Mencintai dan Dicintai Suami Sepenuh Hati

Senin, 04 Maret 2013 WIB |
2279 kali | Kategori: Jejak


Shafiyah binti Abu ‘Ubaid dikenal sebagai perempuan Madinah yang shalihah dan perawi hadits yang dapat dipercaya. Dia meriwayatkan hadits-hadits yang antara lain berasal dari tiga istri Rasulullah saw, yaitu Aisyah ra, Hafshah ra, dan Ummu Salamah ra. Ada pula hadits-hadits yang diriwayatkan Shafiyah dari mertuanya sendiri, Umar bin Khathab ra. Hadits yang diriwayatkan oleh Shafiyah dimasukkan ke dalam kitab hadits, antara lain oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i.

Ayah Shafiyah, Abu ‘Ubaid, telah dipercaya Khalifah Umar bin Khattab memimpin pasukan kaum Muslimin menaklukkan Persia. Dalam suatu pertempuran besar, Abu ‘Ubaid syahid bersama 4000 pasukannya di atas jembatan di atas Sungai Tigris.

Pernikahan Shafiyah dengan Ibnu Umar terjadi sekitar tahun 16 H. Ibnu Umar mengatakan bahwa ayahnya telah memberikan kepadanya 400 dirham sebagai mahar, namun kemudian Ibnu Umar menambahi lagi 200 dirham tanpa sepengetahuan ayahnya. Setelah menikah, Shafiyah mengikuti suaminya tinggal di Mekah.

Selain membesarkan dan mendidik tujuh orang anaknya dari perkawinannya dengan Ibnu Umar, Shafiyah adalah istri yang sangat memahami dan mendukung suaminya. Ketaatan, keshalihan dan kedermawanan Ibnu Umar sudah mengemuka. Di situlah Shafiyah mengambil posisinya yang sangat mulia sebagai pendamping sang imam.

Suatu kali, Ibnu Umar sakit dan ingin makan anggur. Segera Shafiyah menyuruh pembantunya untuk membeli anggur. Namun, baru saja dia sampai di rumah, seorang pengemis berdiri di depan rumah. Karena kedermawanannya, Ibnu Umar menyuruh untuk memberikan anggur itu pada pengemis. Kemudian Shafiyah menyuruh lagi pembantunya untuk membeli anggur. Namun, sesampainya di rumah, pengemis yang sama sudah menunggu lagi. Ibnu Umar kembali memberikan anggur tersebut  kepadanya. Kejadian ini berulang hingga tiga atau empat kali.

Shafiyah lalu menyuruh pembantunya untuk memberitahukan kepada si pengemis bahwa kalau ia melakukan lagi hal yang sama – yaitu meminta anggur untuk Ibnu Umar – maka untuk selanjutnya ia tak akan mendapatkannya lagi. Barulah setelah itu Ibnu Umar dapat makan anggur.

Ibnu Umar juga punya kebiasaan untuk selalu makan bersama anak yatim atau fakir miskin. Setiap kali Shafiyah memasak, itu berarti ia tak hanya memasak untuk suami dan keluarganya saja, tapi juga untuk anak yatim dan fakir miskin.

Karena pemahaman dan dukungan yang tulus akan prinsip hidup yang dipegang suaminya, tak heran bila Shafiyah mendapat cinta dan perhatian Ibnu Umar yang tak pernah surut. Suatu kali, ketika dalam perjalanan, Ibnu Umar mendengar kabar bahwa Shafiyah sakit. Karena khawatir, ia bergegas pulang ke Mekah dan menjamak shalat Maghrib dan Isya, yaitu dengan mengakhirkan shalat Maghrib 3 raka’at, lalu Isya 2 raka’at, sebagaimana pernah dicontohkan Rasulullah.

Tentang Shafiyah, Ibnu Katsir menyatakan bahwa dia adalah perempuan shalihah dan ahli ibadah. Ibnu Umar pun selalu memuliakan dan mencintai Shafiyah.

Setelah Ibnu Umar wafat pada tahun 73 H, Shafiyah tidak menikah lagi. Tak ada catatan kapan pastinya Muslimah penyayang ini meninggal dunia. 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter