Mendaki Tak Sekadar Melatih Fisik

Senin, 03 Juni 2013 WIB |
851 kali | Kategori: Ragam


 

 

Pendaki gunung kerap dipersepsikan secara sempit oleh sebagian orang. Mereka dicap urakan, keras, anti kemapanan, suka keluyuran, atau dekat dengan pergaulan bebas. Padahal, aktivitas ini punya segudang nilai positif yang bisa kita pelajari.

 

 

Ada semburat semangat yang menyala-nyala di hati Indra Maulana pagi itu. Bukan hanya karena hari itu awal long weekend, tapi ia juga memiliki rencana khusus, yaitu mendaki ke puncak Gunung Semeru.

Tas ransel carrier telah siap sejak kemarin. Jaket tebal wind breaker sudah beranjak dari lemari. Sedangkan sandal gunung berstandar nasional telah melekat di telapak kaki. Saatnya berangkat. Bismillah, bisiknya dalam hati.

Dua hari ke depan akan menjadi hari-hari yang cukup melelahkan sekaligus sangat menyenangkan bagi Indra. Melelahkan karena ia harus menempuh perjalanan jauh, menjauhi kenyamanan rumahnya, memanggul tas ransel seberat 60 liter dan membawanya ke ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Menyenangkan sebab setumpuk tugasnya sebagai staf keuangan di perusahaan waralaba terbesar di Indonesia akan menguap sejenak.

Yang lebih menyenangkan lagi, ia akan berjumpa dan menikmati keindahan yang menggetarkan hati di pucuk tertinggi Pulau Jawa bersama beberapa rekannya. Di sanalah ia akan menemukan kembali inspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga tentang kehidupan.

 

MERDEKA SEKALIGUS TUNDUK

Bagi Indra, mendaki gunung (hiking) tak hanya tentang refreshing dan melatih fisik. Aktivitas naik-turun gunung sebenarnya mengandung filosofi kehidupan yang dalam. “Momen saat sampai di puncak adalah saat-saat yang kegembiraannya sulit dilukiskan. Merdeka rasanya!” seru Indra. Merdeka yang Indra maksud bukan karena terbebas dari rasa lelah tapi karena keberhasilan sang pendaki mengatasi jerih payah, lelah, rasa takut dan lemah, untuk sampai di puncak.

Melengkapi perasaan merdeka tadi, keindahan alam saat berada di puncak gunung seperti mampu melelehkan rasa angkuh dan sombong. Alam yang membentang asri sejauh mata memandang membuat kita bersaksi akan kemahabesaran Allah. “Bahkan pendakian bisa membuat orang yang jarang shalat pun berhenti melangkah saat mendengar azan,” tutur pemuda yang juga aktif di gerakan Pramuka ini.

Kesadaran ketuhanan kita semakin meningkat seiring adrenalin yang terus terpompa. Hasilnya adalah sebuah perasaan merdeka, kuat, dan tunduk pada kebesaran Tuhan sekaligus. “Saya pernah shalat Subuh di atas puncak gunung. Menghadap langsung ke horizon, diliputi udara dingin yang menusuk. Pengalaman luar biasa,” kata Indra mengenang.

Seluruh kegiatan pendakian adalah pelajaran, dari mulai mendaki sampai kembali turun. Setelah melalukan pendakian, urai Indra, ada filosofi yang bisa kita dapat, bahwa seluruh rangkaian pendakian seperti melukiskan proses kehidupan itu sendiri. Kesuksesan akan diraih jika kita telah menempuh segala perih, penat, lelah, dan sakit, sambil terus memaksimalkan upaya.

“Saat sampai di puncak kita bukannya merasa bangga pada diri sendiri, tapi justru semakin tunduk dan kagum pada Allah. Tapi, kita tidak bisa terus berada di puncak. Sampai batas waktu tertentu kita harus turun lagi,” urai Indra yang sudah mendaki 15 gunung di Tanah Air.

Ada saatnya kita menanjak lalu berada di puncak gunung, ada saatnya kita turun. Begitu pula perguliran roda kehidupan.

 

MUSLIMAH MENDAKI, BISA!

Sifatnya yang refreshing, menantang, dan penuh dengan pelajaran ini membuat aktivitas mendaki gunung tak hanya digandrungi laki-laki. Sebab, hikmah yang bisa didapat dari kegiatan ini sebenarnya dibutuhkan oleh setiap orang termasuk para perempuan.

Zulfi Lasmi, misalnya, satu di antara Muslimah yang hobi hiking. Beratnya perjalanan mendaki gunung dan sensasi saat sampai di puncak membuat gadis bertubuh sedang ini senang menggeluti aktivitas pecinta alam.

Menariknya, saat mendaki, Zulfi tetap mengenakan jilbab lebar dan rok panjangnya yang dilapisi celana panjang. Memang tidak ada peraturan tertulis soal pakaian apa yang seharusnya digunakan oleh para pendaki gunung. Namun, lazimnya para pendaki mengenakan pakaian praktis dan meminimalkan jumlah helai pakaian yang dipakai agar gerak mereka tak terhambat. “Saya nyaman dengan pakaian saya yang seperti ini. Justru agak risih kalau harus memakai celana panjang saja,” komentar Zulfi singkat.

Seperti halnya Indra, Zulfi pun merasakan sentuhan ruhani yang sejuk saat mendaki. “Mendaki adalah sebuah perjalanan ruhani bagi saya. Saya bisa melihat ciptaan Allah yang begitu indah. Ciptaan-Nya membuat saya terhibur dan mampu menyeimbangkan diri setelah penat karena aktivitas sehari-hari,” jelas karyawan sebuah apotek di Jakarta ini.

Nampaknya, mendaki bisa jadi salah satu agenda liburan yang mengasyikkan. Melepas stres, mengasah fisik, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta adalah tiga sensasi yang menunggu kita di puncak gunung. Anda tertarik mencoba?

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter