Unsur-unsur Dakwah

Rabu, 01 Agustus 2012 WIB |
2782 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


Dakwah menempati kedudukan yang sangat penting, utama dan strategis. Karenanya ia sangat menentukan perkembangan Islam. Dakwah dalam konteks kemasyarakatan merupakan jalan utama menuju kebaikan umat. Dakwah juga menjadi jalan tegaknya keadilan di muka bumi.

 

Sebagaimana firman Allah subhanallahu wa ta'ala dalam surat Al-Baqarah ayat 143:

 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan [yang adil dan pilihan] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

 

Agar dakwah berlangsung tepat sasaran, maka unsur-unsur dakwah yang telah kita bicarakan sebelumnya (lihat bagian satu tulisan ini) tidak boleh diabaikan.

 

Unsur dakwah yang akan kita bahas kini adalah metode dan sistem dalam berdakwah (al-asalib). Keduanya termasuk komponen yang sangat menentukan efektivitas dan efisiensi kegiatan dakwah.

 

Metode dakwah (al-asalib)

Uslub adalah suatu cara yang ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan—rencana sistem, tata pikir manusia.

 

Dalam hal dakwah, metode dakwah merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh para juru dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam.

 

Secara garis besar ada tiga pokok metode dakwah, yaitu:

 

>> Bi al-hikmah, berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah, dengan menitikberatkan pada kemampuan mereka, agar mudah dimengerti dan mereka tidak bosan dengan apa yang disampaikan.

 

>> Mau’izatul hasanah, berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran Islam dengan rasa kasih sayang (lemah lembut), sehingga apa yang disampaikan bisa menyentuh hati obyek dakwah (al-mad’u).

 

>> Mujadalah billati hiya ahsan, berdakwah dengan cara berdiskusi, berdialog dalam kerangka ilmiah. Dengan ini, seorang dai dapat mengetahui apa yang menjadi pertanyaan oleh sekelompok orang atau individu tentang suatu masalah dalam kehidupan.


Unsur-unsur dakwah di atas erat kaitannya dengan komponen-komponen komunikasi yang pada hakikatnya tidak ada perbedaan sama sekali dengan dakwah. Seperti:

 

  1. Dai atau juru dakwah = komunikator, sender, source.
  2. Mad’u = komunikan, receiver, penerima, objek.
  3. Pesan = message, yakni materi keislaman/nilai-nilai atau ajaran Islam).
  4. Efek = feedback. Dalam dakwah, efek yang diharapkan berupa iman dan amal saleh/takwa).

 

 

Dengan demikian, seluruh unsur pokok dakwah tersebut harus ada dan tidak bisa dipisahkan dalam proses dakwah itu sendiri. Peran masing-masing unsur amat berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan lainnya.

 

Sebenarnya unsur di atas dapat disederhanakan menjadi dua saja, yaitu orang (mad’u dan dai) dan manhaj (metode, media dan pesan). Dan kedua-duanya—dalam Islam—dipayungi oleh prinsip-prinsip Rabbani.

 

Artinya, orang dan sistem yang menggerakkan dakwah harus berpegang kepada aturan yang telah Allah swt tetapkan. Unsur orang (mad'u dan da’i) pada kondisi yang benar, keduanya dalam proses interaksi yang aktif menuju pemahaman dan pelaksanaan Islam secara keseluruhan. Ada ta'liful qulub (keterkaitan hati) serta hubungan yang penuh rahmah. Sehingga interaksi keduanya di dalam bahu-membahu menegakkan dakwah selalu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

 

Sistem Dakwah (manhaj)

Unsur sistem (manhaj) menentukan arah dan tujuan dakwah, serta metode dan cara pelaksanaan dakwah. Dalam Islam, semuanya bermuara pada bagaimana manusia menghambakan diri kepada Allah secara benar.

 

Jika ini telah tercapai, maka misi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, insya Allah, akan tercapai. Karena, tidak akan ada output berupa rahmat manakala input yang masuk ke dalam dirinya tidak berasal dari Allah swt.

 

Artinya, hanya dengan penyerahan total seluruh hidup ke dalam sistem Allah-lah yang membuat seseorang tinggi dimensinya dan tidak hanya terbatas kepada dunia dan ego semata.

 

Insya Allah, dengan Kitabullah sebagai manhaj, dakwah akan menuju kesejatian yang sesungguhnya. Hikmah akan bertaburan di medan dakwah, orang bijak makin banyak terlibat, para intelektual semakin bersemangat.

 

Pengetahuan yang mereka miliki itu membuat mereka dapat memilih metode dan materi apa yang tepat untuk diberikan kepada sasaran dakwah yang dihadapi. Hasilnya, aktivitas dakwah yang dilakukan akan mendapat respons positif dari mad’u, yang pada akhirnya memudahkan dai mendapatkan keberhasilan dalam tugas dakwahnya.

 

Dengan memahami seluruh unsur yang berhimpun dalam kegiatan dakwah, yaitu pesan dakwah, manusia yang dihadapi, medan dakwah, ruang dan waktu, metode yang sesuai, hingga daya penggerak untuk suatu langkah yang tepat, seorang dai dapat menentukan dan menjalankan dakwah yang efektif.

 

Ukuran sukses dakwah

Sukses tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur dari gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya. Bukan pula dari ratap tangis mereka.

 

Kesuksesan tersebut diukur antara lain melalui atsar, yaitu bekas yang ditinggalkan di benak pendengarnya ataupun kesan yang terdapat dalam jiwa yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka.

 

Untuk mencapai sasaran tersebut tentunya semua unsur dakwah harus mendapat perhatian para dai. Wallahu a'lam.


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter