Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Motivasi
  4. /
  5. Gunakan Baper pada Tempatnya

   Rubrik : Motivasi

Gunakan Baper pada Tempatnya

  Ditulis Oleh miyosimiyo Dibaca 592 Kali

Gunakan Baper pada Tempatnya
Gunakan Baper pada Tempatnya

Terlalu perasa bikin kita mati gaya. Repot juga kan kalau apa-apa mesti nunggu approval alias persetujuan orang lain. Sebaliknya, enggak punya perasaan atau enggak peka membuat kita seolah bukan manusia. Padahal yang membedakan manusia dengan robot salah satunya adalah manusia PUNYA PERASAAN alias KEPEKAAN.

Tidak semua yang berhubungan dengan perasaan itu baik atau buruk. Semua kembali pada konteksnya.

Misal, kita terharu melihat perjuangan ibu single parent yang sukses mendidik anak-anaknya menjadi "seseorang". Masa sih iya dalam konteks tersebut keharuan kita disebut cengeng? Rasanya kurang tepat ya bila ada yang komen seperti itu toh jika yang komentar diberi posisi sama dengan si ibu single parent tersebut juga belum tentu bisa melalui dengan baik, bisa-bisa malah setiap hari jejeritan. Who knows. Maka, dalam konteks seperti itu baper yang dimaksud bisa dibilang positif, membuat seseorang terinspirasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Contoh lainnya, ketika kita melakukan kesalahan (yaa namanya manusia), kemudian diingatkan oleh sahabat kita dengan cara yang baik. Dan ternyata, kita enggak terima kemudian menuduh aneh-aneh, "Kamu emang iri ya sama aku pantesan gitu," Nah dalam konteks ini baper yang dimaksud bersifat negatif. Seharusny kita dengarkan dulu masukanny, kita renungkan dan endapkan, baru kemudian kita bicarakan.

Dalam kehidupan sosial, mengelola atau menyikapi baper ini bisa dibilang susah-susah gampang. Semakin kuat ikatan emosionalnya, biasanya baper akan mudah terjadi. Tidak jarang, dua sahabat yang tadinya akrab melebihi saudara tiba-tiba bisa berubah drastis jadi bermusuhan. Padahal sesungguhnya mereka tidak saling benci. Atau sebaliknya, jika di awal sudah enggak sukaaa, diberi masukan yang berbeda sedikit (padahal tidak ada maksud benci atau yang lain) langsung kecewa, sakit hati, terluka, merasa teraniaya, lalu putus hubungan. Ehm ...

 

baca juga: Agar Tidak Mudah Terbawa Perasaan Alias Baper

 

Bagaimana ya kira-kira agar kita bisa menggunakan baper pada tempatnya? Sahabat Ummi, kita sama-sama belajar ya. Konon, wanita (selogis apapun dia) tidak bisa dimungkiri memang bisa lebih sering baper. Hmm...

Yang pertama, jangan jadi orang yang terlalu perfeksionis. Wajar semisal kita salah, manusia biasa gitu. Jadi enggak usah frustasi ketika dikritik karena melakukan kesalahan, apalagi sampai mengurung diri kemudian bunuh diri. Santai saja. Kita manusia normal. Salah itu biasa. Yang penting adalah mau belajar dari kesalahan tersebut.

Yang kedua, bersikaplah terbuka dengan apa yang ada di sekitar. Don't take anything personally, terutama hal-hal yang bisa mengiris hati.

Yang ketiga, jangan memposisikan diri sebagai korban. Kok bahagia sih jadi korban. Ya, kan? Dikritik 100 orang? Santai aja sih (walau hati ngap-ngapan, namanya manusia normal ya). Lihat di luar sana, ada yang dihujat sejuta orang ya tenang aja. Lhah, kita cuma seratus orang udah pengin gilaa. 

Yang keempat, bersikap profesional. Misal, untuk hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan rasanya sangat tidak etis kalau kita stay cool sok enggak peduli. Sikap solutif hanya dimiliki oleh orang yang peka pada sekitar. Logis, kok. Sekarang gimana bisa ngasih solusi kalau yang bersangkutan tidak peduli? Untuk hal-hal seperti ini, baper positif sangat diperlukan. Tapi untuk hal-hal yang berhubungan dengan pribadi, ehm ... sebaiknya kita berusaha untuk tidak berprasangka karena kita tidak tahu persis motif orang yang berpotensi bikin baper itu apa. Sengaja atau tidak sengaja biarkan itu menjadi urusan dia dengan Yang Di Atas. Kita harus melanjutkan perjalanan hidup, enggak boleh terjebak baper negatif.

Bagaimana, Sahabat Ummi? Semoga kita bisa menggunakan baper pada tempatnya, ya. Mari terus belajar.

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo "penghuni" www.rumahmiyosi.com ini adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar.

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});