Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Quran
  4. /
  5. Jamuan Ramadhan

   Rubrik : Quran

Jamuan Ramadhan

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 1106 Kali

Jamuan Ramadhan
Jamuan Ramadhan

“Akan datang pada kalian sebuah bulan yang penuh berkah,” pada suatu kala sang Nabi berkhutbah menyambut Ramadhan, demikian menurut hadits yang dibawakan Imam Muslim. “Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu.”

 

Inilah detak-detik istimewa yang sebulan utuh panjang merentang. Inilah bulan teragung, yang mengandung lapis-lapis berkah sambung-sinambung.

 

“Bulan Ramadhan yang diturunkan Al-Quran di dalamnya, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk itu, dan sebagai pembeda antara yang benar dan yang keliru. Maka barang siapa hadir di negerinya pada bulan itu, hendaklah dia berpuasa padanya, (QS Al-Baqarah [2]: 185).

 

Di tengah terik membakar, peluh yang meruyak dari pori, kita meresak jiwa akan sejuknya puasa. “Ajruki ‘ala qadri nashabik, pahalamu sesuai kadar payahmu,” ujar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Bunda ‘Aisyah. Adakah hari di mana sepoian lembut angin padang membelai begitu nikmat? Adakah waktu di mana syaithan dibelenggu, hingga hirupan napas pun terasa mengandung keshalihan?

 

Ramadhan, malam-malam yang ditingkahi indah syahdu kalam Ilahi. Kecuali jika kita adalah syaithan dari golongan manusia, alangkah manisnya hari-hari itu. Saat shalat malam adalah kegiatan yang benar-benar ‘menghidupkan’. Saat kita begitu rajin, karena kokok ayam didahului dering jam yang membangunkan. Kita mengiba ampun di waktu sahur serta menyantap hidangannya, membekali ketaatan jiwa dan raga. Dan kita menjadi pemburu kebaikan dalam penyegeraan berbuka bersama-sama di masjid, disambung berjamaah shalat Maghrib.

 

Siang itu, betapa hati-hatinya kita, karena Allah tak membutuhkan lapar dan hausnya lisan yang terus berdusta, menggunjing, mencela, dan ke sana kemari menabur bunyi-bunyi kesiaan. Betapa hati-hatinya kita, karena ini ibadah rahasia; hanya aku dan Allah yang tahu. Lalu adakah kalimat syukur yang terasa begitu nikmat diucap seperti saat tetes pertama air membasah kerongkongan? Laka shumtu Yaa Rabbii, wa bika amantu...

 

Di sela-sela panggilan Ar-Rayyan yang mengetuk-ngetuk, di tengah syahdu Kalamullah bicara tentang puasa, di saat keriut membunyi lambung, di waktu misik mewangi mulut dan lemah bertambah-tambah, para shahabatridhwaanullaahi ‘alaihim jamii’an disapa oleh kelembutan-Nya. Geliang tubuh mereka di ladang-ladang, peluh yang menguras daya, dan jihad yang berdarah-darah di saat shaum, disambut Allah dengan kalimat yang begitu dekat, begitu akrab, begitu mesra:

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini dekat. Aku menjawab permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,” (QS Al-Baqarah [2]: 186).

 

Agungnya keakraban di lapis-lapis keberkahan itu tampak dalam khithab-nya, kepada siapa Allah bicara. Memang, orang beriman akan bertanya pada Rasulullah, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku.” Tetapi untuk menjawab pertanyaan itu, Allah tidak berfirman, “Faqul inni qariib, maka katakanlah hai Muhammad bahwa Aku adalah dekat.” Allah mengubah khithab menjadi begitu langsung dan merasuk kepada jiwa-jiwa imani, seolah tanpa perantara, “Fa inni qariib, maka sesungguhnya Aku ini dekat.”

 

Inilah kedekatan, keakraban, kemesraan. Dan Allah memilih kedekatan yang menggambarkan siapa Dia dan siapa kita. Allah memilih keakraban yang menunjukkan keagungan dan kasih sayang-Nya. Allah memilih kemesraan yang melukiskan hajat dan harap hamba pada Rabb Yang Mahakuasa. Itulah doa dan ijabah. “Aku menjawab permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.”

 

Di saat puasa mengeringkan bibir, memayahkan jasad, namun memperkaya jiwa; lapis-lapis keberkahan ada dalam doa yang diijabah, ibadah yang dilipatgandakan pahalanya, dosa-dosa yang diampuni, dan kemesraan dengan Ilahi.  Jiwa-jiwa para murid madrasah Ramadhan diantar untuk menggapai takwa dan kembali suci.

 

Ramadhan, dalam makna yang dekat dengan perut adalah saat kita mampu menjaga makanan agar terjaminkan kedekatan agung dengan Allah. Di saat puasa, kita jaga pencernaan kita dengan yang halal dan thayyib sejak terbit fajar hingga terbenamnya mentari semata karena menaati Allah dan mencintai-Nya. Maka sungguh ia menjadi cermin, bahwa di luar Ramadhan kita harus menjaganya dari yang syubhat dan yang haram. Jika dari yang halal saja kita bisa menjaga selama berpuasa, maka dari yang syubhat, apalagi haram, insya Allah kita bisa.

 

Karena sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena darah yang mengalir dari saripati makan haram, syaithan berselancar ria di pembuluh-pembuluhnya. Karena anggota tubuh yang dialirinya, mudah teresonansi oleh frekuensi kemaksiatan. Tergetar hati kita bukan oleh asma Allah, tetapi oleh selainnya. Berdesir jantung kita bukan oleh kalimat-kalimat-Nya yang suci mulia, tetapi justru oleh huruf, suara, dan rerupa yang menjijikkan nista.

 

Jagalah makananmu, begitu Ramadhan berpesan. Karena, betapa setiap tetes barang haram menjauhkan kita dari Allah selautan. Setiap keratnya, menghalangi doa-doa dan komunikasi mesra kita dengan-Nya, sekuat beton berlapis baja.

 

Semoga pesan Ramadhan pada perut kita menggema hingga ke liuk-liuk usus. Allahumma innaka 'afuwwun,tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii. Di sayup tilawah tadarus malam, proklamasi langit itu menggema, "Adapun puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya."

 

 

Tazkiyatun Nafs 06-XXVIII Juni 2016

Salim A Fillah

Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});