Jangan Remehkan Cacingan!

Senin, 11 Maret 2013 WIB |
1642 kali | Kategori: Kesehatan


Kecuali pada kasus yang sangat berat, cacingan memang tidak lazim berakhir dengan kematian. Namun, efek yang ditimbulkannya cukup merugikan. Bahkan, bila dihitung-hitung secara ekonomis, cacingan bisa menimbulkan kerugian negara hingga ratusan milyar rupiah per tahun.

Baru-baru ini Departemen Parasitologi FKUI mengungkap hasil penelitian yang cukup mengejutkan. Dari contoh feses para siswa SD Kali Baru, Kelurahan Kalibaru, Jakarta Utara, 60 persen siswa dinyatakan positif cacingan.

Penelitian yang sama juga dilakukan pada titik-titik daerah kumuh Ibu Kota. Hasilnya kembali mencengangkan, infeksi cacing gelang sudah ditemukan pada bayi berusia 1 tahun. Angka prevalensinya mencapai 80 hingga 100 persen. Sedangkan prevalensi infeksi cacing cambuk pada usia yang sama mencapai 70 persen. Bagaimana ini bisa terjadi?

Menurut pakar parasitologi FKUI Prof dr Saleha Sungkar, media terpenting pada penularan penyakit cacingan adalah tanah. “Inilah sebab kasus cacingan lebih banyak ditemukan pada anak-anak usia SD. Mereka sering bermain tanah,” jelasnya.

Siklus cacingan dimulai dari proses pembuangan tinja yang mengandung telur cacing. Di wilayah yang prevalensi cacingannya besar, urai Saleha, banyak warga yang tidak membuang tinja ke septic tank. Memang, mereka buang air di WC tapi kotorannya disalurkan ke got atau kali.

Nah, air itu kemudian sering dipakai untuk menyiram tanah yang kering, maksudnya agar tidak berdebu. Tak jarang air kali ini juga dipakai untuk menyiram tanaman. Akhirnya, telur cacing sampai ke tanah dan tanaman. “Pada titik inilah anak-anak rawan tertular. Makanan yang tidak dicuci bersih sebelum diolah juga bisa mengantarkan telur cacing itu pada manusia,” ujar Saleha.

 

Sang Perampok

Ketika sudah masuk ke tubuh, di dalam usus telur cacing tadi menetas. Kemudian mereka merampok zat-zat gizi yang seharusnya diperoleh oleh tubuh kita. Seekor cacing gelang dapat menyerap 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 gram protein setiap harinya.

Sedangkan darah kita, setiap hari bisa diserap oleh seekor cacing cambuk dan cacing tambang 0,005 mililiter sampai 0,2 mililiter. Itu baru dari satu ekor cacing. Padahal pada pengidap cacingan, rata-rata jumlah cacing gelang, cacing tambang dan cacing cambuk dalam tubuhnya masing-masing 6, 50, dan 100 ekor.

Akibat perampokan zat gizi oleh cacing-cacing ini, penderita menjadi kurang gizi, anemia dan kecerdasan menurun. “Anak (pengidap cacingan, red) akan mengalami hambatan perkembangan fisik, kecerdasan, dan produktivitas kerja, serta menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lain,” kata Saleha. Bila hal ini terjadi secara meluas maka akan bermuara pada menurunnya kualitas manusia Indonesia. Hasil akhirnya, angka kemiskinan meningkat.

Lalu, berapa sebenarnya kerugian negara secara ekonomis akibat cacingan? Menurut hitungan Departemen Kesehatan RI, hanya dari ulah cacing gelang, negara bisa merugi sampai 15,4 milyar rupiah per tahun. Itu berdasarkan jumlah karbohidrat yang dirampok oleh cacing gelang. Sementara, bila dihitung dari jumlah protein yang hilang, kerugian negara bisa mencapai 162,1 milyar rupiah per tahun. Jelas sudah, cacingan menjadi salah satu hambatan bagi pembangunan bangsa.

 

Deteksi Sebelum Mengobati

Penyadaran kepada masyarakat akan bahaya cacingan terus dilakukan pemerintah. Namun, beberapa kalangan merespons informasi ini secara berlebihan. Mereka memberikan obat cacing setiap 6 bulan sekali pada anak-anak mereka tanpa mendiagnosa terlebih dulu secara klinis.

Padahal, seharusnya lakukan diagnosa terlebih dulu. “Tes tinja anak, ada telur cacingnya atau tidak. Kalau tidak ada, tidak perlu dikasih obat cacing,” tegasnya. Di daerah yang terjangkit cacingan dalam jumlah besar, pengobatan memang terkadang dilakukan secara blanket mass treatment, semua orang di daerah itu diminta minum obat cacing. Ini biasanya terjadi pada daerah-daerah yang angka prevalensinya lebih besar dari 50 persen.

Lantas, kapan orangtua boleh curiga anaknya mengidap cacingan? Orangtua harus waspada jika anak mempunyai ciri-ciri di luar kebiasaan. Misalnya, perut yang membuncit, lesu, sering gatal-gatal di sekitar dubur, dan muntah cacing. Bila ciri-ciri ini terlihat, maka segera periksakan feses anak ke laboratorium. Kalau hasilnya positif, dokter akan memberikan obat yang tepat. Langkah ini penting karena sebenarnya obat untuk setiap cacing itu berbeda.

Bahkan, pada kasus terdeteksinya cacing kremi, bila salah satu anggota keluarga positif terjangkiti cacing ini, sebaiknya seluruh anggota keluarga juga diberi pengobatan. Sebab, penyebaran cacing kremi lebih luas daripada cacing lain.

 

Kebersihan, Kunci Pencegahan

Memang, meski sederhana dan murah mengobati cacingan, pencegahan tetap lebih utama dilakukan. Kebersihan lingkungan adalah kuncinya. Buang air besar di WC yang mempunyai septic tank adalah langkah utama.

Langkah lainnya, biasakan mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air besar atau kecil, mencuci bersih makanan yang akan diolah, dan tidak membiarkan kuku tumbuh panjang.

Saleha menambahkan, anak yang dalam tubuhnya mengandung cacing kremi, sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur. “Ini supaya alas kasur tidak terkontaminasi dan tangan tidak bisa menggaruk daerah perianal (sekitar dubur),” kata Saleha seraya menyarankan agar pakaian dan alas kasur diganti setiap hari.

 

Kenali si Cacing

Tiga jenis cacing yang paling sering ditemui pada kasus cacingan disebut soil transmitted helminthiasis atau cacing yang ditularkan lewat tanah. Mereka adalah:

Cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Cacing gelang jantan dapat tumbuh sampai 30 sentimeter. Sedangkan betinanya bisa mencapai 35 sentimeter dan bisa hidup dalam dalam manusia hingga 2 tahun. Cacing ini biasa berdiam di usus halus. Dalam sehari, bisa bertelur 100.000 hingga 200.000 butir.

Cacing cambuk (Trichuris trichiura). Panjang cacing cambuk dewasa biasanya mencapai 5 sentimeter. Ia berdiam di usus besar dan dapat bertelur 5.000 perhari.

Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Cacing tambang yang juga berdiam di usus halus ini bertelur hingga 10.000 butir per hari. Panjangnya kira-kira 1 sentimeter.

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter