Langkah-langkah Dakwah dengan Hikmah

Rabu, 24 April 2013 WIB |
1416 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


(Bagian 3-Tamat)

 

Enam langkah dakwah bil hikmah sudah kita bahas sejak dua edisi lalu. Kini sampailah kita pada tiga langkah terakhir yang mesti dilakukan dai. 

 

DAKWAH PADA PEMERINTAH

Dai hendaknya bisa membedakan antara berdakwah kepada pemerintah dan kepada masyarakat biasa. Pemerintah memiliki hak yang tidak dimiliki rakyat, yaitu hak untuk didengar dan ditaati oleh rakyatnya. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian,” (QS An-Nisa’ [4]: 59).

Sebagai objek dakwah, di antara hak pemerintah adalah, pertama, ia berhak dinasehati dengan lemah lembut. Allah swt berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua (wahai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut,” (QS Thaha [20]: 44).

Kedua, ia berhak dinasehati secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan nasehatnya secara terang-terangan! Tetapi hendaknya ia mengambil tangannya dan bersendirian dengannya. Kalau penguasa tersebut menerima nasehatnya maka sudah sepantasnya dan kalau ia menolak maka si penasehat sudah menyampaikan tugasnya,” (HR Ahmad: 14792, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah: 909 (3/101) dari Iyadl bin Ghanm ra dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096).

Jadi, dai yang mendakwahi pemerintahnya secara terang-terangan dan dengan kata-kata kasar seperti 'gantung', 'mampus', 'ganyang', 'sikat' dan lain sebagainya, berarti tidak melakukan dakwah bil hikmah.

 

MELUNAKKAN HATI

Adakalanya dai harus melunakkan hati masyarakat agar mudah menerima dakwah. Imam Ibnu Rajab berkata, “Dan kadang-kadang Rasulullah saw berusaha men-ta’lif (melunakkan hati) orang yang ingin diberi keringanan untuk tidak melaksanakan sebagian kewajiban Al-Islam agar menerima Al-Islam dulu. Baru setelah ia menerimanya dan masuk ke dalamnya serta mencintai Al-Islam maka ia akan melaksanakan segala kewajiban dalam Al-Islam semuanya,” (Fathul Bari, Ibni Rajab: 3/32).

Dari Abdullah bin Fadlalah dari ayahnya ra, ia berkata, “Rasulullah saw mengajariku. Dan termasuk yang diajarkan oleh beliau adalah, ‘Jagalah shalat lima waktu.’ Fadlalah berkata, ‘Ini adalah waktu-waktu yang mana aku dalam kesibukan. Perintahkanlah aku dengan perkara yang ringkas dan menyeluruh, yang mana jika aku melakukannya maka itu sudah mencukupkanku (dari shalat lima waktu)!’ Beliau bersabda, ‘Jagalah dua Ashar!–dan itu bukanlah dari bahasa kami’ Aku bertanya, ‘Apakah dua Ashar itu?’ Beliau menjawab, ‘Shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan shalat sebelum tenggelamnya (Ashar),’” (HR Abu Dawud: 364 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dlaif Sunan Abi Dawud: 428).

Imam Ahmad berkata, “Jika ia mau masuk Islam dengan syarat hanya melakukan shalat dua waktu maka diterima Islamnya. Jika ia sudah masuk Islam maka ia diperintahkan melakukan shalat lima waktu. Kemudian beliau membawakan hadits di atas…,” (Fathul Bari, Ibni Rajab: 3/33).

Termasuk upaya ta’lif adalah kisah kaum Tsaqif. Mereka mau memeluk Islam dengan syarat tanpa kewajiban zakat dan jihad. Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada Jabir ra tentang keadaan Tsaqif ketika berbaiat. Jabir berkata, ‘Mereka mempersyaratkan kepada Nabi saw untuk masuk Islam tanpa kewajiban zakat dan jihad.’ Kemudian Jabir mendengar Nabi saw berkata setelahnya, ‘Mereka akan mau membayar zakat dan ikut berjihad jika telah masuk Islam,’” (HR Abu Dawud: 2630 dan Ahmad: 14146 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 1888).

Contoh upaya ta’lif yang lain adalah kisah Hakim bin Hizam ra. Ia berkata,“Aku berbaiat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam (untuk masuk Islam) dengan syarat tidaklah bersujud kecuali dengan berdiri,” (HR An-Nasa’i: 1074 dan Ahmad: 14773 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An-Nasa’i: 1084).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Makna hadits Hakim bin Hizam di atas adalah bahwa ia tidak melakukan rukuk dalam shalat, tetapi membaca Al-Qur’an kemudian bersujud tanpa melakukan rukuk,” (Al-Mughni: 21/282).

Ibnu Rajab berkata,“Imam Ahmad menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran dan berkata, ‘Islam tetap sah di atas persyaratan yang rusak kemudian (setelah masuk Islam) ia diwajibkan melaksanakan segala syariat Islam,’” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 84).

 

UTAMAKAN KEMASLAHATAN MASYARAKAT

Seorang dai tak boleh kaku dalam menerapkan dakwahnya di tengah masyarakat. Dia harus menerapkan fiqih yang mudah bagi masyarakat. Ini dilakukan dengan syarat bahwa perkara yang ia tinggalkan bukanlah perkara wajib, namun anjuran biasa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra mengatakan, para imam, seperti Imam Ahmad, menganjurkan agar seorang imam tidak melakukan amalan yang lebih utama menurut dirinya—tapi kurang utama menurut makmun—jika ada maslahat menyatukan hati makmum. Misalnya, kata Ibnu Taimiyyah, jika makmum berpendapat witir tiga rakaat dengan sekali salam itu lebih utama, seorang imam, demi maslahat, dapat melakukan hal tersebut meski menurutnya yang utama adalah witir dua rakaat dan ditambah  satu rakaat lagi.

Contoh lain yang dituturkan Ibnu Taimiyyah, soal mengeraskan lafaz basmalah dalam shalat. “Jika sang imam berpendapat bahwa memelankan bacaan basmalah itu lebih utama, maka mengeraskan bacaan basmalah di depan makmum yang berpendapat lebih utama mengeraskan basmalah, untuk maslahat mencocoki dan melunakkan hati makmum adalah diperbolehkan dan baik,” (Al-Fatawa Al-Kubra: 2/355)

Rasulullah saw juga menunda membangun Ka’bah sesuai dengan bangunan Nabi Ibrahim as dan berkata kepada Aisyah ra,“Seandainya kaummu tidak baru masuk Islam maka aku akan membongkar Ka’bah dan aku akan menjadikannya di atas fondasi Ibrahim,” (HR Muslim: 2367, An-Nasa’i: 2852, Ad-Darimi: 1868 dari Aisyah ra).

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter