Meraih Cinta Allah dan Cinta Manusia dengan Cara Zuhud

Kamis, 06 September 2012 WIB |
2028 kali | Kategori: Kajian Hadits


Hadits Arba'in Nomor 31

Bagian Satu

 

 Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

 

            Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'idi, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang jika aku melakukannya niscaya aku dicintai Allah dan dicintai manusia!” Maka Rasulullah saw menjawab: "Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, niscaya engkau dicintai Allah, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia (dimiliki oleh mereka), niscaya engkau dicintai manusia.”

 

(Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan oleh lainnya dengan isnad-isnad yang hasan).

 

Takhrij hadits

Hadits Arba’in Nawawi yang ke-31 ini, sebagaimana telah dikutip di atas, dinilai sebagai hadits hasan. Maksudnya, hadits ini termasuk hadits yang bisa diterima dan dapat dijadikan dasar hukum atau hujjah atau argumentasi.

Penilaian hadits ini sebagai hadits hasan juga dibenarkan dan diikuti oleh Syekh Nashiruddin Al-Albani dalam beberapa kitab beliau, di antaranya dalam kitab Tahqiq Riyadhush-Shalihin pada hadits no. 476. Juga dalam Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah pada hadits no. 944.

Namun, sebagian ulama lainnya menilai bahwa hadits ini tidak bisa naik derajatnya dari hadits dho’if. Al-Imam As-Sakhawi, misalnya, dengan mengutip pendapat gurunya, yaitu Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani, berkata: “Hadits Sahl bin Sa’d ini (maksudnya yang menjadi hadits Arba’in yang ke-31 ini) bukanlah hadits shahih, dan isnad-nya tidak bisa dikatakan hasan (lihat Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘Alal Adzkar An-Nawawiyah, karya Ibnu ‘Allan Ash-Shiddiqi, VII/337).

Dan pendapat inilah yang diikuti oleh para peneliti hadits kontemporer, semisal Syekh Abu Ishaq Al-Huwaini. Yang benar adalah bahwa hadits ini mursal, maksudnya: ucapan seorang tabi’in yang disandarkan kepada Rasulullah saw. Wallahu a’lam.

 

Kedudukan hadits

Hadits Arba’in Nawawi yang ke-31 ini sangat penting bagi seorang Muslim, khususnya para aktivis dakwah. Sebab, ia menjelaskan tentang cara menggapai cinta Allah subhanahu wa ta'ala dan cinta manusia sekaligus. Siapakah yang tidak menginginkan untuk mendapatkan dua cinta ini sekaligus?

 

Kandungan hadits

Secara garis besar hadits ini mengandung satu pelajaran penting, yaitu bagaimana cara mendapatkan dan menggapai cinta Allah swt dan cinta manusia sekaligus. Bila lebih diperjelas, hadits ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:

  1. Semangat sahabat Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan bimbingannya dalam menggapai berbagai hal yang dapat membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat.
  2. Bahwa cara untuk menggapai cinta Allah swt adalah dengan cara zuhud di dunia, dan
  3. Bahwa cara untuk mendapatkan cinta dari sesama manusia adalah dengan cara zuhud terhadap apa yang dimiliki oleh manusia (orang lain).

 

Pengertian zuhud

Kata kunci dari hadits Arba’in Nawawiyah ke-31 ini adalah zuhud. Oleh karena itu, ia perlu mendapatkan kajian dan penjelasan, wallahu waliyyut-taufiq.

Ibnu Rajab Al-Hanbali (736 – 795 H / 1336 – 1393 M), seorang ulama yang mengulas kitab Arba’in berkata: “Ungkapan para ulama salaf dan generasi setelah mereka berbeda-beda, namun substansinya tidaklah jauh berbeda.”

Yang jelas, zuhud bukanlah sikap:

  • Seseorang yang meninggalkan dunia secara keseluruhan, lalu ia i’tikaf di masjid, meninggalkan anak istri dan keluarga, yang berakibat mereka meminta-minta kepada orang lain.
  • Seseorang yang selalu tampil miskin dengan pakaian lusuh, compang-camping dan kasar.
  • Seseorang yang tampil mengenaskan karena lapar, haus, papa dan nestapa.
  • Seseorang yang hidup di bawah kolong, tidak punya rumah alias tunawisma, atau yang semacamnya.

 

Orang-orang yang semacam itu mungkin lebih pas kalau dikatakan sebagai mutazahhidah, yaitu orang-orang yang sok zuhud.

Zuhud pada hakekatnya merupakan pekerjaan hati (a’malul qulub), yang bisa saja mewujud dalam tataran a’mal jawarih atau amalan-amalan lahiriah. Jadi, substansinya adalah urusan hati, dan bukan penampilan.

Agar lebih jelas, penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Tataran hati: Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat disertai dengan ke-tsiqah-an (kepercayaan hati) terhadap apa-apa yang ada di sisi Allah swt.
  2. Tataran lahiriah: Zuhud adalah meninggalkan fudhulul mubahat (hal-hal mubah yang berlebih) selama ia tidak menjadi penolong untuk taat kepada selain Allah swt.

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter