Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Jangan Menghindar Ketika Ada Konflik Rumah Tangga

   Rubrik : Pasutri

Jangan Menghindar Ketika Ada Konflik Rumah Tangga

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 933 Kali

Jangan Menghindar Ketika Ada Konflik Rumah Tangga
Jangan Menghindar Ketika Ada Konflik Rumah Tangga

Sahabat Ummi, pasti pernah merasakan adanya konflik dengan pasangan hidup atau anggota keluarga lainnya ya? Plis jangan menghindar ketika ada konflik, misalnya kabur dari rumah, tidak mau berkomunikasi lagi dengan yang bersangkutan, atau pura-pura tidak ada masalah. Tidak selamanya konflik itu bersifat negatif lho. Menghadapinya jauh lebih baik ketimbang bersikap tak acuh.

 

Dalam sebuah keluarga, amatlah wajar bila terjadi konflik atau pertentangan di antara anggotanya. Sebab, meski memiliki hubungan darah, masing-masing pasti memiliki keinginan atau sudut pandang yang berlainan mengenai sesuatu hal. Perbedaan inilah yang menjadi potensi untuk munculnya konflik.

 

Jika dapat disikapi dengan baik, konflik sangat  bisa diatasi. Namun bila individu tersebut terbatas kemampuannya untuk menyesuaikan diri, mengatasi masalah, atau memiliki dorongan emosional yang terlalu tinggi, menurut Yulia Wahyu Ningrum, M.Psi, Psikolog, Direktur di Biro Psikologi Matahati Samarinda, konflik akibat ketidakcocokan karena berlawanan atau perbedaan, juga karena kesalahan persepsi dan komunikasi, tak terelakkan.

 

Pada dasarnya konflik itu netral, pihak-pihak terkaitlah yang membuat konflik tersebut bersifat negatif atau positif. Pun tak lantas tersemat istilah “keluarga tidak ideal” pada rumah tangga yang berkonflik. Karena keluarga ideal indikatornya bukanlah yang bebas konflik, melainkan keluarga yang mampu menghadapi konflik dan belajar jadi lebih baik dari konflik yang terjadi itu.

 

Sayangnya tak sedikit yang justru menghindar dari konflik, memilih untuk mengambil jarak secara emosi ketika menghadapi suatu masalah. Yulia memberi contoh perilaku menghindar yang muncul biasanya lebih sering tidur atau keluar saat ada pasangan di rumah, berdiam diri, atau kabur dari rumah. Ketika masing-masing pihak hanya saling diam dan mengalah untuk menghindari masalah, tambah Yulia, justru masalah yang dibiarkan itu akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

 

“Ibarat menghadapi macetnya jalan di Kota Jakarta, kita tidak mungkin menghindari dengan berdiam diri di rumah karena juga akan timbul konflik yang lain, misalnya anak tidak dapat bersekolah yang bagus karena ekonomi kurang, keluarga bertengkar karena uang sewa kontrakan belum dibayar. Sehingga bagaimanapun konflik memang harus dihadapi dengan strategi yang berbeda, sesuai karakter pasangan,” urai psikolog klinis di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur ini.

                 

Menyelesaikan Konflik

 

Konflik yang terjadi umumnya disertai sikap-sikap negatif dari pihak yang bertikai, seperti emosi meninggi, menyakiti, gengsi, menyalahkan, tak mau terima kritik, dan sebagainya. Ini membuat konflik makin rumit bagai benang kusut yang sulit diurai. Padahal mungkin saja masalahnya sepele dan mudah diselesaikan, namun karena sikap negatif yang dilancarkan suami maupun istri atau antara orangtua dan anak, konflik justru bertambah runyam.

 

Dari kasus-kasus yang kerap ditangani Yulia, pasangan suami istri yang bersikap seperti itu biasanya sebagai benteng pertahanan diri atas kesalahan yang dilakukan. Misalnya, Yulia mencontohkan, suami selingkuh dan tidak bertanggung jawab, maka untuk menutupi perilakunya itu ia jadi sering marah dan selalu membuat konflik dengan mencari hal-hal kecil untuk dijadikan bahan amarah kepada pasangannya. “Jika sikap ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin pasangan akan merasa tidak nyaman, merasa terintimidasi, merasa bersalah, dan hilang rasa percaya diri.”

 

Penyelesaian konflik, imbuh Yulia, tidak harus dengan anarkis atau agresif. Sikap tenang dan bersahabat, juga menyiapkan konflik agar mampu beradaptasi dengan stres ketika konflik itu terjadi, justru cara terbaik menghadapi konflik. Yulia menyarankan langkah-langkah berikut untuk menyelesaikan atau meredam konflik di dalam keluarga:

  1.        Membuat aturan atau budaya di dalam keluarga yang disepakati semua anggota. Misal, dilarang berkata kasar atau mengumpat. Aturan seperti ini cukup memberi batasan pada anggota keluarga dalam menyatakan amarahnya.
  2.        Biasakan meminta maaf. Hal ini berlaku pula untuk orangtua terhadap anaknya. Jika orangtua tak segan minta maaf dan mengakui kesalahan, disertai alasan yang sesuai logika dan tahapan pertumbuhan usia anak, maka ini akan menjadi nilai yang dapat diteladani anak.
  3.        Lakukan komunikasi yang efektif dan saling pengertian dengan berdiskusi atau menghargai pendapat semua anggota keluarga, termasuk anak. Kedua pihak sama-sama mau mendengarkan keluhan atau perasaan masing masing. Sampaikan pendapat dengan terbuka, gunakan verbal dan bahasa tubuh yang sesuai dengan usia anak.
  4.        Fokus pada inti permasalahan atas konflik yang terjadi saat ini dan solusinya. Hindari membuka permasalahan masa lalu atau berangan-angan masa depan.
  5.        Kritik atau saran disampaikan demi perbaikan rumah tangga atau demi perkembangan positif anak-anak, bukan ego pribadi. Selain memberi kritik, siap pula untuk menerima kritik dan saran.
  6.        Temui mediator untuk menyelesaikan masalah, jika diperlukan. Yaitu orang yang dianggap dewasa atau dituakan, juga ahli yang kompeten di bidangnya, seperti ustadz dan psikolog.

 

Yang terutama tentu saja mengedepankan nilai-nilai agama dalam menyelesaikan konflik,  seperti sikap saling menghargai, sopan santun, saling menghormati, tidak emosional, serta menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan dari setiap persoalan.

 

Sumber: Majalah Ummi edisi Januari 2018

Rahmi Rizal

Wawancara: Isti Muthmainnah


Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});