Lempeng Bumi Bertemu, Gempa Mengguncang

Senin, 01 Maret 2010 WIB |
3723 kali | Kategori: Ragam


Bencana gempa bumi belakangan ini terjadi berturut-turut. Setelah  Tasikmalaya-Jawa Barat (2/9), gempa juga terjadi di Padang (30/9), menyusul di Melonguane-Sulawesi Utara (13/10), Saumlaki-Maluku (24/10), dan NTT (9/11). Bahkan situs resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa bumi terjadi hampir setiap hari di wilayah Indonesia. Kita pun bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi di negeri ini?

 

 

Pertemuan tiga lempeng

Menurut Dr Ir Pariatmono, M.Sc, Asisten Deputi Urusan Perkembangan Matematika dan IPA, Deputi Bidang Perkembangan Riptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi, dikutip dari reindo.co.id, gempa adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Ketika terjadi gempa, lempengan bumi mengalami pergeseran, yang menimbulkan getaran di dalam dan di permukaan bumi secara longitudinal dan transfesal (gelombang seismik). Gelombang inilah yang nantinya menjalar menjauhi pusat gempa menuju ke segala arah. Ketika mencapai permukaan bumi, getarannya dapat merusak bangunan dan gedung yang berdiri di atasnya.

            Gempa biasa terjadi di wilayah yang dilewati lempengan bumi, dan semakin berbahaya jika mencapai batas antara lempeng. Susunan bumi ini terdiri dari lempengan (kulit terluar bumi), mantel dan inti. Lempengan bumi memiliki gerakan khas yaitu bergerak mendekat, menjauh dan saling geser antara satu dengan yang lainnya. Umumnya gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dirasakan manusia. Suatu ketika gerakan lempengan ini macet dan saling mengunci sehingga terjadi penumpukan energi yang berlangsung terus menerus. Saat batuan pada lempengan tersebut tidak kuat lagi menahan gerakan yang menyebabkan pelepasan mendadak maka terjadilah gempa bumi.

            Gempa, menurut sumber kejadiannya, dapat dibagi lima jenis, yaitu gempa tektonik, gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan, dan gempa buatan. Gempa tektonik adalah gempa yang disebabkan pergeseran lempeng bumi. Gempa vulkanik adalah gempa yang disebabkan adanya desakan magma dari tubuh gunung api, gempa runtuhan akibat pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar bendungan besar atau dam, dan gempa buatan adalah gempa yang terjadi karena ulah manusia seperti ledakan nuklir.

            Indonesia yang terletak di 94o-141o BT dan 6o LU-11o LS merupakan wilayah pertemuan tiga lempengan bumi, lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik. Antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia saling bertabrakan di wilayah lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan lempeng Pasifik berada di Maluku Utara dan Utara Papua. Pertemuan tiga lempengan bumi inilah yang menyebabkan gempa tektonik sering terjadi di wilayah Indonesia.

 

Cincin api

Indonesia memiliki sekitar 240 gunung api, 76 di antaranya masih aktif dan telah meletus sebanyak 1171 kali. Dunia pun merekam kedahsyatan gunung api kita seperti letusan Gunung Krakatau (1883) sebagai salah satu letusan terdahsyat sepanjang sejarah. Letusan Krakatau ini menyebabkan gelombang tsunami setinggi 36-40 meter. Efeknya terasa bahkan hingga Selat Inggris yang berjarak 19 ribuan kilometer dari Krakatau.  Setidaknya, lebih dari 36 ribu jiwa menjadi korban akibat letusan ini. 

Menurut catatan Vulcanological Survey of Indonesia, ada beberapa gunung api yang digolongkan berbahaya di Indonesia yaitu Gunung Krakatau di Selat Sunda, Gunung Galunggung (Jawa Barat), Gunung Dieng (Jawa Tengah), Gunung Kelut (Jawa Timur), Gunung Agung (Bali), Gunung Colo (Sulawesi), dan Gunung Gamalama (Halmahera).

Deretan gunung api di dunia terbentang mulai dari pantai barat Amerika Selatan, pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, melewati semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia Baru dan Kepulauan di Pasifik Selatan. Jika ditarik garis,   gunung-gunung api sepanjang 40 ribu kilometer ini berbentuk serupa tapal kuda, dan dinamakan cincin api atau Ring of Fire (sering pula disebut sebagai sabuk gempa).

Wilayah Indonesia sendiri merupakan pertemuan antara sabuk pertama gunung api yang terbentang dari daerah yang berbatasan dengan Samudra Pasifik, seperti Jepang dan Amerika Utara, dengan sabuk kedua yang terbentang dari laut tengah ke timur menuju Asia. Menurut penelitian, 85% gempa terjadi di sabuk pertama.

Tercatat 81% gempa bumi dengan kekuatan besar terjadi di sepanjang kawasan cincin api tersebut. Maka, selain karena menjadi pertemuan lempengan bumi, cincin api atau sabuk gempa yan melewati tanah Indonesia pun menjadi jawaban mengapa gempa bumi kerap mengguncang.

 

Tidak selalu diikuti tsunami

Masih terbayang dalam benak kita kepanikan masyarakat saat menghadapi gempa. Semua orang berlarian keluar gedung, bahkan banyak di antaranya yang bersegera mencari dataran tinggi untuk menghindar dari tsunami. Padahal tidak semua gempa selalu diikuti dengan tsunami. Menurut Fauzi M,Sc Phd, Kepala pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, gempa yang dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di tengah laut, di teluk, di lautan yang dalam, dengan besar magnitude di atas 6,0 Skala Richter.

Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu “tsu” atau gelombang dan “nami” yang berarti pelabuhan, sehingga bisa diartikan sebagai gelombang laut yang melanda pelabuhan. Tsunami ditimbulkan oleh deformasi atau perubahan bentuk di dasar lautan, terutama perubahan permukaan dasar lautan dalam arah vertikal. Deformasi itu menyebabkan rekahan di dasar laut. Rekahan ini akan mengisap air laut dalam jumlah banyak sehingga menyebabkan penurunan ketinggian air laut hingga batas normal. Tak lama permukaan air laut tadi kembali normal namun dengan tinggi gelombang yang luar biasa besar. Inilah yang disebut tsunami.

Tinggi gelombang tsunami di sumbernya memang kurang dari satu meter. Tetapi pada saat sampai di bibir pantai, tinggi gelombang tsunami bisa mencapai lima meter. Panjang gelombang tsunami sendiri bisa mencapai 700 km per 10 detik. Bandingkan dengan gelombang biasa yang hanya mencapai batas maksimal 200 km per 20 detik. Tidak mengherankan jika hingga kini banyak orang trauma dengan tsunami di Aceh (2004) yang menelan korban ratusan ribu jiwa.

            Sayangnya, hingga saat ini pemerintah belum bisa menemukan alat yang dapat memprediksi gempa secara pasti. Namun ada beberapa teknologi dan fenomena alam yang bisa dijadikan acuan agar kita mawas diri dan segera mengambil langkah antisipasi menghadapi gempa, yaitu:

1.     Global Positioning System (GPS). Melalui alat ini bisa dilihat perubahan sifat-sifat bebatuan yang stres akibat tekanan yang ditimbulkan pergerakan lempeng tektonik.

2.     Seismometer adalat alat sensor getaran yang digunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Alat ini hanya sebatas mengukur kuat lemahnya gempa atau yang dikenal dengan Skala Richter.

3.     Awan gempa, yang terbentuk karena gelombang elektromagnetis yang terjadi akibat gerakan dan gesekan di perut bumi. Awan ini berbentuk tegak lurus (vertikal) berbeda dengan awan biasa yang berbentuk horizontal

4.     Tingkah laku hewan, seperti burung, kucing, anjing, gajah dan kelelawar. Burung, misalnya, akan terbang menjauhi laut dan menuju daratan.

Firda Kurnia


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter