Istri Selalu Minta Cerai

Minggu, 20 Januari 2013 WIB |
12405 kali | Kategori: Ya Ummi


Assalamu’alaikum

Ummi, pernikahan saya selalu diwarnai cekcok. Setiap kali ribut, istri selalu meminta cerai tapi saya tolak. Katanya, kalau saja tidak ada andil uangnya di rumah ini, dia pasti sudah pergi dari rumah ini. Istri saya memang berinisiatif meminjam uang ke bank untuk memperbaiki rumah. Sebenarnya saya juga ingin cerai, tapi kalau nanti dia menuntut uangnya yang dipakai untuk merenovasi rumah, saya tak mampu membayarnya.

Sebenarnya, di awal pernikahan pun dia sudah minta cerai padahal baru beberapa jam kami menikah. Saya anggap itu hanya candanya. Tapi ketika hamil anak kedua, istri saya mengaku bahwa anak pertama kami bukan anak saya. Saya kaget dan hancur rasanya. Namun karena sudah sangat menyayangi anak pertama kami, saya abaikan kenyataan itu. Saya ikhlas kalau itu benar. Selain itu, hubungan istri dengan keluarga saya juga tidak baik.

Ummi, masalah ini seperti tak ada habisnya. Lama-lama saya tak tahan. Bila akhirnya bercerai, apakah saya harus mengganti uang istri yang dia gunakan untuk memperbaiki rumah? Kenyataan bahwa anak pertama kami sebenarnya bukan anak kandung saya bisakah menjadi bahan gugatan cerai istri kepada saya? Bagaimana saya mengatasi masalah ini, Ummi?

Wassalamu’alaikum

 

Herman, Mataram

 

 

Jawaban Syariah

Nanda Herman, Ummi prihatin dengan keluarga Nanda. Di dalam hukum agama, seorang wanita tidak boleh menuntut khulu’ tanpa alasan yang dibenarkan syari’at. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Siapa pun di antara wanita yang minta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang jelas, maka dia tidak akan mencium bau surga.”

Namun, bila alasannya kuat, suami bisa menceraikan istri dengan cara yang baik. Allah swt berfirman, “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir ‘iddahnya, maka rujuklah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik pula...”

Ummi berharap Nanda dapat mempertahankan keluarga Nanda dari perceraian, walau itu terasa berat. Cobalah segera selesaikan dengan berdialog untuk menata dan mengatur masalah kebutuhan hidup keluarga, masalah anak-anak serta menata keluarga kembali.

Namun, jika memang terjadi perceraian, itu harus dilakukan dengan cara yang baik. Perlu diingat, setelah bercerai pun Nanda tetap harus menafkahi anak-anak. Adapun masalah uang pinjaman untuk merenovasi rumah, coba bicarakan baik-baik solusinya. Utang tersebut harus tetap dilunasi dan itu tanggung jawab Nanda sebagai kepala rumah tangga dan pemilik rumah.

Lalu mengenai anak pertama Nanda yang dikatakan istri bukanlah anak kandung Nanda, itu perlu dibuktikan dulu secara medis atau cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Walaupun akhirnya terbukti bukan anak kandung Nanda, tetap saja itu bukan alasan yang tepat dan sesuai syari’at untuk mengajukan gugatan perceraian atau khulu’.

 

Jawaban Psikologi

Pembagian peran dalam kehidupan rumah tangga suami istri sebenarnya telah digariskan sedemikian rupa sehingga satu sama lain bisa saling mengisi. Suami-istri dalam mengayuh biduk rumah tangganya diharapkan saling melengkapi, sehingga terbentuk rumah tangga yang kokoh, terbangun rasa saling percaya, dan anak-anak tumbuh kembang dalam suasana harmonis. Seorang suami adalah pemimpin rumah tangga yang mesti dapat mengambil keputusan dan membawa keluarga pada tujuan yang baik. Beberapa saran di bawah ini Ummi harapkan dapat membantu:

  • Seorang suami perlu membekali diri dengan kemampuan menyeimbangkan variasi antara kasih sayang, bersikap tegas, memahami perasaan istri dan pengambilan keputusan secara jelas. Dalam hal ini, Ummi melihat Nanda memiliki persediaan maaf yang cukup banyak untuk istri, sehingga Nanda dapat meredam suasana emosi negatif yang sering terbangun ketika berkomunikasi.
  • Nanda perlu lebih bersikap tegas kepada istri sehingga istri mendapat batasan apa yang boleh dan bisa dilakukan; apa yang tidak boleh/bisa dilakukan. Kesepakatan seperti ini idealnya dibangun ketika awal berumah tangga. Namun tak ada salahnya hal tersebut dicanangkan saat ini.
  • Mengenai masa lalu istri yang kelam, tidak relevan lagi dibahas saat ini. Jika perilaku negatif istri masih berlanjut dalam bentuk-bentuk lain, ada baiknya Nanda mendudukkan persoalannya. Perlu Nanda perhatikan interaksi istri selama ini dengan rekan-rekannya di luar rumah. Bila sebagai suami Nanda terlalu longgar memberi kebebasan, itu bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang baik. Apalagi mengingat istri pernah memiliki sejarah tertentu sebelumnya.
  • Relasi dengan keluarga besar Nanda, termasuk orangtua, tetap perlu dijalin agar tidak terjadi silang sengketa. Bagaimanapun sebagai laki-laki, Nanda berkewajiban mengutamakan orangtua, terutama ibu. Berikan pengertian kepada istri mengenai peran dan tanggung jawab Nanda, sehingga istri memahami apa yang harus dilakukan.
  • Pengaturan pengelolaan keuangan rumah tangga juga perlu diatur sedemikian rupa agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan. Bila istri termasuk boros, Nanda mungkin perlu membantu pengelolaan rumah tangga sehingga tidak semua penghasilan Nanda diserahkan ke istri.

 

Jawaban Hukum

Sesuai penuturan istri,  kalau memang terbukti istri Nanda mengandung sebelum menikah, artinya ia telah tidak jujur sejak awal pernikahan dan telah melakukan perzinaan. Itu satu alasan yang amat kuat untuk mengajukan perceraian sesuai dengan Pasal 19 huruf (a ) dari PP No. 9 tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (a) dari Kompilasi Hukum Islam: Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan: a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

Mengingat perceraian adalah perkara privat dan pengadilan agama tak akan ikut campur terkecuali para pihak menghendakinya, maka dalam hal ini memang terserah Nanda dan istri untuk meneruskan ke perceraian atau justru memaafkan perbuatan istri. Walaupun Hakim Pengadilan Agama tinggal mengetok palu namun kalau para pihak (penggugat dan tergugat atau pemohon dan termohon) sepakat untuk batal bercerai, itu bisa dilakukan. Tolong dipertimbangkan baik buruknya, utamanya untuk kepentingan pendidikan dan pertumbuhan anak.

Mengenai penggantian uang untuk perbaikan rumah, sejatinya semua pemasukan dan pengeluaran rumah tangga selama perkawinan adalah harta bersama dan ditanggung bersama. Secara hukum Nanda tidak berkewajiban mengganti uang tersebut. Nanda boleh membayarnya bila dikehendaki secara moral dan sosial ataupun setelah forum musyawarah. Karena ada kewajiban yang lebih perlu diperhatikan pasca perceraian (apabila terjadi), yaitu biaya/nafkah pemeliharaan anak (hadhonah).

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter