Aktivitas Wanita di Balik Jeruji

Kamis, 01 April 2010 WIB |
2288 kali | Kategori: Ragam


            Ngeri. Perasaan itulah yang menghantui Ummi saat mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Paledang, Bogor. Pintu bercat abu-abu berdiri kokoh menyambut angkuh kedatangan kami. Setelah tiga kali mengetuk pintu, sipir penjara menampakkan batang hidungnya. “Sudah ada janji?” tanyanya tegas.

            Begitu memasuki area penjara, ah, betapa mencengangkan. Para napi dapat beraktivitas normal—meski dalam pengawasan—layaknya orang yang tidak terjerat hukum.

            Siang itu, tampak belasan tahanan pria asyik main futsal. Sayup-sayup terdengar hentakan musik dari aula. O, ternyata beberapa di antara mereka sedang berlatih band.

            Pemandangan tak kalah mengejutkan saat Ummi mencermati pergaulan antara petugas lapas dengan narapidana. Mereka berbaur nyaris tanpa sekat. Pelayanan yang ramah dari para tamping dijamin membuat tamu merasa nyaman.

            Siapa itu tamping? Dia adalah warga binaan yang terpilih sebagai tenaga pembantu lapas. Hati-hati, jika tidak jeli, Anda bisa terkecoh mengira mereka bagian dari tamu lapas.

            Intinya, Ummi justru menemukan warga binaan tampak ceria. Lalu, di mana warga binaan wanita?

 

Wanita 'titipan' di LP Pria Dewasa

            Rika Aprianti, Amd.IP, S.Sos, Msi, Kepala Subsie Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Paledang menyambut ramah kedatangan Ummi. Sambil mengajak kami berkunjung ke kamar napi wanita, ia mengawali percakapan, “Sebenarnya, Lapas Paledang bukanlah LP wanita tapi LP pria dewasa.”

            Itu sebabnya, terasa ada diskriminasi ruangan bagi para tahanan wanita. Jika kamar untuk pria ada empat blok, wanita harus puas hanya dengan satu kamar. Saat ini tercatat ada 98 warga binaan wanita menyesaki ruangan berukuran 7 x 5 m2. Padahal, kapasitasnya hanya untuk 22 orang. Mereka 'menginap' di sana karena berbagai kasus. Umumnya, karena narkoba dan penipuan.

            Masalahnya, sampai saat ini wilayah seperti Bogor dan Depok belum memiliki lapas khusus wanita. Akhirnya para napi wanita itu 'dititipkan' di Lapas Paledang. “Kenyataannya, mereka menjalani masa pidananya hingga bebas di sini,” kata wanita lulusan Universitas Indonesia jurusan Manajemen Pengembangan SDM itu.

           

Berubah era, berubah wajah

            Perubahan zaman ikut mengubah wajah lapas. Pemerintah sepakat merevisi berbagai  kebijakan dengan satu tujuan, me-manusiawi-kan narapidana. Misalnya, sebutan untuk napi,  kini lebih dikenal dengan panggilan warga binaan. Embel-embel penjara tergantikan menjadi lapas yang terdengar bersahabat. Lapas pun berkesempatan menjalin kerjasama dengan lembaga yang bersedia berbagi keterampilan.

            Gejolak reformasi juga tampak di tubuh Lapas Paledang. Rika menyebut 2001 sebagai tahun perubahan, khususnya bagi penghuni kamar wanita. “Awalnya, kegiatan mereka hanya diisi dengan pembinaan kerohanian. Sekarang sudah beragam,” akunya.

            Untuk menentukan aktivitas, Lapas Paledang membentuk tim terdiri dari petugas lapas, warga binaan dan instansi. Saat ini, mereka dapat menikmati kegiatan pesantren bagi umat Muslim, kebaktian untuk nasrani, bimbingan agama bagi ananda (BABA), senam, peer educator bagi pecandu narkoba, latihan band, marawis, menari, menjahit, sampai keterampilan tata rias dan spa.

            Meski begitu, tak semua warga binaan dapat menikmati berbagai aktivitas tadi. Alasannya, ruangan dan SDM terbatas. Rika dan tim pengajar harus menyeleksi mereka berdasarkan minat dan usia. Tanpa bermaksud diskriminasi, umumnya warga binaan yang berusia paruh baya memilih mendekatkan diri pada Tuhan. “Biasanya, mereka menjadi imam kamar dan tenaga pengajar pesantren,” ujar istri R Istiawan itu. 

            Saking banyaknya aktivitas di lapas, Rika mengaku tak ada sejengkal ruangan pun yang tidak termanfaatkan. “Ingat, mereka harus berbagi ruangan dengan warga binaan pria,” ujar wanita yang hobi berolahraga itu.

            Ya, Lapas Paledang memang tak seperti lapas khusus wanita di Tangerang dan Sukamiskin, Bandung. Di sana, berbagai pelatihan terlaksana, aspirasi pun tersalurkan. LP Sukamiskin Bandung, contohnya, memiliki ruang belajar untuk keterampilan dan pendidikan. “Tapi, kami tidak mau berhenti karena keterbatasan ini. Kami terus melakukan pengembangan seoptimal mungkin,” katanya bersemangat.

 

Deg-degan dampingi napi ikut lomba

Peraturan warga binaan harus menetap di lapas selama masa tahanan tidak sepenuhnya berlaku di Lapas Paledang. Mereka memberi kesempatan bagi warga binaan berbakat unjuk gigi berkompetisi atau tampil mengisi acara.

Namun, tak mudah bagi warga binaan eksis mengikuti kegiatan di luar lapas. Petugas lapas harus menjalani serangkaian sidang tim pengamat pemasyarakatan (TPP) terdiri dari pejabat struktural dan petugas yang mengusulkan. Selanjutnya, TPP merekomendasikan ke kepala lapas (kalapas). Jika disetujui, warga binaan boleh keluar lapas. Tentu dengan pengawalan dan pengawasan ketat.

Saat tim marawis Al-Awabin mengikuti lomba, misalnya, perlu pengawalan lima petugas lapas. “Itu yang kasat mata. Selebihnya, petugas berpakaian preman,” kata Rika menirukan ucapan mantan Kalapas Paledang Ibnu Chaldun.

Walau terkesan ribet, tetap tak mengendurkan niat lapas untuk menyalurkan bakat warga binaan. Baginya, hal paling membanggakan saat masyarakat mengapresiasi kemampuan mereka. Untuk prestasi, Rika menilainya sebagai bonus. “Kami ingin membuktikan kepada masyarakat, para napi itu tetap beraktivitas. Jangan mengira mereka hanya menghabiskan waktu merenungi nasib atau menghitung hari kebebasannya,” ujarnya berapi-api.

Warga binaan membalas kepercayaan itu dengan menyuguhkan penampilan terbaiknya. Pada 2008, tim penari Elpale meraih juara tiga lomba dance Bogor Trade Mall. Sementara tim Al-Awabin juara favorit lomba marawis dan qasidah Radar Bogor. Tim marawis didikan Lapas Paledang ini juga pernah tampil di hadapan pejabat Istana Bogor dan Balaikota.

 

Harapkan optimisme bukan pekerjaan baru

            Ada tiga alasan yang membuat lapas getol memberi keterampilan. Di antaranya,  membangkitkan kepercayaan diri, pikiran positif dan optimisme warga binaan. Dengan bekal tadi, Rika berharap mereka mau menjalankan hidup lebih baik selepas dari tahanan. “Jadi, tujuannya bukan untuk memudahkan mereka mendapat pekerjaan,” katanya.

            Ia berpesan masyarakat tak mengucilkan mantan warga binaan. Sebab, banyak di antara mereka yang sukses meski pernah hidup di penjara. Bahkan, ada mantan napi Lapas Paledang yang kini menjabat sebagai manager perusahaan telepon seluler. “Saya merekrut 'alumni' warga binaan untuk jadi penjahit di butik saya,” ucapnya bangga.

            Meski telah mengalami perubahan, Rika bermimpi kelak lapas tak hanya sebagai tempat pemidanaan. Tapi, lembaga pendidikan dan pembinaan layaknya sekolah yang memiliki kelas untuk belajar, kerohanian, olahraga, keterampilan, sampai kesenian. “Wah, kalau ngebayangin indah banget, deh,” ujarnya sembari menerawang.

 

Beri keterampilan, keluar dapat sertifikat

            Berada dalam penjara ternyata memberi kesempatan warga binaan memperdalam ilmu agama. Lapas menggandeng Universitas Ibn Khaldun (UIKA) dan Departemen Agama membuka kelas pesantren Al Hidayah. Uniknya, mereka tak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan untuk menjadi santri, sebab agenda ini berlangsung tiap hari.

            Program andalannya, teknik cepat membaca Al-Qur'an. Nah, bagi santri yang lulus  berhak mendapat sertifikat. Sementara warga binaan yang kompeten berkesempatan menjadi pengajar. Materinya mengacu pada silabus UIKA.

            Sore itu, Ummi berkesempatan melihat aktivitas napi wanita berlatih tata rias pengantin dan spa bersama LPK Ratih. Lilis Kurniati (40), sang instruktur, mengaku baru kali pertama berkesempatan mengajar warga binaan.

            Awalnya ia mengaku takut. Namun, perasaan itu sirna saat para napi menyambut hangat kedatangannya. “O, ternyata di lapas banyak juga ibu-ibunya,” ujar Lilis mengenang kesan pertama berjumpa narapidana.

Dua bulan selepas pelatihan, tim pengajar mengevaluasi kemampuan para peserta. Selanjutnya, mereka akan menerima sertifikat. Harapannya, dengan bekal itu warga binaan dapat meraih peluang kerja yang lebih baik.

            Siti (30), salah satu dari 20 warga binaan yang beruntung terpilih menjadi peserta pelatihan. Pengalaman ini amat berharga buatnya, terutama untuk mengisi aktivitas selama di lapas, rumah yang menjadi tempat tinggalnya sampai 2013. “Ini kesempatan emas. Sebelumnya saya tidak pernah ikut kursus. Di sini semua gratis,” imbuhnya sembari tetap fokus merias wajah temannya.

Tinggal satu obsesinya yang belum kesampaian. “Saya mau belajar potong rambut dan buka salon!” pungkas Siti dengan mata berbinar. Ratna Kartika

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter