Pinjam Uang dari Bank Konvensional

03 Mei 2010 | Dibaca : 6278 Kali | Rubrik : Keuangan
Sample Image

Pak Gozali, saya butuh tambahan modal untuk usaha dan ingin pinjam dari bank. Karena di tempat saya belum ada bank syariah, terpaksa saya pinjam dari bank konvensional. Apakah ini berarti saya ikut praktik riba? Bagaimana solusinya?

Yanti, via SMS

 

Jawaban

Alhamdulillah usaha Ibu Yanti sudah makin maju. Semoga tambahan modal ini bisa semakin mengembangkan usaha Ibu sehingga bisa memutar roda ekonomi, memenuhi kebutuhan pelanggan, dan menambah karyawan.

Bu, yang haram dan yang halal sudah jelas. Bahwa bank konvensional itu haram, dan bank syariah itu halal sudah jelas fatwanya dari Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga pemberi fatwa. Jadi saya rasa tidak perlu kita ragukan lagi.

Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah mencari solusi agar tidak terjerumus ke dalam transaksi ribawi. Saya punya beberapa usulan yang mungkin bisa dipertimbangkan:

a. Dalam memberikan pembiayaan, bank tidak dibatasi oleh domisili. Bank di Jakarta pun bisa memberi pembiayaan untuk usaha yang ada di Kalimantan, misalnya. Artinya, Anda bisa mencari bank syariah di kota lain untuk membiayai usaha Anda.

b. Beberapa cabang bank konvensiona, membuka layanan channeling, yaitu melayani transaksi syariah di bank konvensional. Untuk itu, mereka akan menempatkan staf khusus yang memberi layanan perbankan syariah dan mendapatkan izin dari otoritas.

Bank konvensional yang melayani layanan syariah biasanya memasang logo “iB” di kantor cabangnya. Jika ada logo itu, artinya mereka bisa membantu Anda untuk mendapatkan layanan syariah walaupun berada di kantor cabang konvensional. Sekarang ini rasanya kantor cabang bank syariah atau kantor cabang bank konvensional yang menerima layanan syariah sudah ada di hampir seluruh kota di Indonesia.

c. Anda bisa mempertimbangkan untuk memperoleh suntikan modal dari investor non perbankan, dengan skema yang tidak melanggar aturan syariah. Kalau memang usaha yang Anda geluti prospeknya bagus dan dijalankan secara profesional, tentunya akan banyak investor yang tertarik untuk mendanai usaha Anda.

 

 

Arisan Barang, Bolehkah?

 

Pak, bagaimana hukumnya arisan barang, seperti sepeda motor, mobil, bahkan haji? Mohon penjelasannya.

 

Cahya, via SMS

 

Jawaban

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Ada ulama yang menganggap arisan itu haram, namun ada juga yang membolehkannya.

Saya sendiri cenderung berpendapat bahwa arisan itu dibolehkan selama hak dan kewajiban setiap anggota arisan sama dan undian dilakukan dengan adil. Tidak semua arisan menggunakan undian. Ada pula arisan yang menerapkan sistem tawar-menawar. Sistem ini menyebabkan antara satu anggota dengan anggota yang lain membayar dan menerima jumlah yang berbeda. Arisan dengan model seperti ini tidak dibolehkan karena mengandung unsur riba.

Khusus untuk arisan bukan uang (barang atau jasa), akan terjadi beberapa masalah jika arisan tersebut diterapkan. Sebab, yang dibayarkan adalah uang, namun yang akan diterima kemudian adalah barang, maka terjadi pertukaran atau jual-beli. Padahal, yang namanya jual beli mesti memenuhi syarat di mana harga dan waktu serah terima harus sudah jelas di awal.

Karena waktu serah terima ditentukan oleh undian, bukan dengan akad, maka ada potensi terjadinya ketidaksempurnaan akad di antara para anggota arisan. Kemudian harga barang juga cenderung berubah-ubah, tidak selalu sama. Lalu jika terjadi kenaikan harga, siapa yang harus menambahi kekurangan? Atau sebaliknya, jika harga turun, dikemanakan sisanya? Di sini terjadi potensi ketidakadilan.

Untuk mengantisipasi hal ini, arisan barang dapat saja dilakukan dengan cara kelompok arisan membuat akad dengan penjual barang untuk membeli barang setiap bulan atau setiap minggu dengan harga tetap yang disepakati. Selanjutnya, setiap kali pengundian, pemenang mendapatkan uang yang langsung dibelikan barang tersebut. Sehingga dengan cara ini semua anggota membayar dan mendapatkan hak yang sama.

Artikel ini bermanfaat berbagi dengan sahabat Anda


Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (whatsapp)
Berlangganan WEB MAJALAH UMMI masukkan email Anda, lalu kllik Subscribe


Komentar Anda


Copyright © 2010 - 2015 Ummi Online All rights reserved.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com