Hak Waris Cucu Perempuan

Senin, 18 Februari 2013 WIB |
1639 kali | Kategori: Fikih Wanita


Assalamu’alaikum

Bu Herlini, saya ingin bertanya seputar hak waris. Seorang laki-laki meninggal dan punya empat anak, terdiri dari tiga anak laki-laki dan satu perempuan. Salah seorang anak laki-lakinya telah lama meninggal (mendahului ayahnya) dan meninggalkan dua anak perempuan. Lantas, bagaimana cara membagi warisannya? Apakah kedua cucu perempuan itu berhak atas warisan meski ayah mereka sudah meninggal terlebih dahulu daripada kakek mereka?

Wassalamu’alaikum

 

Siti Khotimah, Kebumen

 

Islam sebagai ajaran sempurna telah mengatur harta dari orang yang telah meninggal agar tidak terjadi pertengkaran dan perebutan harta di antara keluarga serta anak keturunannya di kemudian hari. Rincian pembagian harta warisan tersebut termaktub di dalam Al-Qur'an dan hadits. Yakni, surat An-Nisaa [4] ayat 7 – 14.

Salah satu syarat bagi orang yang akan mendapat warisan (calon ahli waris) adalah masih hidup. Artinya, orang yang telah meninggal lebih dulu maka dia tidak mendapatkan harta warisan. Justru hartanyalah yang akan diwariskan kepada orang yang masih hidup.

Jadi, ketika seorang anak lebih dahulu meninggal dari bapaknya maka bapaknya mendapatkan warisan dari anaknya yang telah meninggal tersebut sebanyak seperenam dari harta peninggalannya.

Ketika bapaknya wafat maka hartanya dapat diwariskan kepada ibunya (istrinya bapak) sebesar seperdelapan. Sisanya, diberikan kepada anak-anaknya. Sedangkan cucu tidak mendapatkan harta warisan karena ia terhalang (mahjub, red) oleh anak-anak si bapak tersebut. Ini artinya, yang berhak mendapatkan harta warisan adalah istri, seperdelapan bagian, sisanya di bagikan kepada anak-anaknya yang masih hidup, yakni dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Dengan pembagian anak laki-laki mendapatkan dua kali lebih banyak dari anak perempuan.    

Tentu, kedua cucu perempuan tersebut bisa mendapatkan bagian dari harta warisan dengan jalan sedekah. Yaitu, ahli warisnya menyedekahkan bagian dari harta warisan yang telah mereka peroleh kepada cucu/anak perempuan saudara mereka yang sudah meninggal. Perbuatan ini—walaupun tidak diwajibkan—merupakan perbuatan terpuji karena Islam sangat memuliakan orang yang mengasihi anak yatim. Terlebih, anak tersebut dari saudara mereka sendiri.

Lainnya, dengan jalan wasiat. Jadi, ketika bapak mereka masih hidup, beliau mewasiatkan harta warisannya untuk diberikan kepada cucu perempuannya. Islam telah menentukan besaran harta untuk wasiat itu, yakni tidak boleh melebihi sepertiga dari jumlah seluruh harta warisan. Rasulullah saw bersabda : “Boleh berwasiat dengan sepertiga, namun sepertiga itu pun sudah banyak. Sesungguhnya apabila engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan papa (miskin) yang hanya mengulurkan tangan kepada orang lain” (HR Bukhari-Muslim).

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter