Ibu, please sayangi anakmu

Senin, 01 Maret 2010 WIB |
2632 kali | Kategori: Dunia Wanita


            “Assalamu'alaikum, Ibu, aku datang! Wah, panas sekali hari ini. Masak apa, Bu?” Ocehan ini selalu terlontar dari bibir ketiga puteri saya tiap kali mereka pulang sekolah. Ini pula yang memacu semangat dan membuat saya bangga menjadi ibu. Ah, senangnya. Apalagi saat mereka bercerita tentang pelajaran dan tingkah laku teman-teman mereka di sekolah.

            Hari ini, anak-anak menceritakan pengalaman seru dan ceria. Besok, wajah buah hati bisa berubah muram karena mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Saya pun harus siap menjadi pendengar setia dan teman berbagi buat mereka.

            Ironisnya, saya tak mengalami kesempatan serupa ketika seusia mereka. Ibu saya bekerja yang membuatnya harus keluar rumah sejak pukul enam pagi dan baru tiba di rumah pukul delapan malam. Kami jadi tidak memiliki kesempatan untuk bercengkrama atau sekadar mencurahkan sekelumit kejadian yang kami lewati tiap hari. Dengan keterbatasan waktu, ibu hanya sempat bertanya, “Sudah makan belum?” Selebihnya, beliau istirahat dan kemudian tidur.

            Saya tidak marah dihadapkan dengan situasi seperti itu. Tapi dalam lubuk hati terdalam, sebenarnya hati ini hancur. Saya tidak mendapatkan perhatian atau dekapan hangat ibu ketika sedih dan kecewa. Saya menjadi limbung bahkan sempat terjerumus pergaulan kurang terpuji. Orangtua tak tahu karena saya selalu kelihatan baik-baik saja di hadapan mereka.

            Ketika menikah, saya bertekad tidak bekerja di luar rumah. Alasannya, saya tidak ingin kelak anak-anak mengalami hal seperti yang saya alami. Hasrat ini begitu membumbung tinggi karena ingin memberi yang terbaik buat buah hati. Meski bukan keputusan mudah, saya bersyukur bisa merealisasikan ilmu yang saya dapat ketika sekolah keguruan dulu kepada buah hati.

            Usaha ini berbuah manis. Ketiga “murid” kecil saya memiliki prestasi yang membanggakan di sekolah. Saya pun bisa mamantau proses tumbuh kembang mereka setiap detik. Alhamdulillah, rasa penat hilang ketika anak-anak saya berteriak, “Ibu, aku rangking satu!” Atau, “Ibu aku sudah pandai membaca Al-Quran!”

            Lewat tulisan ini, saya ingin mengetuk hati nurani para ibu, terutama  yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Cobalah lebih fokus mengamati dan mengarahkan perkembangan buah hati. Wahai Ibu, sesibuk apa pun, sepenat dan seletih apa pun, please, rangkul anak-anak kita dengan penuh kasih sayang. Hiasi jiwa mereka dengan memori indah kehidupan masa kecil.

Kita memang tidak bisa menjadi wonder woman yang dapat mengurus segalanya dengan sempurna. Apalagi, menjadi ibu, mengurus keluarga dan mengatur rumah tangga ternyata jauh lebih sulit dari yang kita bayangkan. Tapi kita bisa berupaya agar segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Peran ayah tentu sangat diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

            Anak-anak adalah titipan Allah swt yang sangat berharga. Kita pasti tidak mau mereka terjerumus pada hal-hal negatif. Bisa saja mereka mendapatkan fasilitas yang wah, peralatan serba canggih dan mewah. Namun, perhatian dan kasih sayang tetap jauh lebih berarti dari semua itu.

            Ibu bukanlah sekadar sosok yang hanya mengandung dan melahirkan. Ibu dituntut untuk bisa melayani, mengatur, memberi hidup, dan kehidupan bagi anak dan keluarga. Anak-anak butuh pengayom, orangtua, teman setia, guru yang dapat dipercaya. Itu semua bisa mereka dapatkan dari orangtua, terutama ibu. Jadi, jangan takut menjadi ibu yang bijak karena ada pahala yang tak terhingga sebagai imbalannya.

 Nuresih

Ibu Rumah Tangga,Jepara, Jawa Tengah


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter