Kaidah-kaidah Dakwah (Bagian Kedua)

Rabu, 29 Agustus 2012 WIB |
1201 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


Allah swt memberi aturan atau kaidah yang harus ditaati dalam berdakwah agar dakwah berbuah hasil dan tidak kontraproduktif dengan tujuannya. Karenanya pada setiap langkah dakwah kita, perlu mengemuka pertanyaan-pertanyaan evaluatif.

Sebagaimana Imam Ibnul Qoyyim telah menyampaikan pertimbangan dalam pelaksanaan amar makruf nahi mungkar, seperti: Apakah kemungkaran tersebut akan hilang dan berganti dengan sebaliknya? Ataukah kemungkaran berkurang namun tidak bisa dihapus sama sekali? Kemudian apakah kemungkaran itu berganti dengan kemungkaran lain yang serupa? Atau kemungkinan kemungkaran tersebut justru berganti dengan kemungkaran yang lebih parah lagi?

Sebagian kaidah dakwah untuk menghilangkan kemungkaran tersebut sudah kita urai dalam pembahasan sebelumnya. Berikut lanjutan kaidah dakwah yang tidak boleh ditinggalkan pelaku dakwah yang ingin amalnya membuahkan hasil postif.

6. Al-ushul qabla al-furu (Perkara pokok sebelum perkara cabang)

Al-ushul dalam Islam adalah masalah-masalah pokok terkait dengan keimanan dan komitmen dengan syahadatain (laa Ilaaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah) yang akan mengubah total cara pandang dan sikap hidup seorang Muslim.

Masalah ushul inilah yang menjadi sentral bahasan Nabi pada periode dakwah di Mekah selama kurang lebih 13 tahun. Tugas pokok setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada manusia adalah untuk memahamkan ushul ini, seperti tertuang dalam Al-Qur'an surat An-Nahl (16) ayat 36.

Dalam masalah-masalah cabang yang bersifat amaliah praktis, sering terjadi ikhtilaf karena pandangan fikih yang berbeda terhadap nash, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas orang yang memahaminya. Berbeda dengan ushulmasalah-masalah pokok agamasebagian besar tema pokok akidah Islam tidak diperselisihkan, kecuali beberapa tema, seperti masalah iman dan kufur antara beberapa mazhab dan takdir yang melahirkan beberapa sekte dalam Teologi Islam. Meski demikian, dalam masalah yang prinsip, yaitu syahadatain, mereka sepakat.

Jadi jangan sampai isu-isu agama yang sifatnya furu menjadi ushul, atau yang sifatnya furu merusak ushul hanya karena perbedaan pandangan. Inilah yang dimaksud fiqh aulawiyat dalam dakwah, yaitu dai harus selalu memahami masalah ushul dan furu dalam agama agar ia mampu mengarahkan umat secara proporsional.

Dai yang tidak memahami masalah ushul dan furu akan menjadikan dakwah tak menuai maslahat, bahkan kontraproduktif bagi dakwah itu sendiri. Ushul harus lebih didahulukan daripada furu karena furu dapat dilaksanakan dengan baik dan benar ketika ia berpijak pada ushul yang baik dan benar pula.

7. At-targhib qabla at-tarhib (Memberi harapan sebelum ancaman)


Islam memuat targhib (harapan) dan tarhib (ancaman). Namun, mad'u bisa saja lari dari dakwah ketika dai selalu menghadapkannya kepada tarhib sehingga dakwahnya terkesan menakutkan. Padahal dakwah seharusnya menjadikan madu akrab dengan Islam, dan salah satu pedoman untuk dapat mengakrabkan dai kepada Islam adalah mengarahkan madu untuk dapat memahami hal-hal targhib (kabar gembira dan harapan) sebelum tarhib.

Seorang dai harus selalu memberikan semangat kepada madu-nya untuk dapat beramal. Dan jika ia (mad'u) melakukan dosa, harus diberi harapan besar bahwa Allah selalu membuka pintu tobat bagi siapa pun. Dengan cara itu dakwah, insya Allah, akan menuai hasil yang diharapkan. Sebagaimana dakwah Nabi saw, memperlakukan para dengan kasih sayang, memberi motivasi kuat agar semangat beramal dan tidak berputus asa karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.

8. At-tafhim la at-talqin (Memberikan pemahaman bukan mendikte)

Dakwah adalah upaya mengubah dan mentransformasi manusia agar dapat melakukan tuntutan ajaran Islam. Untuk merealisasikannya, dai harus selalu memahamkan ajaran Islam itu secara baik agar dapat diamalkan atas dasar kepahaman, bukan keterpaksaan. Itulah makna dakwah ala bashirah dan hujjah (lihat QS Yusuf [12]: 108 )

Dakwah harus dapat memahamkan madu terlebih dahulu dengan ajaran Islam yang benar, memerhatikan kondisi madu-nya dengan baik dari sisi latar belakang pemahamannya.

Dakwah yang mendikte madu untuk melakukan amalan tanpa proses pemahaman sebelumnya akan menyebabkan dakwah kurang atau bahkan tidak direspons baik. Sebab, Islam adalah ajaran yang memerintahkan umatnya untuk beramal atas dasar ilmu (lihat QS Al-Isra [17]: 36).

9. At-tarbiyah la at-tariyah (Mendidik bukan menelanjangi)

Menjaga kehormatan adalah termasuk dari tujuan syariat Islam. Karena itu dakwah harus selalu berupaya memberi didikan yang baik kepada madu; tidak menelanjangi setiap kali ada hal yang tidak bersesuaian dengan agama. Tapi bukan berarti dai diam menghadapi madu yang melakukan kemaksiatan. Kemaksiatan harus dihilangkan, hanya caranya tidak sampai menelanjangi madu, terlebih dilakukan di hadapan khalayak. Nabi saw bersabda, Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat, (HR Ibnu Majah, no. 2544).

Al-Quran memberi petunjuk cara meniadikan kemungkaran dengan hikmah (arif dan bijaksana), mauidzah hasanah (nasihat-nasihat yang baik) dan seandainya harus berdebat, lakukanlah dengan cara yang baik (mujadalah bi al-husna). Allah swt berfirman, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik... (QS An-Nahl [16]: 125).

10. Tilmidzu imam la tilmidzu kitab (Muridnya guru bukan muridnya buku)

Guru adalah narasumber ilmu pengetahuan yang menjadi ayah psikologis, syaikh dalam tarbiyah, komandan dalam hal kebijakan-kebijakan di lapangan dakwah (Miswan Thahadi, hlm. 37).

Banyak hal yang kita harapkan dari guru dan tidak didapatkan dari buku, yaitu berkah dan doa. Berkah karena keikhlasan hubungan antara murid dan guru diikat dalam kebutuhan keilmuan dan akhlak. Guru pun akan membentuk kepribadian murid secara maksimal. Tentu hal ini berbeda dengan buku yang hanya diam dengan si pembacanya.

Dalam bahasa ulama qiroat Al-Quran dan hadits talaqqy adalah salah satu cara belajar yang baik, karena pemahaman seseorang dibatasi oleh kondisi-kodisi tertentu sebelumnya, sementara buku yang telah dikaji sebelumnya oleh seseorang di hadapan guru pasti lebih utuh dipahami.

Cara belajar seperti ini dapat dilihat dari cara para sahabat yang belajar Al-Quran kepada Nabi saw. Meski mereka orang Arab asli yang bahasanya belum banyak terkontaminasi, tetap saja mereka berguru kepada Nabi untuk memahami ayat-ayat Al-Quran dan cara yang benar dalam membacanya (Muhamad Jumah Amin, hlm. 229).


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter