Gula Tambahan Picu Obesitas

Kamis, 09 Agustus 2012 WIB |
736 kali | Kategori: Kesehatan


Orangtua harus memonitor asupan gula tambahan pada buah hati. Jika berlebih, anak terancam obesitas dan berisiko terkena penyakit kronis.

 

 

Saat ini Indonesia memiliki beban ganda masalah gizi. Selain harus menghadapi kasus kekurangan gizi pada beberapa kelompok masyarakat, pemerintah masih harus memerangi masalah gizi lebih. Persoalan ini menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit degeneratif serta ancaman tersembunyi bagi masa depan anak Indonesia.

 

Hasil penelitian memaparkan, untuk asupan gula harian—sukrosa, glukosa, fruktosa dan laktosa—memberi kontribusi lebih dari 10% terhadap total kalori.  Asupan gula terbanyak adalah sukrosa 49,45 (11,10 – 136,90) gram. Paling dominan berasal dari konsumsi susu.

 

“Persentase ini telah melebihi batas ambang yang direkomendasikan WHO. Orangtua harus mewaspadai asupan gula tambahan pada anak. Jangan sampai berlebihan,” pesan dokter spesialis tumbuh kembang anak Dr dr Rini Sekartini, SpA(K). Jika berlebih, anak mudah mengalami obesitas. Para orangtua harus pula mempelajari nilai gizi makanan dan minuman, sekalipun dianggap sehat.

 

Melalui metode analisis data produk, jika anak meminum tiga gelas susu per hari sama saja telah mengkonsumsi 12 sendok teh gula tambahan. Perhitungan lebih lengkap, dapat dipantau di www.cekgula.com.

 

Obesitas anak dan remaja di sejumlah negara termasuk Indonesia, antara lain, disebabkan asupan gula tambahan berlebih yang dikonsumsi anak.

 

          

Kasus obesitas meningkat

 

Penelitian terbaru Medical Research Unit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia terhadap 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak dan satu Pendidikan Anak Usia Dini mengungkap hasil yang mencengangkan. 

 

Kompilasi data status gizi yang dilakukan pada penelitian itu menunjukkan sebagian besar anak memiliki status gizi baik, tak ada anak yang menderita gizi buruk, namun justru ditemukan 7,7% gizi lebih. Sebanyak 20% anak mengalami obesitas di TK dan 17,1% di PAUD.

 

Angka prevalensi anak-anak usia dini yang mengalami kegemukan dan obesitas ini lebih tinggi dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 sebesar 12,2% (anak di bawah usia 5 tahun) dan Riskesdas 2010 sebesar 14 % (19,6% untuk Jakarta).

 

Berdasarkan Riskesdas 2010, prevalensi balita gemuk paling tinggi terjadi di Jakarta. Provinsi lain yang prevalensi balita gemuknya tinggi, antara lain, Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Bali, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Aceh, Papua Barat, dan Jawa Barat.

 

Untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak, sesuaikan asupan gula tambahan yang telah direkomendasikan WHO, yakni tidak melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi.

 

Jika mengacu pada AKG Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun tidak disarankan mengkosumsi lebih dari 25 gram gula tambahan/hari atau setara lima sendok teh. Untuk usia 4-6 tahun tidak melebihi 38 gram gula tambahan/hari, setara delapan sendok teh.

 

Kesehatan anak usia 3-6 tahun dipengaruhi sejumlah faktor. Langkah penting yang perlu diperhatikan orangtua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, menurut Rini, dengan cara lebih rajin memberi nutrisi dan stimulasi pada anak. Selain fisik, anak yang sehat harus memiliki perkembangan sesuai usianya, tingkat kecerdasan yang optimal, tanpa disertai masalah emosi dan perilaku.

 

Sebaliknya, jika setiap hari anak mengkonsumsi gula tambahan secara berlebihan, energi pada tubuh dapat menyebabkan obesitas, karies gigi dan membangun kebiasaan pola makan kurang baik saat anak-anak beranjak dewasa. Rini pun menyarankan, edukasi terhadap asupan nutrisi, aktivitas fisik dan pencegahan karies harus selalu diberikan kepada orangtua yang memiliki anak balita.

 

 

Kenali gula tambahan

 

Lantas, bagaimana kita menghitung asupan gula tambahan pada anak. Menurut ahli gizi Marudut BSc, MPS, orangtua perlu meneliti label kandungan gula dalam kemasan secara cerdas, termasuk di dalam produk susu anak. “Cermati jumlah total karbohidrat dan total gula tambahan,” sarannya. Dalam label pangan tersebut, teliti pula komposisi (ingredient) dan informasi nilai gizinya.

 

Terdapat dua jenis gula, yaitu gula alami dan gula tambahan. Gula alami, gula yang komponen penyusun makanannya ada secara alamiah. Contohnya, gula dalam tebu (sukrosa), gula dalam buah (fruktosa), dan gula dalam susu (laktosa).

 

Sedangkan gula tambahan, yakni gula yang diperoleh dari bahan makanan dan melalui proses kimiawi. Jenis gula ini ditambahkan dalam proses pembuatan suatu produk makanan. Dikenal dengan istilah added sugar. WHO mengistilahkannya dengan free sugar. Misalnya, gula pasir dalam pembuatan sirup, jus buah dan gula pasir dalam pembuatan tepung susu.

 

Membatasi asupan gula tambahan sangat penting untuk mencegah anak dari obesitas. Apalagi penyakit ini seperti momok yang menakutkan. Obesitas pada anak dan remaja telah menjadi ancaman tersembunyi bagi masa depan generasi bangsa. Karenanya konsumen harus jeli mencermati gula tambahan yang dicampur dalam suatu produk olahan.

 

Dokter spesialis anak endokrin FKUI dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) menjelaskan, dampak buruk obesitas berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke) serta diabetes melitus tipe 2.  Penyakit tersebut menjadi masalah kesehatan paling serius di abad ini. Jika dijumpai tanda mencurigai pada anak, lakukan skrining sindrom metabolik dan diabetes. “Sejak dini, latih anak-anak untuk menghindari makanan dan minuman yang manis,” tegas Aman.

 

Pencegahan lebih penting dari pengobatan. Karena itu, jangan lalai mencermati asupan gula tambahan pada anak. 

Rudi Agung


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter