Dipaksa, Terpaksa dan Memaksa

Senin, 01 Maret 2010 WIB |
2452 kali | Kategori: Tafakur


“Siapa yang melihat perkara keburukan, maka ubahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman (Al-Hadits).”

            Pernahkah kita dipaksa dan terpaksa melakukan kebaikan? Atau kita yang memaksa orang lain melakukannya? Dipaksa, terpaksa atau memaksa, memang tidak mengenakkan. Tapi mengapa situasi semacam ini sering terjadi?

            Ada  banyak perselisihan yang tidak mengenakkan, ada  banyak hati yang merasa sempit dan terluka, ada banyak cara yang membuat orang lain sebal saat kita menjadi pribadi yang sulit. Siapakah pribadi yang sulit? Yaitu mereka, termasuk diri kita sendiri,  yang membelenggu diri dengan cara-caranya sendiri sambil meniadakan peluang orang lain menolongnya memberitahu cara-cara lain yang lebih efektif dan efisien. Kata  pamungkas pribadi yang sulit adalah: pokoknya’.

Contoh sederhana adalah tentang ibu, anak dan prosesi minum obat. Berapa banyak anak yang akhirnya terpaksa minum obat setelah dipaksa ibunya. Anak harus dipaksa karena belum mengerti apa manfaat obat untuknya. Dia hanya tahu obat itu pahit, tidak enak, bikin perut mual dan mau muntah. Pokoknya emoh, nggak mau. Ibu harus memaksa karena belum tahu rahasianya membuat anak mengerti tanpa dipaksa. Sang ibu pun mengerti sebatas anak saya harus sembuh; tidak penting anak suka atau tidak suka, mengerti atau tidak mengerti, pokoknya harus minum obat.

Budaya ‘pokoknya’ sering menimbulkan perasaan dipaksa, terpaksa atau harus memaksa. Padahal, jika kita menjadi pribadi yang membuka hati dan akal kita luas-luas atas segala sesuatu yang datang dari luar diri kita, tanpa semerta-merta menolak, kita akan mudah mengerti banyak hal. Apa yang awalnya sulit, bikin repot, menyebalkan dan tidak mungkin, bisa menjadi sesuatu yang sederhana, mudah dan menyenangkan untuk dilakukan.

Perasaan dipaksa, terpaksa dan memaksa sebaiknya kita hindari. Tapi pada saat yang kita lihat adalah hal-hal yang buruk (munkar), maka menjadi pribadi yang memaksa atau mengharuskan adalah sebuah kewajiban. Kapan kita bermain peran sebagai pribadi yang sulit?

 Pertama, saat kita meyakini suatu kebaikan harus dijalankan, sementara orang lebih memilih sejuta alasan  untuk menolaknya. Kedua, saat kita memiliki kekuatan dan kewenangan untuk memaksa. Sebab memaksa orang lain tanpa kewenangan dan kekuatan samalah artinya menebar kebencian, menuai pembangkangan yang tiada berujung. Ketiga, saat kita yakin kita berfokus pada  memberi kesempatan ‘win’ orang lain lebih dulu. Itulah saat kita yakin 100% bahwa kita ‘memaksa’ dengan motivasi  untuk kebaikan orang yang kita paksa, bukan untuk aktualisasi sikap arogan dan egois diri kita. Bukankah, innamal a’maalu binniyaah, kita akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita niatkan?    

            Jika  kita mudah mengerti dan menerima sesuatu yang baik, maka kita tidak perlu dipaksa untuk melakukannya. Jika kita tahu rahasianya membuat orang mengerti dan menerima sesuatu yang kita anggap baik, kita pun tidak perlu memaksa orang lain melakukannya. Sederhana bukan teorinya? Jika kita mau belajar mengimplementasikannya, insya Allah, bisa!

            Yuk, kita bangun pengertian yang dalam agar cara hidup kita minim paksa memaksa.

Dwi Septiawati Djafar


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter