Melebihkan Pengembalian Pinjaman, Termasuk Riba?

Kamis, 01 April 2010 WIB |
4652 kali | Kategori: Keuangan


Assalamu’alaikum,

Pak Gozali, suami saya meminjam uang dari seseorang untuk usaha. Apakah kami melakukan praktik riba jika saat mengembalikan pinjaman ditambah persentase dari jumlah pinjaman tersebut?

Wassalamu’alaikum.

 

Melfa, via SMS

 

Jawaban

Ibu Melfa, semoga usaha yang Ibu dan suami jalankan sukses selalu.

Mengembalikan pinjaman dengan tambahan persentase tertentu dari jumlah pinjaman belum tentu riba. Perlu dilihat lagi alasan atau dasar dari adanya tambahan pengembalian tersebut. Kalau tambahan pengembalian itu adalah hadiah, artinya diberikan atas inisiatif si peminjam tanpa ada kesepakatan sebelumnya, maka itu dibolehkan.

Tapi kalau tambahan pengembalian itu dilakukan dengan perjanjian sebelumnya, entah dijanjikan oleh pihak peminjam atau diminta oleh pihak pemberi pinjaman, maka itu termasuk kategori riba.

Lain halnya kalau tambahan itu terjadi karena adanya kenaikan harga dalam transaksi jual beli. Kalau itu, diperbolehkan. Walaupun menghitungnya dengan persen dari harga, tidak mengapa. Tapi ingat, transaksinya adalah jual-beli, bukan pinjam uang.

            Selain Ibu Melfa, banyak pula pertanyaan dari pembaca mengenai hal-hal yang berkaitan dengan riba, teutama soal pinjaman untuk bisnis. Alhamdulillah, ini menandakan kita sudah semakin peduli terhadap kehalalan dan keberkahan dalam menjalankan bisnis. Bukan semata-mata mengejar keuntungan, namun juga memperhatikan aturan syariah yang berkaitan dengannya.

            Berikut ini penjelasan yang lebih rinci mengenai praktik riba dalam bisnis.

Praktik riba sering terjadi dalam transaksi pinjam meminjam uang. Jika kita meminjam uang, lalu kita menyepakati pengembalian dengan jumlah yang lebih besar, maka selisihnya itu adalah riba. Begitu juga kalau kita sudah sepakat untuk membayar utang tanggal 10, tapi kemudian diundur karena suatu alasan, misalnya jadi tanggal 20, dan atas pengunduran tersebut kita membayar tambahan yang dihitung berdasarkan waktu terlambatnya, itu juga riba.

Kalau ada tambahan yang tidak disepakati sebagai rasa terima kasih dari peminjam, itu beda. Tanpa diminta, tanpa perjanjian apa-apa, pinjaman 100 dikembalikan 110, misalnya. Silakan saja Anda melakukan itu.

Begitu juga kalau transaksinya jual beli. Contoh, kita ingin membeli sepeda motor seharga Rp13 juta tapi tidak punya uang cash sebesar itu. Lalu teman kita membeli sepeda motor tersebut dari dealer, dan menjualnya kembali pada kita dengan harga Rp15 juta, tapi boleh dicicil. Praktik seperti ini namanya jual-beli, bukan pinjam uang, maka boleh mengambil untung.

Hal lain yang termasuk riba adalah tukar-menukar barang ribawi (gandum, tepung, kurma, emas, perak). Yakni jika barang ribawi ditukar dengan barang ribawi sejenis, maka harus ditukar dengan kuantitas dan kualitas yang sama. Jika tidak sama, maka transaksi itu termasuk transaksi riba. Misalnya, menukar kurma kualitas bagus dengan kurma kualitas jelek namun dalam jumlah yang lebih banyak. Seharusnya, jual kurma itu terlebih dahulu. Dari uang hasil penjualan, barulah kita belikan kurma yang lain. Hal ini dilakukan agar terjadi transaksi ekonomi yang lebih adil karena barang diukur dengan uang, bukan hanya dikira-kira saja untuk ditukar langsung dengan barang lain.

Adanya aturan riba bukan untuk membatasi atau menyulitkan, tapi justru melindungi kita dari transaksi yang tidak adil atau merugikan salah satu pihak. Karena jika transaksi riba dilakukan, maka akan ada dua kemungkinan, yaitu kita dizalimi, atau kita menzalimi. Tentu kita tidak inginkan itu terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Keuntungan dari Modal Bersama

 

Saya ingin join dengan adik untuk membuka warung ayam bakar dengan modal fifty-fifty. Bagaimana mengatur keuangannya?

 

Dewi, via SMS

 

Jawaban

Bicara pengaturan keuangan usaha, tentu sangat tergantung pada bagaimana cara mengelola usaha dan keinginan dari pemilik usaha. Apalagi jika modal usahanya patungan, maka pengelolaannya harus profesional dan sesuai kesepakatan para pemilik.

Sebelum memulai usaha bersama, sepakati sistem bagi hasilnya. Kalau hanya sebagai pemodal, maka bagi hasilnya mengikuti porsi modal yang diberikan yaitu fifty-fifty. Tapi kalau adik Anda yang mengelola usahanya, maka ia berhak mendapatkan bagi hasil yang lebih besar, atau digaji sesuai dengan kemampuan.

Selain itu, sepakati kapan pembagian hasil dilakukan. Ini sangat penting agar tidak mengganggu operasional usaha. Keuntungan usaha biasanya akan terus diputar, karena itu mengambil keuntungan secara mendadak bisa mengganggu arus kas usaha.

Meski tidak harus disepakati di awal, ada baiknya membuat kesepakatan mengenai porsi keuntungan yang dibagihasilkan. Dari seluruh keuntungan usaha, berapa persen yang diterima pemilik usaha, dan berapa persen yang diputar kembali. Biasanya hal ini bisa menyesuaikan dengan kondisi usaha. Jika usaha merugi atau perlu ekspansi, mungkin semua keuntungan harus diputar, bahkan bisa jadi perlu tambah modal lagi. Tapi kalau stabil, sebagian besar keuntungan bisa dibagikan.

Itu semua hanya bisa dilakukan kalau Anda melakukan pencatatan usaha. Artinya, pengelola usaha perlu menghitung berapa modal yang dipakai, hasil penjualan, dan keuntungan bersih dari usaha tersebut. Cara perhitungannya bisa lebih mudah kalau produknya sangat sedikit. Cukup menghitung berapa porsi makanan yang terjual, untuk kasus Anda, keuntungannya sudah bisa kita ketahui.

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter