Unsur-unsur Dakwah

Senin, 23 Juli 2012 WIB |
1460 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


Tidak ada keraguan bahwa dakwah merupakan bagian integral dari agama Islam yang bersifat sistematis, terencana dan terprogram bagi pencapaian tujuan dakwah itu sendiri.

Karenanya, tugas dakwah tidak dapat dipikul oleh segelintir orang. Tugas dakwah adalah tugas umat secara keseluruhan, bukan monopoli golongan yang disebut ulama atau cendekiawan.

Bagaimana suatu masyarakat akan bergerak maju apabila anggota masyarakatnya yang memiliki ilmu sedikit, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, tidak bersedia mengembangkan apa yang ada pada mereka untuk sesamanya. Dan bagaimana pula suatu masyarakat akan selamat bila elemen-elemennya sama-sama diam, masa bodoh terhadap kemungkaran.

Sedangkan dalam konteks individu, dakwah menjadi salah satu penentu tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Begitu juga dalam konteks kedua, yaitu masyarakat, dakwah merupakan aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bermasyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara teratur untuk memengaruhi cara berfikir, berperasaan, bersikap, dan bertindak dalam mewujudkan ajaran Islam di seluruh sendi kehidupan.

Agar tuntutan di atas bisa terwujud, maka kita harus memahami unsur-unsur yang terkait dengan dakwah ini. Unsur-unsur dakwah yang dimaksud di sini adalah keseluruhan aspek yang terkait langsung dalam proses dakwah, meliputi: subyek, obyek, materi, metode, dan media dakwah.

Unsur-unsur ini adalah suatu komponen atau bagian yang terdapat dalam setiap kegiatan dakwah. Hubungan antarunsur tersebut sangat menentukan efektivitas dan efisiensi dalam dakwah.

a. Subyek Dakwah (ad-dai)

Subyek dakwah (dai) adalah orang yang melakukan aktivitas dakwah. Yaitu, orang yang berusaha mengubah situasi yang sesuai dengan ketentuan Allah swt, baik secara individu maupun kelompok (organisasi), sekaligus sebagai pemberi informasi dan pembawa misi.

Sebenarnya setiap Muslim dapat menjadi subyek dakwah dan pada waktu yang lain bisa menjadi obyek dakwah (penerima dakwah). Seorang dai hendaklah mengetahui cara menyampaikan dakwah tentang Allah, alam semesta, dan kehidupan, serta apa yang dihadirkan dakwah untuk memberi solusi terhadap problema yang dihadapi manusia. Juga, cara-cara yang dihadirkannya untuk menjadikan pemikiran dan perilaku manusia tidak salah dan tidak melenceng.

Allah swt berfirman, Katakanlah (Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik, (QS Yusuf [12]: 108).


b. Obyek Dakwah (al-madu)

Obyek dakwah adalah penerima dakwah (madu). Yakni, seluruh umat manusia, termasuk dai itu sendiripada lain waktu ia juga menjadi obyek dakwah. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa penerima dakwah Islam adalah seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Setiap manusia berhak menerima dakwah, selama ia berakal, laki-laki atau perempuan, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, pekerjaan, daerah, tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Allah berfirman, ... Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya, (QS Ali Imran [2]: 79).

Pada ayat tersebut, Allah menyuruh setiap Muslim menjadi dai (mengajarkan Kitab) dan menjadi madu (mempelajari Kitab). Tidak boleh hanya mau menjadi madu dan tidak mau menjadi dai.

c. Pesan Dakwah (al-maudhu)

Pesan dakwah adalah wahyu dan tuntunan yang sempurna yang dibawa oleh para nabi dan rasul, kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh dakwah (dai, mubaligh) dengan satu tujuan: amar makruf nahi mungkar, dalam kondisi dan situasi bagaimanapun.

Jadi, al-maudhu adalah isi pesan atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh subyek dakwah kepada obyek dakwah, yaitu keseluruhan ajaran Islam, yang bersumber pada Al-Quran dan Hadits.

Secara umum maudhu dakwah dapat diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok, yaitu: akidah (keimanan); syariah (hukum); muamalah (hubungan sosial); dan, masalah akhlak (tingkah laku).

Dengan demikian, pesan dakwah, sekalipun dalam habitat amar makruf nahi mungkar, tetap ia memiliki ketentuan. Artinya, ia jelas pesan dakwah dan bukan pesan pendidikan, ia jelas pesan dakwah dan bukan pesan pengadilan, ia jelas pesan dakwah dan bukan pesan kedokteran.

d. Sarana Dakwah (al-wasail)

Berdakwah harus disampaikan dengan cara cara yang santun, beradab dan menjunjung tinggi martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah di muka bumi. Apalagi, secara faktual kondisi objek dakwah atau sasaran dakwah Islam sangat heterogen, dilihat dari sisi pemahaman dan pengamalan keagamaannya, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, lingkungan kerja, tempat tinggal, dan lain lain.

Semua itu akan berpengaruh pada pola pikir dan perilaku mereka, termasuk dalam merespons dakwah yang dilakukan oleh para dai atau mubaligh.

Tahukah kalian kepada siapa api neraka diharamkan? Para sahabat menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Nabi bersabda: 'Kepada orang yang lemah lembut, mudah dan dekat,' (HR At-Tirmizi).

Oleh karena itu, dakwah membutuhkan sarana-sarana yang membuatnya dapat mencapai berbagai kalangan. Sarana atau media dakwah adalah perangkat yang digunakan pelaku dakwah (ad-dai) agar diterima oleh obyek dakwah (al-madu), di antaranya:

  • Dakwah bil-lisan, berpidato, ceramah, diskusi, bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.
  • Dakwah bil qalam, membuat karya tulis, menulis artikel, menulis surat pembaca, dan lainnya.
  • Dakwah bil ilami, melalui televisi, radio, majalah, koran, blog, twitter, facebook, dan lain-lain.
  • Dakwah bil-haal, terwujud dalam perbuatan-perbuatan nyata dan mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat, dirasakan dan diteladani oleh madu.

Bersambung


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter