Demam "Upin dan Ipin"

Rabu, 30 Januari 2013 WIB |
2749 kali | Kategori: Media dan Kita


Dua keponakan saya yang berusia balita, Ihsan dan Hady, sekarang sering berbicara dengan gaya Melayu. Saat kami makan bersama-sama di restoran bulan lalu, Ihsan dan Hady langsung berkomentar, “Sedapnyeeee...” ketika menyaksikan makanan yang tersaji di meja. Logat mereka adalah logat Melayu, persis anak-anak Malaysia.

Ihsan dan Hady meniru gaya bicara karakter-karakter yang muncul di film animasi Upin dan Ipin. Film ini kini bisa disaksikan setiap hari, disiarkan oleh TPI.  Film-film VCD-nya pun mudah didapatkan di pasar. Kata-kata “Sedapnyeeee...” adalah kata yang biasanya diucapkan si kembar Upin dan Ipin saat disodorkan makanan, terutama ayam goreng, lauk favorit mereka.

Dua keponakan saya itu juga senang mengucapkan, “Alamaaak....” atau “Betul, betul, betul!”, dua kalimat populer yang sering diucapkan Upin dan Ipin. Kalimat “Betul, betul, betul!” bahkan menjadi ucapan paling populer dari film animasi ini, yang tidak hanya ditiru anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Teman saya bercerita, anaknya yang juga berusia balita kini menyebut nasi uduk dengan “nasi lemak”. Bahkan, kata teman saya dengan geli, anaknya ingin memanggil gurunya di TK bukan dengan “bu guru”, melainkan “ce’ gu”. Semuanya gara-gara serial Upin dan Ipin.

Upin dan Ipin adalah film animasi buatan Malaysia. Serial ini menceritakan keseharian kisah si kembar lucu  Upin dan Ipin. Mereka tinggal di kampung dan hidup sederhana. Serial ini banyak dipuji karena membawa nilai-nilai positif, seperti tanggung jawab, kemandirian, tolong-menolong, kepatuhan kepada agama serta orangtua dan guru, dan nilai-nilai lainnya.

Film ini membawa nilai-nilai budaya Melayu yang kental. Di satu sisi, inilah salah satu keunggulan serial ini. Namun, di sisi lain, dalam beberapa diskusi, sempat terlontar kekhawatiran dari beberapa orang tentang serial ini yang menyebabkan anak-anak menjadi berbicara dengan logat Malaysia.

 

Anak Pembelajar yang Cepat

Gaya berbicara dengan logat Malaysia a la Upin dan Ipin yang kini melanda banyak anak adalah contoh berjalannya teori social learning atau belajar sosial. Secara sederhana, teori ini menyebutkan bahwa anak-anak belajar dari media, melalui tindakan pengamatan atau observasi dan dengan cara melakukan imitasi.

Dan anak-anak adalah pembelajar yang baik dan cepat! Mereka belajar apa saja: gaya bicara, aksi berkelahi, gaya berpakaian, dan macam-macam lagi. Bisa dikatakan, anak belajar dari media untuk apa pun  yang disodorkan media.

Kita tentu masih ingat, saat dulu anak-anak banyak menonton serial TV Saras 008, maka untuk menghalau musuh saat main perang-perangan, anak-anak akan beraksi dengan gaya memancarkan sinar dari tangan, persis gaya Saras sang hero. Kemudian, ketika kemudian yang populer adalah Powers Rangers, maka anak-anak pun akan bergaya macam pahlawan-pahlawan Powers Rangers, lengkap dengan masing-masing anak akan mengidentikkan diri mereka sebagai Rangers berwarna apa, apakah merah, biru, putih, hitam atau kuning.

Ada pula anak-anak perempuan penggemar Dora The Explorer yang memotong rambutnya a la Dora dengan poninya yang khas. Tayangan lain yang sangat memengaruhi anak-anak adalah Naruto. Maka banyak anak akan beraksi seperti Naruto, tentu saja dengan asesori pedang dan ikat kepala a la Naruto.

Di luar itu anak-anak juga sering menirukan gaya berbicara para penampil di TV. Banyak sekali kata atau kalimat populer yang dipopulerkan televisi yang kemudian ditirukan anak-anak. Beberapa di antaranya adalah “mak nyus, cape deh, egepe, lha iya lah, kasian deh lu” dan sebagainya. Anak-anak mengucapkan kata atau kalimat tersebut disertai bahasa tubuh yang menyertai ucapan itu saat dilontarkan. Misalnya saja, ucapan “kasian deh lu” selalu disertai dengan telunjuk yang digerakkan menyerupai huruf S.

Televisi bisa sangat berpengaruh kepada anak-anak manakala anak-anak mengonsumsi TV dengan intensitas tinggi dan tidak ada sumber-sumber informasi lain bagi anak. Sumber informasi lain bagi anak misalnya orangtua atau orang-orang dewasa di rumah. Ketiadaan sumber-sumber informasi ini membuat anak gampang lari ke TV dan tentu saja makin potensial untuk terpengaruh TV, karena umumnya TV tersedia di rumah dan mudah diakses anak.

 

Santai Saja, Asal...

Ketika anak menirukan gaya tertentu dari TV, maka menjadi tugas orangtualah untuk secara kritis melihat ini. Jika gaya yang ditiru itu mengkhawatirkan, tentu orangtua harus waspada. Misalnya saat terjadi demam Smackdown yang melanda anak-anak sekitar empat tahun lalu. Smackdown adalah acara gulat di TV yang sarat kekerasan. Banyak anak yang menyukainya dan menirukan aksinya. Masalahnya adalah, acara tersebut tidak lebih tidak kurang adalah acara kekerasan dan yang ditirukan anak-anak adalah aksi kekerasan itu. Tanpa bisa mengontrol (maklum anak-anak...) banyak anak beraksi seperti jagoan-jagoan Smackdown dan beberapa anak pun cedera, bahkan ada korban meninggal dunia.

Untuk muatan negatif di TV yang potensial ditirukan anak-anak (seperti kekerasan, seks atau mistik), orangtua memang harus sangat mengkhawatirkannya. Namun, seandainya yang ditirukan anak-anak adalah hal-hal yang tidak serius potensi dampaknya (yakni bukan dampak negatif) dari media, janganlah terlalu mencemaskannya. Santai sajalah.

Menurut saya, kasus anak-anak yang menirukan gaya berbicara Upin Ipin termasuk dalam hal yang yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Upin dan Ipin adalah film yang sehat dan ucapan-ucapan yang dilontarkan dalam film ini terjaga. Saya yakin, jika anak-anak tidak melulu menonton tayangan tersebut (dengan kata lain: anak-anak dibatasi untuk menonton tayangan tersebut) dan orang-orang lain yang dekat anak tidak bicara dengan logat Upin Ipin, maka peniruan anak berlogat Malaysia tersebut, sejalan dengan waktu, dengan sendirinya akan menghilang. Gaya bicara semacam itu bisa jadi hanya semusim saja.

Hal semacam itu mirip dengan gaya semusim poni Dora yang banyak ditiru anak-anak. Ketika film itu tidak lagi populer, maka anak-anak pun tidak lagi punya keinginan untuk bergaya sama dengan idolanya.

Ketimbang mengkhawatirkan secara berlebihan logat yang ditirukan itu, lebih baik orangtua berbicara kepada anak tentang nilai-nilai positif yang diangkat dalam film Upin dan Ipin (membuat anak belajar tentang nilai dan norma), menjelaskan tentang orang dan negara Malaysia (membuat anak belajar sosiologi, budaya, dan geografi),  dan hal-hal positif lain yang bisa digali dari film ini.

Saya yakin, selain merasa prihatin bercampur geli karena anak-anak kita berlogat Malaysia gara-gara demam Upin Ipin, banyak orangtua dan kalangan lain punya harapan sama dengan saya, yakni agar negara kita juga memiliki film anak yang sarat nilai semacam Upin dan Ipin. Sesungguhnya kita semua merindukan film anak yang sehat produksi dalam negeri dengan menonjolkan nilai-nilai budaya kita sendiri. Terhadap hal ini, saya yakin, banyak orang akan berkata seperti yang sering diucapkan Upin dan Ipin, “Betul, betul, betul!”

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter