Kamis, 01 April 2010 WIB
|
4994 kali
| Kategori: Konsultasi Pangan

Khalimah, via SMS
Jawaban
Beras mengandung bekatul meskipun dalam jumlah sedikit. Adanya bekatul inilah yang menyebabkan air cucian beras menjadi keruh atau kotor. Bekatul berasal dari proses penyosohan beras atau gesekan antarbutir beras. Keberadaan bekatul pada beras sebenarnya tidak dikehendaki karena dianggap sebagai kotoran. Namun dalam jumlah sedikit, keberadaan bekatul pada beras dipandang wajar dan dapat diterima.
Bekatul berasal dari lapisan luar endosperm beras. Lapisan luar ini disebut sebagai aleuron. Aleuron mengandung vitamin B, protein, lemak, dan serat. Dari aspek gizi, bekatul memang baik bagi tubuh. Oleh karena itu, sebenarnya beras dapat langsung dimasak tanpa harus mencucinya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan terutama jika keadaan beras sudah bersih.
Tetapi nasi yang dihasilkan dari beras yang dimasak tanpa dicuci kemungkinan memiliki aroma dan rasa yang kurang disukai karena masih mengandung bekatul. Selain itu, mungkin juga lebih cepat basi. Masyarakat tidak terbiasa dengan hal ini, hingga kemudian terbiasa mencuci beras sampai air cuciannya bening, baru dimasak. Proses pencucian ini menghilangkan bekatul. Hal itu berarti mengurangi zat gizi beras, seperti yang disebutkan tadi, yaitu vitamin B, protein, lemak dan serat.
Mengingat beberapa alasan tersebut, maka sebaiknya kita tetap mencuci beras, cukup dua atau tiga kali, tidak sampai air cuciannya menjadi bening.
Daging Kuda
Pak, bolehkah kita mengonsumsi daging kuda? Kalau boleh, apa saja gizi yang terkandung dalam daging kuda?
Yuliastuti, via SMS
Jawaban
Daging kuda boleh (halal) kita konsumsi. Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir ra yang berkata, “Rasulullah saw mencegah kami pada hari Khaibar memakan bighal dan keledai, dan beliau tidak melarang kami kuda” (HR Bukhari dan Muslim). Dalil lainnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Asma` binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia berkata, "Kami telah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah saw, lalu kami memakannya" (Muttafaqun alaih). Atsar Ibnu Abbas dan Anas juga membolehkan penyembelihan kuda.
Daging kuda memiliki kadar protein tinggi, yaitu 21,39 persen. Kadar protein ini sedikit lebih tinggi dibanding daging sapi (20 persen). Daging kuda juga mempunyai kadar zat besi yang tinggi yaitu 3,82 mg per 100g. Sebagai perbandingan, kadar zat besi daging sapi 2,2 mg per 100g, dan daging kambing 3 mg per 100g. Zat besi penting untuk membantu membawa oksigen dalam darah merah ke seluruh tubuh. Sedangkan kandungan kolesterol daging kuda 50-60 mg per 100g, lebih rendah daripada daging sapi yang berkisar 70-84 mg per 100g.
Mengolah Ikan Nila
Bagaimana cara mengolah ikan nila yang baik untuk dikonsumsi balita? Lebih baik digoreng atau dibuat sop? Saya dengar kalau digoreng banyak protein ikan nila yang hilang. Tolong penjelasannya, Pak.
Dwi, via SMS
Jawaban
Untuk mengolah ikan nila, sebaiknya dibuat sop, tidak digoreng. Banyak hasil penelitian menunjukkan, makanan yang digoreng mengandung komponen kimia yang bersifat toksik dan tidak baik bagi kesehatan. Komponen kimia tersebut berasal dari minyak goreng yang mengalami kerusakan karena pemanasan.
Minyak goreng yang dipanaskan menghasilkan komponen kimia antara lain peroksida, aldehid, keton, hidrokarbon, dan radikal bebas. Komponen kimia yang tidak baik bagi kesehatan tersebut juga dapat terbentuk dari protein karena pemanasan suhu tinggi saat proses penggorengan.
Perlu kita ketahui, suhu minyak goreng saat proses penggorengan dapat mencapai 160-190oC, jauh lebih tinggi dibandingkan suhu pada proses perebusan atau pengukusan (100oC). Suhu yang tinggi pada saat menggoreng tersebut dapat menyebabkan kerusakan minyak dan rusaknya nilai gizi bahan yang digoreng. Proses penggorengan juga membuat minyak banyak terserap pada bahan makanan.
Berdasarkan hal-hal tersebut, sebaiknya berikan balita makanan yang diolah dengan cara dikukus atau direbus, dan hindari makanan yang digoreng.