Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Pasutri
  4. /
  5. Inilah Hikmah Menikah Muda untuk Menjaga Diri dan Hati

   Rubrik : Pasutri

Inilah Hikmah Menikah Muda untuk Menjaga Diri dan Hati

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 1752 Kali

Inilah Hikmah Menikah Muda untuk Menjaga Diri dan Hati
Inilah Hikmah Menikah Muda untuk Menjaga Diri dan Hati

Sahabat Ummi, wajar bila kita memiliki ketertarikan terhadap seseorang yang dianggap menarik, entah karena penampilan fisiknya, kecerdasannya, atau mungkin kepribadiannya. Bila jujur pada diri sendiri, mungkin di setiap bidang yang kita geluti, akan ada seseorang yang membuat hati merasa "berbeda". Entah hanya simpati biasa atau mungkin lebih daripada itu. Yang jelas, bila kita jujur, ada begitu banyak orang yang memiliki kemungkinan untuk kita sukai dan sebaliknya (menyukai kita). Bedanya, rasa suka itu ada yang berlanjut, namun ada yang berhenti di satu titik karena hal tertentu. Ada yang diungkapkan dan ada yang hanya dipendam untuk kemudian menguap begitu saja.


Lalu, apa hubungannya dengan menikah muda?
Bagi beberapa orang modern di zaman sekarang, menikah muda mungkin dianggap seperti penjara. 


“Ah, gak bisa ngecengin cowok keren lagi!”
“Kalau udah nikah ntar gak bisa tepe-tepe lho sama orang-orang keren!”
“Huft... gak bisa ngerasain deket dengan cowok-cowok keren, deh!”
“Serius, kalau udah nikah nanti gak bisa tolah-toleh lagi. Dunia bagai penjara!”
“Yang nikah di usia dewasa banget aja ngerasa terpenjara boo, apalagi yang nikah di usia muda. Lo gak bakal bahagia karena gak bisa deket sama cowok-cowok keren yang mungkin lebih berprospek daripada laki lo di rumah. Dan, lo pasti nyesel deh!”


Banyak pernyataan yang seolah-olah memang mengungkapkan bahwa menikah muda itu penuh penderitaan bila dilihat dari sisi pergaulan yang menjadi terbatas. Seolah, berganti-ganti pacar atau gebetan yang dilakukan oleh orang-orang yang belum menikah itu lebih menyenangkan dan penuh tantangan daripada kehidupan orang yang menikah muda dan “hanya” berkutat dengan satu manusia yang wajahnya itu-itu saja.

Benarkah?


Tak perlu meneliti orang-orang di seluruh dunia, coba saja kita teliti orang-orang yang ada di sekitar kita, baik di dunia nyata maupun nyata. Yang manakah yang mudah galau; mereka yang berganti-ganti pacar atau gebetan yang seolah merasa paling hebat dan keren karena sering membicarakan orang dengan subyek yang berganti-ganti atau mereka yang tidak? Yang mana yang lebih mudah stres dan sakit hati? 


Mungkin, seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis di banyak tempat akan terlihat lebih bahagia secara kasat mata, tapi coba bayangkan bila kita sebagai subyeknya. Ya, kita yang memiliki gebetan di mana-mana, sibuk dengan harapan yang kita bangun sendiri, sibuk dengan perasaan kita sendiri, sibuk dengan khayalan bersama orang-orang yang kita kagumi, sibuk berandai-andai ini dan itu, kemudian seketika harapan dan khayalan tersebut hancur manakala gebetan atau orang-orang yang kita kagumi tersebut ternyata tidak “menoleh” sama sekali pada kita.


Kita, yang memilih untuk menikah muda, akan terhindar dari harapan yang sia-sia dan tidak jelas. Pun, kita terhindar untuk memberi harapan pada seseorang yang mungkin ada perasaan khusus dengan kita. Ingatlah, akan ada hati yang tersakiti saat kita sibuk berandai-andai dengan si Y dan si Z. Akan selalu ada hati yang terkoyak saat kita dengan penuh semangat membicarakan kelebihan si Y dan si Z. Siapakah yang tersakiti dan terkoyak? Tak lain adalah diri kita sendiri. Bagaimana mungkin tidak tersakiti bila semua yang kita harapkan, bayangkan, dan bicarakan itu hanyalah semu. Bila pun kita tidak merasa tersakiti, waktu kita sudah terbuang percuma untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting dan produktif.


Menikah muda, menghindarkan kita dari hal-hal absurd seperti itu, bila kita pahami dan hayati dengan baik. Ketika ada seseorang yang memiliki perasaan “aneh” terhadap kita, status kita yang sudah menjadi pasangan orang lain adalah perisainya. Rugikah? Tentu saja tidak, justru kita diselamatkan dari kegiatan yang bisa menjerumuskan masa depan kita, yaitu dalam cinta semu yang tidak jelas ujungnya.  Pun, saat kita memiliki perasaan “aneh” terhadap seseorang, entah hanya sekadar simpati atau lebih, status kitalah yang akan menjadi penyelamatnya. Manusia, bila hanya menuruti nafsu, tentu tak akan pernah ada puasnya. Dan, menikah dini yang dimaknai dengan benar, bisa menjadi penyelamat hidup manusia dalam mengendalikan nafsu. 


Sama seperti hal lainnya, cinta dua manusia berbeda jenis juga memiliki siklus. Dengan siapa pun kita bersama, hampir bisa dipastikan akan selalu melewati siklus tersebut. Bedanya, ada manusia yang bisa mengendalikan siklus cinta tersebut, namun ada yang tidak. Bila kita gambarkan, seperti inilah siklusnya:
 
Siklus tersebut bisa dibagi menjadi beberapa tahap:
 
•    Masa saling mengagumi
Di masa ini, kita tak akan menemukan kejelekan sedikit pun dari orang yang kita kagumi atau cintai. Semua terlihat indah dan manis. Segala macam jenis pujian berdatangan tiada henti, seolah di dunia ini tak ada sosok yang sempurna selain orang yang bersama kita. Saat itu, kita begitu membenci siapa pun yang membicarakan kejelekan orang yang kita cintai tersebut.


•    Masa saling “berinteraksi”
Di masa ini, kita sudah mulai saling mengenal satu sama lain. Bagaimana kebiasaannya, apa yang disukai dan apa yang tidak, seperti apa kehidupan dia yang sebenarnya, dan hal- hal lain yang sebelumnya tidak kita ketahui. Pada masa ini, kita merasa benar- benar sudah menjadi bagian dari hidupnya, pun sebaliknya. Ada kalanya kita berkata pada semua orang bahwa “hanya” kitalah yang paling mengetahui apapun yang berhubungan dengan orang yang kita cintai.


•    Masa saling toleransi
Toleransi timbul ketika mulai ada “gesekan” yang harus diterima. Di awal, mungkin kita masih memaklumi segala hal yang sebelumnya tidak kita duga dan pahami. Bisa jadi, kita mulai bertanya- tanya atau mungkin heran dengan segala sesuatu yang baru saja kita ketahui. “Oh, ternyata dia seperti ini ya!” adalah salah satu contoh komentar yang akan keluar dari mulut kita setelah mengetahui lebih dalam bagaimana sebenarnya kehidupan orang yang kita cintai. Di bagian ini, kita mulai bisa jujur pada diri sendiri akan kekurangan yang dimiliki pasangan.


•    Masa mulai ada masalah
Gesekan yang terus-menerus bisa menimbulkan percikan api yang lama-lama bisa membesar. Hal tersebut berlaku sama dalam hubungan dua manusia beda jenis yang saling mencintai, sebelumnya. Bila di awal, kita mungkin masih sabar dan menerima perbedaan yang kurang sreg di hati, lama-lama kesabaran kita dalam bertoleransi akan menipis. Kita mulai merasakan kejemuan. Bisa jadi karena seseorang yang kita harapkan untuk berubah tersebut tak juga berubah, sementara orang yang sebelumnya kita sayang tersebut berharap kita masih sama seperti dulu untuk mencintainya apa adanya. Ketidaksinkronan tersebut menimbulkan masalah. Dan, dari sinilah pertikaian bermula.


•    Masa kritis
Disebut masa kritis karena hubungan yang dijalani sudah tidak sehat. Saling menyalahkan, menyakiti, dan tak ada yang mau mengalah. Sifat jelek dari masing- masing pihak sudah diketahui masing- masing dan tak ada lagi kamuflase atau topeng untuk menutup keburukan yang sebelumnya dilakukan. 


•    Masa saling meninggalkan & membenci
Konflik yang terjadi secara terus- menerus tersebut bisa jadi tak bisa dibendung. Kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah. Dan, hubungan yang sebelumnya harmonis pun berubah menjadi sebaliknya. Bisa jadi keduanya saling membenci sekarang.


Secara umum, seperti itulah siklus orang yang jatuh cinta kemudian berhubungan dengan orang yang dicintainya. Kita sering melihat sepasang manusia yang sudah berhubungan lama, bertahun- tahun, kemudian putus. Kita juga sering melihat bagaimana seseorang dengan penuh semangat menceritakan segala macam kebaikan orang yang dicintainya, namun beberapa waktu kemudian ia bercerita dengan penuh derai air mata. 


Bila kita amati di media sosial seperti facebook, mungkin kita akan banyak menemui orang-orang yang secara tidak langsung menceritakan kondisi hubungan cintanya melalui status-status yang terasa begitu indah dan menyenangkan, hingga membuat orang lain yang membacanya menjadi iri. Namun, jangan heran bila beberapa saat kemudian statusnya berubah menjadi umpatan. 


Lalu, apa hubungan kondisi tersebut dengan menikah muda? Tentu saja ada. Semua pasangan hampir selalu mengalami siklus di atas. Mereka yang sering berganti- ganti pacar memiliki alasan yang hampir sama, yakni tidak ada yang cocok atau bosan. Itu sebabnya, berganti-ganti pasangan bukanlah tindakan solutif karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Sebaliknya kita juga bukan satu-satunya yang baik karena ada yang lebih baik, lagi dan lagi. 


Bila ternyata siklusnya hampir selalu dipastikan sama, lalu mengapa kita membuang-buang waktu untuk hal- hal yang tidak pasti. Bukankah akan lebih baik bila energi tersebut kita gunakan untuk hal- hal yang lebih penting? Tak salah bukan bila kemudian menikah muda yang didasari dengan niat tulus kemudian bisa menjadi “pengaman” atau “alat” untuk menjaga hati dan pikiran kita. 

 

Referensi:

Prastari, Aprilina dan Miyosi Ariefiansyah. "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya". 2013. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Yuk, jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan Dapat Majalah Ummi (free ongkir)
Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny
Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#No.HP#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});