Hilang Sabar Karena Anak Sering Mengamuk

Senin, 08 Oktober 2012 WIB |
2755 kali | Kategori: Ya Ummi


Ummi, saya ibu seorang anak berusia 9 tahun. Saya bingung menghadapi anak saya ini, sampai-sampai hilang kesabaran. Apa yang dia minta harus selalu dan segera dituruti. Kalau tidak dia marah, menangis menjerit-jerit, menggedor-gedor pintu, bahkan memukuli saya.

Saya berusaha membujuknya dengan halus. Tapi seringnya tak mempan, hingga habis kesabaran saya. Akhirnya saya pukul dan cubit dia, kadang saya tendang kakinya. Tapi, dia malah semakin menjadi-jadi.

Ummi, kondisi ini sering kali terjadi, saya jadi malu sama tetangga karena ribut terus dengan anak. Anak saya ini berani sekali dengan saya, tapi takut pada ayahnya. Tolong bantu saya bagaimana menanganinya?

 

KARTIKA, BEKASI

Jawaban  Syariah

Dalam mendidik anak, Rasulullah saw menyatakan, “Ajarkanlah anak kamu tentang shalat dan perintahkanlah untuk melaksanakannya. Dan jika telah berusia sepuluh tahun maka pukullah dia jika dia tidak mengerjakan shalat.”

Hadits ini menyiratkan pola pendidikan berdasarkan usia anak. Seorang anak hingga berusia 6 tahun adalah usia bermain. Lalu mulai usia 7 tahun diajarkan pengetahuan dan pelaksanaannya. Maka ketika memasuki usia 10 tahun, mulai diterapkan nilai-nilai kedisiplinan dalam melaksanakan apa yang telah diajarkan.

Tidak ada kata terlambat bagi Nanda untuk memperbaiki pendidikan terhadap anak. Seorang ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, sebagaimana ungkapan Al-Umm Madrasatul Uulaa(ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi seorang anak). Apa yang dilihat dan didengar anak di rumahnya, maka itu akan membentuk perilakunya. Bila kondisi dalam rumahnya baik, maka nilai kebaikan itu tertanam dalam dirinya. Sebaliknya, bila yang didapatinya buruk, maka keburukan itu tertanam pula dalam dirinya. Maka jadilah teladan yang baik bagi anak-anak.

Cobalah komitmen dengan ini semua dan mulailah dari diri Nanda. Memang, butuh waktu dan kesiapan untuk mengubah dan memperbaiki sikap anak Nanda.

 

Jawaban Psikolog

Nanda, bila kemarahan yang terjadi sifatnya meledak-ledak dan berlangsung tiba-tiba tanpa rencana, ada kemungkinan ia mengalami temper tantrum. Umumnya tantrum terjadi ketika anak berusia balita karena ia belum dapat mengekspresikan keinginannya secara tepat. Bila usianya sudah 9 tahun, maka penanganan serius perlu Nanda lakukan.

Yang perlu Nanda lakukan untuk mengatasi anak yang tantrum sebagai berikut:

  • Kenali dulu penyebab tindakan mengamuk yang dilakukannya. Apakah karena ia kecewa akibat keinginannya tidak terpenuhi, karena kelelahan, atau hal tersebut semacam protes kepada orangtua yang dianggap terlalu mengekang? Sifat dasar anak yang emosional juga bisa jadi penyebab.
  • Bila penyebab sudah ditemukan, penanganan dapat dilakukan sesuai akar masalahnya. Buat kesepakatan dengan semua yang terlibat dalam pengasuhan anak, seperti suami dan nenek, mengenai tindakan yang perlu dilakukan bila anak mengamuk.
  • Hendaknya orangtua jangan terpancing emosinya. Tindakan memukul dan mencubit anak hanya akan membuat anak belajar untuk mengatasi kemarahan dengan cara yang sama. Karena itu, dekati anak dan berikan pelukan sampai kemarahannya reda.
  • Sebaiknya tidak mengikuti kenginan yang dimintanya pada saat itu. Biarkan anak belajar, bahwa bila ia ingin meminta sesuatu, maka mengamuk bukan cara yang tepat untuk mengekspresikannya. Sikap tegas dan konsistensi dari orangtua akan membuat anak berlatih lebih disiplin.
  • Menggunakan teknik  “Sudut Diam”. Bila anak masih mengamuk, tuntunlah ia ke suatu tempat, misalnya di sudut ruang dengan sebuah kursi (disebut “kursi diam”), sehingga luapan emosinya mereda. Latih anak duduk di kursi tersebut hingga ia dapat menenangkan dirinya. Boleh juga meminta anak masuk ke kamarnya dan menenangkan diri, serta keluar menyapa bila sudah lebih tenang.
  • Memasuki usia SD biasanya kebiasaan mengamuk anak akan mereda. Namun bila kebiasaan ini  belum juga reda, perlu dilakukan pengecekan, apakah ada masalah emosi lain yang mengiringinya. Sebaiknya orangtua meluangkan waktu untuk berkonsultasi dengan ahlinya.

 

Jawaban Hukum

Mengenai anak yang suka mengamuk, menurut Ummi di situlah seninya menjadi orangtua. Kita harus selalu kreatif dan tertantang untuk menerapkan pola pendidikan, kedisiplinan dan komunikasi yang tepat untuk anak-anak kita. Dan semua harus tetap dalam kerangka yang disebutkan dalam UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 sebagai berikut:  

a. non diskriminasi;

b. kepentingan yang terbaik bagi anak;

c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

d. penghargaan terhadap pendapat anak.

Maka pendidikan dan pembinaan yang diberikan pun harus dalam kerangka ‘the best interest of the child’ (kepentingan terbaik buat anak), supaya anak-anak kita terjamin dan terpenuhi hak-haknya untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sesuai mandat Pasal 3 UU No. 23 tahun 2002.

Jauhkanlah kekerasan dalam pembinaan anak. Apalagi sejak tahun 2004 kita punya UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang terdiri atas kekerasan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga.  Kekerasan terhadap anak dapat masuk wilayah KDRT dan diancam dengan sanksi pidana, tak lagi menjadi urusan privat dan domestik.


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter