Langkah-langkah Dakwah dengan Hikmah

Rabu, 31 Oktober 2012 WIB |
885 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


Kita meyakini, dakwah adalah perintah Allah swt untuk menyeru manusia agar kembali pada ajaran-Nya. Dakwah dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasehat yang baik. Karena itu dakwah juga harus dilakukan dengan hikmah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Makna yang paling benar dari al-hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya,” (Fathul Bari, 7/205). Dalam penerapannya, seorang dai harus memerhatikan langkah-langkah berikut.

 

MENENTUKAN SKALA PRIORITAS

Pengajaran akidah, dengan mengedepankan pembahasan tentang keimanan, adalah prioritas. Hal itu mengingat kondisi masyarakat yang minim pengetahuan agama, keyakinan tipis, dan perilaku menyimpang. Setelah umat dibawa kepada majelis yang membesar-besarka Allah (ma’rifatullah), insya Allah, mudah mengarahkannya pada amal shalih.

Tidak bijak bila pada awal perjumpaan sang dai membombardir mad’u (obyek dakwah) dengan ‘beban’ (taklif). Menyuruh memakai hijab, memelihara jenggot, serta larangan-larangan, seperti riba, khamar, dan sebagainya. Dalam sirah, perintah dan larangan itu disyariatkan setelah hijrah, artinya setelah kuatnya fondasi akidah.

Jika kaum Muslimin generasi pertama saja menerima perintah dan larangan syariat ini secara bertahap setelah kokohnya akidah mereka, apalagi masyarakat sekarang.

 

MENYESUAIKAN TINGKAT PEMAHAMAN

Menakar kadar intelektualitas obyek dakwah amatlah penting. Hal ini terkait dengan bahasan apa yang akan kita gunakan di hadapan mad’u. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Ajarkan hadits kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka! Senangkah kalian jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Bukhari).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Batasannya adalah jika zahir hadits yang akan disampaikan itu akan memperkuat kesesatan, sedangkan maksud sebenarnya adalah tidak demikian, maka sangat dianjurkan untuk tidak menyampaikan hadits kepada orang yang ditakutkan (baca: dicurigai) akan membawa hadits tersebut ke arah kesesatan,” (Fathul Bari, 1/45).

Contohnya, kita tidak dianjurkan menyampaikan pembahasan qadha dan qadar secara detail kepada orang awam yang baru terlibat dalam taklim karena khawatir malah membingungkan atau terlalu dalam membahas tentang zat Allah.

 

PERHATIKAN KEADAAN NEGARA DAN MASYARAKAT

Memerhatikan kebiasaan dan seluk-beluk yang terjadi di daerah dakwah juga bagian dari hikmah. Anas bin Malik ra berkata, “Ketika Nabi saw ingin menulis surat ke Romawi (untuk mendakwahi pembesarnya, pen) maka dikatakan kepada beliau bahwa orang-orang Romawi tidak akan membaca surat beliau jika belum dibubuhi stempel (cap). Maka beliau menjadikan stempel (cincin) dari perak yang berukiran “Muhammad Rasul Allah”. Seolah-olah aku melihat putihnya cincin itu pada tangan beliau,” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i).

Memberi stempel atau tidak adalah urusan mubah. Namun karena masyarakat Romawi menganggap itu hal penting, maka Rasulullah saw membubuhkan stempel pada surat dakwah beliau.

Termasuk dakwah di Indonesia, yang mengharuskan adanya institusi formal bagi siapa saja yang melakukan aktivitas dakwah, kita harus mengikuti aturan tersebut. Begitu pula di negara-negara lain, dakwah mengikuti hukum yang berlaku. Jadi dakwah harus menjaga maslahat di suatu negeri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dalil atas demikian adalah bahwa ketika para sahabat menaklukkan berbagai negeri, maka masing-masing mereka memakan dengan makanan pokok negeri itu dan memakai pakaian negeri itu tanpa ada keinginan (dari mereka) untuk mendatangkan pakaian dan makanan pokok Madinah,” (Majmu’ul Fatawa,  2/157).

Dari sini Al-Allamah Ibnu Aqil Al-Hanbali berkata, “Tidak dianjurkan keluar dari kebiasaan suatu masyarakat dalam rangka menjaga perasaan dan menyatukan hati mereka kecuali dalam perkara haram yang sudah dibiasakan dalam masyarakat tersebut,” (Mathalib Ulin Nuha, 2/367).

 

MENJAGA KEHORMATAN TOKOH MASYARAKAT

Termasuk hikmah dalam dakwah adalah tidak menyinggung dan mencela tokoh yang dihormati oleh masyarakat yang didakwahi. Firman Allah, “Dan janganlah kalian mencaci maki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencacimaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan, (QS Al-An’am [6]: 108).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Allah mengharamkan mencaci maki sesembahan kaum musyrikin padahal mencela sesembahan mereka adalah suatuibadah. Ini karena mencela sesembahan mereka menjadi sebab mereka mencaci maki Allah, karena kemaslahatan mereka tidak mencaci maki Allah itu lebih kuat daripada kemaslahatan kita mencaci maki sesembahan mereka.”

Ketika mendakwahi Abu Jahal, Rasulullah saw memanggilnya dengan nama aslinya, Abul Hakam. Al-Mughirah bin Syu’bah ra berkata, “Sesungguhnya awal hari aku mengenal Rasulullah saw adalah ketika aku berjalan bersama Abu Jahal di Mekah. Kemudian kami bertemu dengan Rasulullah saw. Beliau berkata kepada Abu Jahal, ‘Wahai Abul Hakam! Marilah kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya! Aku mengajakmu kepada Allah,’” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, lihat pula Shahih As-Sirah An-Nabawiyah karya Al-Albani hal. 162).

Abul Hakam itu ditokohkan oleh masyarakat kafir Mekah. Mereka menamainya Abul Hakam (bapak bijaksana). Tetapi karena ia menolak dakwah Rasulullah saw, kaum Muslimin menjulukinya dengan Abu Jahal (bapak kebodohan). Namun, Rasulullah saw tetap memanggilnya Abul Hakam di depan orang kafir Mekah.

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter