Perdarahan Di Luar Haid, Jangan Anggap Sepele

Minggu, 27 Januari 2013 WIB |
15376 kali | Kategori: Kesehatan


“Bulan ini saya sudah haid. Tapi kok keluar lagi ya?” Pengalaman itu kerap terjadi pada perempuan. Biasanya kondisi tersebut timbul saat kita stres akibat pekerjaan kantor atau masalah rumah tangga. Kalangan dokter menyebutnya perdarahan di luar masa haid. Apakah hal itu membahayakan organ reproduksi kewanitaan kita?

Tak jarang kita abai ketika mengalami hal sensitif pada organ kewanitaan. Perdarahan di luar haid, misalnya. Ahli kandungan dr Rahmawati Toenggal, SpOG mengatakan, tak sedikit pasiennya mengeluh kasus serupa. Namun, mereka baru mengaku setelah membiarkannya berbulan-bulan.

Perdarahan itu bisa berupa flek atau layaknya menstruasi. Terjadinya bisa sebelum, sesudah atau di antara siklus haid. Perempuan yang sudah haid bisa mengalami gangguan ini, tak mengenal usia puber, lajang, menikah, bahkan sampai menopause. “Beruntung masih bisa tertangani, coba kalau ternyata terdeteksi kanker serviks stadium lanjut?” ujar dokter Poliklinik Aviat RS PMI Bogor ini seraya menambahkan bahwa perdarahan di luar haid adalah salah satu gejala kanker serviks.

Apakah berbahaya jika terlalu lama diabaikan? “Tentu,” jawab Rahma, begitu ia akrab disapa. Jadi, ada baiknya kita mengenal dua penyebab perdarahan di luar haid, yakni kelainan hormonal dan organik serta cara mengantisipasinya.

 

Kelainan Hormonal

Ini bisa terjadi karena ketidakseimbangan hormon. Pemicunya beragam, mulai dari stres, diet ketat, penggunaan alat kontrasepsi, sampai obat-obatan tertentu seperti maag, pelangsing.

Mengapa demikian? Rahma menjelaskan, pemicu tadi mengganggu hormon di otak sebagai pusat pengendali menstruasi, yakni estrogen dan progesteron. Akibatnya, mekanisme kerja hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan endometrium terganggu.

Perdarahannya bisa berupa spotting (bercak). Jumlahnya bisa sedikit atau banyak. Waktunya bisa pendek atau lama. Tak jarang, lanjut Rahma, perdarahan yang terlalu banyak dan lama menyebabkan yang bersangkutan memerlukan transfusi karena kekurangan darah (anemia). Bahkan syok, pingsan, sampai keringat dingin.

Jika keadaannya darurat, tindakan kuretasi pun dilakukan. Kalau hal itu tak bisa menghentikan perdarahan, kemungkinan yang bersangkutan mengalami hiperplastiendometrium (pertumbuhan endometrium yang berlebihan). “Biasanya ini terjadi karena pengaruh hormonal,” kata perempuan kelahiran Semarang, 40 tahun lalu ini.

Menurut Rahma, perdarahan di luar haid akibat kelainan hormonal umumnya tak disertai rasa sakit atau nyeri. Tetapi menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama jika perdarahannya banyak.

Sudah semestinya perempuan waspada ketika mengalami perdarahan di luar haid. Sebab, akan mengganggu masa kesuburan. Perdarahan yang sering berakibat tidak adanya ovulasi. Alhasil,tidak terbentuk sel selur matang. “Jadi, atasi dulu perdarahannya agar ovulasi menjadi teratur,” terang Rahma.

           

Kelainan Organik

Bisa terjadi karena adanya kelainan organik di atas rahim, seperti keguguran, hamil anggur, myoma uteri, tumor jinak otot rahim. Atau, di leher rahim, seperti  polip (tumor yang bertangkai) endoserviks, kanker serviks. Selain itu, kelainan di badan rahim seperti polip endometrium. Perdarahan akibat kelainan organik biasanya disertai nyeri.

Khusus myoma, ujar Rahma, pemicu utamanya kelainan hormonal. Myoma itu tumor yang dipicu hormon estrogen. Akibatnya, sel-sel otot rahim tumbuh berlebihan lalu membesar sehingga menjadi tumor. “Jadi, stres, obat-obatan dan pemicu kelainan hormonal lainnya jangan dianggap biasa. Sebab, bisa mengakibatkan banyak hal,” katanya.

 

Ketahui Dulu Penyebabnya

Untuk mengatasi perdarahan di luar haid, Rahma mengimbau yang bersangkutan segera memeriksakan diri. “Penanganan disesuaikan dengan penyebab kelainannya,” kata perempuan yang hobi traveling itu.

Ia mencontohkan kelainan hormonal akibat stres maka yang bersangkutan harus menerapkan hidup sehat, mengonsumsi obat jika diperlukan dan berbagi cerita dengan keluarga atau kerabat yang mereka percaya.

Saat stres, emosi meningkat dan yang bersangkutan mudah marah. Lalu, terjadilah ketidakseimbangan hormon. Emosi tidak mengendalikan hormon tapi mempengaruhi hormon. “Kita tidak bisa menghindari stres. Tapi tiap orang punya tingkat ketahanan dan cara berbeda-beda dalam menghadapi dan mengelola stres,” jelas Rahma.

Lain lagi jika mengatasi kelainan hormon akibat obat-obatan, jamu atau pelangsing. Jika berdampak tidak baik bagi tubuh, ia menganjurkan agar yang bersangkutan berhenti mengonsumsinya. Sementara jika kita melakukan diet kelewat ketat, yang terjadi justru sebaliknya, siklus haid tidak teratur bahkan berhenti menstruasi. Ini terjadi karena asupan gizi berkurang. Ketika pasokan gizi menurun, pembentukan hormon dan pertumbuhan sel termasuk indung telur terganggu. Padahal, tubuh perlu kolesterol untuk memproduksi hormon.

“Ini berbahaya. Tidak terjadi haid maka tidak ada peluruhan endometrium. Pertumbuhan sel indung telur jadi tidak sehat, tidak ada folikel yang matang. Otomatis akan menggangu reproduksi wanita,” jelasnya.  

Jika penyebabnya alat kontrasepsi, penanganannya dibantu obat yang dapat menghentikan perdarahan. Apabila terjadi perdarahan hebat bahkan menyebabkan syok, segera lepas alat kontrasepsi.

Menurut Rahma, total hipermenore dalam sekali menstruasi hanya 80 cc. Namun, jangan anggap sepele jika terjadi perdarahan di luar haid. Segera periksakan diri ke dokter. “Dokter bisa segera mengetahui penyebabnya dan melakukan penanganan. Sebelum, misal, tumornya besar,” tukasnya.

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter