Berbahayakah Berhubungan Intim Saat Nifas?

Senin, 24 September 2012 WIB |
9607 kali | Kategori: Fikih Wanita


Assalamu'alaikum

Ustadzah Herlini, ada yang saya takutkan dan harus saya tanyakan kepada Ustadzah. Tiga hari setelah mendapat nifas, saya melakukan hubungan dengan suami. Apakah hal tersebut berbahaya? Bagaimana hukum berhubungan intim padahal istri masih dalam keadaan nifas? Syukran katsiran.

Wassalamu'alaikum

Ummu Diba, Sumedang

 

Wa'alaikumussalam

Ummu Diba yang baik, para ulama sepakat mengharamkan hubungan suami istri ketika istri dalam keadaan nifas. Kondisi nifas sama halnya dengan kondisi haid, yang merupakan masa pembersihan rahim dari darah.

Pengharaman hal tersebut tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah (2) ayat 222: “Mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid. Katakanlah, 'Haid itu adalah kotoran,' maka janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci...”

Bahkan, para ulama ada yang berpandangan apabila terjadi hubungan suami istri ketika nifas atau haid, maka wajib membayar kaffarah (denda karena telah melakukan pelanggaran). Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ketika mengomentari seorang suami yang mencampuri istrinya saat haid, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah ia bersedekah satu dinar atau separuh dinar,” (HR Ibnu Majah, Nasa’i). Ukuran satu dinar itu setara dengan 4,25 gram emas.

Bila melihat hadits yang disahihkan oleh Al Bani tersebut, maka wajiblah membayar kaffarah. Namun, sebagian ulama lainnya berpandangan bahwa hadits tersebut dianggap lemah. Para ulama berbeda pandangan dalam menentukan kaffarah tetapi mereka sepakat akan keharaman berhubungan saat haid/nifas. Di antaranya:

  1. Imam Malik, Imam Syafi’i (fatwa jadid), Ibnu Hazm dan Abu Hanifah berpandangan bahwa kaffarah itu bukan suatu kewajiban. Akan tetapi, pelakunya wajib memohon ampun kepada Allah swt dengan taubatan nashuha. Ia juga hendaknya menyesal dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi karena telah melanggar larangan-Nya dan telah melakukan perbuatan dosa.
  2. Imam Ahmad bin Hambal dan sebagian ulama hadits lainnya mewajibkan sedekah satu dinar atau setengah dinar.

Jadi, bagi yang mampu—dan ini sebagai wujud tobat kepada Allah swt—lebih baik bersedekah satu atau setengah dinar. Sedangkan untuk yang kurang mampu, maka cukuplah dengan bertobat dan tidak mengulangi lagi kesalahannya.

Terhadap orang-orang yang sudah mengetahui pengharaman perbuatan tersebut tapi masih melakukannya, berarti ia telah melakukan pembangkangan dan kedurhakaan atas hukum yang telah Allah swt dan Rasul-Nya tentukan, maka Allah-lah yang akan menghukum dan menghisabnya. Ini sama halnya dengan perintah shalat, kita tahu tapi di antara kita ada pula yang tak melaksanakannya, atau soal khamar, kita dilarang untuk meminumnya tapi masih juga dilakukan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka dan kepada kita semua.

Bagian dari keyakinan kita sebagai umat Islam terhadap ajaran Islam adalah wajib. Sesuatu yang telah dilarang oleh Allah atau Rasul-Nya tak lain adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu juga dengan larangan berhubungan intim saat istri mengalami nifas. Dari sisi medis pun telah terbukti bahwa berhubungan di masa nifas dapat membahayakan si ibu. Wallahu a’lam.

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter