
 
Ego yang tinggi sejatinya karena merasa tinggi. Na'udzubillah. 
 
5. Diam bukan berarti pasrah
 
Diam saat disakiti bukan berarti pasrah, tapi memang tidak ada gunanya kita balas. Apa bedanya. Kita adalah apa yang kita katakan. Kalau sahut-sahutan atau saling membalas terus apa bedanya? 
 
Sahabat Ummi, Allah tidak pernah tidur. Kita pasrahkan saja kepada-Nya. Semoga kita bisa, ya. Jadikan momen sakit hati untuk "balas dendam" dengan cara menjadi pribadi lebih baik lagi, pribadi mandiri, dan dekat dengan-Nya. Aamiin.
 
 
Penulis:
Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo penghuni www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});