Suami Tak Adil

Jumat, 07 Juni 2013 WIB |
3539 kali | Kategori: Ya Ummi


Saya dan suami tinggal dengan orangtua saya. Kami berdua bekerja. Selama ini suami memberi nafkah sekadarnya, walau gajinya besar. Penghasilan sayalah yang lebih banyak terpakai.

Penghasilan suami banyak digunakan untuk mengurus keperluan keluarganya, sementara untuk keluarga saya—tempat kami tinggal—ia tak membantu apa pun. Bahkan ia tak mengizinkan saya membantu orangtua membayar seluruh biaya listrik dan telepon rumah dari penghasilan saya sendiri. Boleh membantu, asal sebagian saja.

Kami belum punya anak karena suami bilang dia tak mau repot. Mungkin karena dia lebih senang chatting dengan banyak perempuan. Dia memang suka bergaul dengan teman-teman perempuan di kantornya, bahkan bebas membonceng mereka dengan sepeda motornya.

Ummi, saya tak tahu lagi bagaimana menghadapi suami. Bijakkah kalau saya menggugat cerai saja?

 

AULIA, VIA E-MAIL 

 

Jawaban Syariah

Kewajiban memberikan nafkah dalam keluarga ada pada suami, dari kebutuhan sehari-hari sampai tempat tinggal. Tentu sebatas kemampuan suami. Untuk hal ini, suami berhak ditaati dan dilayani oleh istrinya. Tentang hak dan kewajiban masing-masing suami istri telah diatur dalam Islam.

Melihat kasus Nanda, sebenarnya Nanda tidak berkewajiban menanggung sebagian besar kebutuhan rumah tangga Nanda. Nanda berhak untuk tidak memberikan uang gaji dan berhak menuntut suami menanggung seluruh kebutuhan rumah tangga.

Cobalah bicarakan permasalahan ini dengan suami secara baik-baik. Ingatkan kewajiban suami dalam memberikan nafkah lahir dan batin. Ingatkan pula fungsi dan peran suami dan istri dalam membangun rumah tangga.

Dalam prosesi pernikahan di Indonesia, setelah akad nikah seorang suami diminta untuk membacakan shighat ta'liq yang berisikan komitmen seorang suami dalam memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Bahkan, jika suami dengan sengaja tidak memberikan nafkah kepada istri dalam waktu tertentu, maka dapat dijatuhi keputusan talak. Jadi ketika seorang suami tidak memberikan nafkah, baik dengan secara sengaja atau lalai, dan tidak menggauli istri dengan baik, maka istri dapat melakukan pengaduan ke pengadilan agama atau melakukan gugatan cerai.

Namun sebelum melakukan itu cobalah selesaikan dulu melalui penyelesaian kekeluargaan. Semoga Allah memberikan  Nanda kemudahan.

 

Jawaban Psikologi

Saran-saran Ummi di bawah ini sebaiknya Nanda pertimbangkan:

  • Sebuah keluarga yang ideal sebaiknya memiliki area tersendiri, hingga pasangan suami istri dapat menjadi “raja dan ratu rumah tangga” sepenuhnya. Bila suami dan Nanda sendiri punya penghasilan yang cukup, upayakan untuk tinggal terpisah dari orangtua, baik mengontrak atau membeli rumah sendiri.
  • Bila saat ini keputusan tinggal bersama orangtua harus tetap diambil, Nanda perlu berbicara kepada suami mengenai kebutuhan operasional rumah tangga yang menjadi kewajiban Nanda dan suami untuk menanggungnya. Perlu sekali mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal yang cukup sensitif ini.
  • Komunikasi masalah keuangan dalam rumah tangga memang perlu dicari polanya agar tidak menimbulkan konflik lain. Adanya keterbukaan dalam penghasilan masing-masing pasangan, akan membuat rumah tangga mudah membuat alokasi pembiayaan, termasuk anggaran pengeluaran dan tabungan masa depan.
  • Lazimnya, sebuah rumah tangga tentu mendambakan kehadiran buah hati. Nanda perlu menggali lebih jauh mengapa suami belum mau memiliki keturunan? Mungkin Nanda dapat meminta bantuan mertua untuk memberikan pengertian kepada suami agar tidak menunda kehadiran anak yang kelak dapat menjadi perekat hubungan dalam rumah tangga.
  • Nanda perlu menjaga penampilan di depan suami, apalagi bila mengingat suami banyak berinteraksi dengan banyak perempuan di sekelilingnya. Pemilihan busana sehari-hari di rumah, tutur bahasa, termasuk juga bagaimana melayani suami dengan baik, perlu Nanda kuasai. Semuanya membutuhkan waktu dan kesungguhan. Namun selama tujuannya untuk menyenangkan suami, tentu akan bernilai ibadah.

 

 

Jawaban Hukum

Menggugat cerai bagi seorang istri di Indonesia adalah bagian dari hak sipil yang dijamin oleh hukum Indonesia, utamanya UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, PP No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam tahun 1991. Menggugat cerai tidak semata-mata masalah hak, namun apakah memang sudah menjadi jalan keluar terakhir dari kemelut rumah tangga.

Ummi lihat kasus Nanda belum masuk pada kategori masalah yang harus diselesaikan dengan perceraian. Perselisihan masih dapat diselesaikan dengan pendekatan yang lain. 

Hukum Islam Indonesia tentang Perkawinan, sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam 1991 maupun hukum internasional yang diratifikasi Indonesia menempatkan kedudukan istri adalah setara dengan suami. Indonesia juga sudah meratifikasi CEDAW Convention (Konvensi Pengurangan Diskriminasi dalam Segala Bentuknya Terhadap Perempuan) pada tahun 1984 yang pada Pasal 16 memuat aturan tentang kesetaraan hak dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki dalam pernikahan.

Mungkin suami Nanda sudah berlaku tidak adil dan mencederai hak-hak Nanda selaku istri, namun tetap jangan jadikan perceraian sebagai solusi. Berkomunikasilah secara sehat dengan suami atau minta bantuan pihak ketiga yang dipercaya Nanda dan suami, semata-mata demi kemaslahatan pernikahan Nanda berdua. 

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter